KISAH CINTA, ANISA 08

Di SMA Negeri 1 biru putih, Nisa dan ketiga kawannya, masih duduk santai di bawah pohon mangga. Mereka menunggu waktu dhuhur, sambil ngobrol tentang film dan novel.


"Kalian pernah baca cerita horor apa enggak si?" Tanya, Nisa.

"Pernah, Nis novel midnight karya, Daniel Ahmad." Jawab, Lina.

"Midnight yang mana? Midnight kan ada dua, ada midnight restaurant dan midnight hospital." Sambung, Fitri.

"Aku punya dua-duanya, aku kebetulan suka sama novel horor." Respons, Lina.

"Itu beli bukunya di mana, Lin?" Tanya, Nisa.

"Kamu beli aja di toko buku, di sana sudah ada buku midnight." Respons, Lina lagi.


Nisa mengangguk paham dengan penjelasan kawannya, ia membayangkan beli aneka buku kesayangannya.


"Kalau, aku lebih suka film dari pada novel, apalagi film horor. Adegannya itu terasa banget, benar-benar seperti di dunia nyata." Sambung, Lisa.

"Kalau aku suka dua-duanya, baik film ataupun novel soalnya dua-duanya sama-sama serunya. Kamu biasanya nonton film apa?" Respons, Fitri.

"Aku kalau film horor, sih pengabdi setan sama perempuan tanah jahanam, kalau  film komedi sih susah sinyal. Kamu sendiri film apa, yang sudah pernah ditonton?" Kata, Lisa.

"Aku yang sudah pernah nonton, itu film mari posa sama film ivana, alurnya seru juga sih." Respons, Fitri.

"Terus kalau novel, apa yang sudah pernah baca?" Tanya, Nisa.

"Novel trilogi jingga karya, Esti Kinasih. Soalnya bagus banget ceritanya, aku aja kadang sampai baper sendiri, kalau pas baca." Jawab, Fitri.


Lina dan Nisa manggut-manggut mengiyakan karena, mereka juga suka dengan novel trilogi jingga.


Waktu zuhur telah tiba, suara adzan terdengar nyaring, dari masjid yang ada di dalam sekolahan. Nisa dan ketiga kawannya, langsung bersiap-siap untuk berjamaah di masjid. Mereka ke kelas menyimpan kotak makan yang sudah enggak ada isinya, lalu mengambil wudhu, bergantian dengan para siswa yang lainnya.


Sholat dhuhur berjalan dengan lancar, tanpa kendala apapun, pak Ahmad yang memimpin shalat dengan hikmat.


Sementara di sekolahan sebelah, Toni, Adnan dan Imam bergegas kemasjid, kawan-kawan yang sudah pada kumpul di sana. Begitu pula dengan bapak ibu guru dan seluruh kakak-kakak kelasnya.


"Yang wudhu siapa dulu ni?" Tanya, Imam.

"Kamu dulu aja, aku nanti yang terakhir." Jawab, Toni.


Imam pun mengikuti saran temannya, ia langsung ke tempat wudu, untungnya saja sudah kosong, enggak ada yang mengambil air wudhu. Imam selesai mengambil air wudhu, Adnan menyusul mengambil air wudu agar enggak ketinggalan shalat, Toni yang wudhu paling terakhir, lalu menuju barisan shalat paling belakang. Shalat berjalan dengan lancar tanpa kendala, enggak ada yang bercanda, enggak ada yang batal, pak Ridwan yang memimpin salat dengan hikmat.


Sementara di SMA Negeri 1 biru putih, baru selesai melaksanakan shalat dhuhur.


"Pelajaran jam terakhir sejarah kan?" Tanya, Lisa.

"Iya emang bener pelajaran sejarah, emangnya kenapa si? Kamu belum belajar, takut kalau salah jawab pertanyaan, takut kena hukuman?" Jawab, Nisa.

"Enggak si, aku cuma tanya aja." Sahut, Lisa.

"Pelajaran sejarah enggak ada pr kan?" Tanya, Fitri.


Lina yang teman sebangkunya menggeleng, meng-respons pertanyaan Fitri sambil tersenyum.


Pak Ahmad masuk kelas dengan membawa buku tebal, tentang berbagai sejarah, beliau memulai pelajaran dengan tegas. Beliau menjelaskan tentang kerajaan-kerajaan islam di Indonesia, dengan jelas dan detail tak ada sedikitpun yang terlewatkan.


"Nyatatnya minggu depan, ya, anak-anak! Minggu ini tak terangkan dulu, biar paham tentang sejarah kerajaan-kerajaan Indonesia!" Ucap, pak Ahmad sambil membuka buku.


Para siswa mengangguk mengiyakan, lalu mendengarkan apa yang dijelaskan, pak Ahmad dengan serius. Waktu menunjukkan pukul 14.20, pak Ahmad mengakhiri pelajaran sejarah, lalu meninggalkan kelas.


Nisa, Lisa dan anak-anak yang lain mengemasi barang-barang, mereka agar enggak ada yang tertinggal. Setelah itu, mereka berjalan menuju angkutan yang akan mengantar ke desa, mereka masing-masing.


Sementara di sekolahan sebelah, Toni dan kawan-kawan, mencatat pelajaran agama, pak Ridwan menuliskan materinya satu bab penuh, di papan tulis.


"Kita minggu ini nyatat, ya, anak-anak! Karena, bapak minggu kemarin, kalian kalau cuma diterangkan, takutnya pada lupa!" Ujar, pak Ridwan.


Para siswanya mengiyakan, terus mengeluarkan buku untuk mencatat.


"Ton nyatatnya serius banget? Kamu sudah enggak sabar, ingin pulang, ya?" Tanya, Adnan sambil berbisik.


Toni hanya memberi jawaban dengan anggukan, ia takut kelepasan ngomong keras. Toni mencatat dengan fokus, biar enggak ada yang salah tulis.


"Kalau nyatat jangan sambil ngobrol! Pak Ridwan kalau dengar, kalian bisa-bisa dihukum, loh!" Kata, Imam sambil berbisik juga.

"Yang ngomong perasaan, aku doang, Toni diam aja. Kamu kenapa bilangnya, kalian kaya yang bicara dua orang aja." Kata, Adnan.


Imam akan merespons ucapan kawannya, sudah dicurigai, pak Ridwan sehingga, Imam kembali fokus menulis. Adnan juga melakukan hal yang sama ia enggak mengajak ngobrol, Imam maupun Toni selama pelajaran berlangsung.


Tanpa terasa waktu menunjukkan pukul 14.20, pak Ridwan mengakhiri pelajaran agama, lalu meninggalkan kelas. Toni dan para siswa yang lainnya mengemasi barang-barang, agar enggak ada yang tertinggal. Setelah itu, mereka sama-sama berjalan menuju angkutan, yang akan membawa, mereka pulang ke tempat tinggal masing-masing. Di depan sekolah saat menunggu angkutan yang kosong, Toni dan Nisa enggak sengaja bertatapan.


"Kenapa cowok itu wajahnya mirip, seperti yang kutemui di taman kemarin? Masa si, dia ada di sini? Bukankah tadi pagi, Lisa bilang kalau cowok yang kutemui kemarin,tampangnya seperti mahasiswa atau pekerja?" Batin, Nisa.

"Itu kan yang kutemui di taman kemarin, aku mau coba mendekatilah." Batin, Toni sambil berpindah tempat.


Adnan yang merasa penasaran, langsung bertanya tanpa basa-basi. "Kamu mau ke mana, Ton?"

"Aku mau mendekati cewek yang ada di seberang, lebih tepatnya di depan SMA sebelah. Dia kayaknya cewek yang kutemui kemarin, wajahnya cantik banget pokoknya, bener-bener seperti bidadari." Jawab, Toni.

"Ya sudah semoga berhasil, mendekati itu cewek." Kata, Adnan.


Toni mengangguk mengiyakan, sambil berlalu meninggalkan kawannya. Imam yang mendengarkan percakapan kedua kawannya, hanya tersenyum sambil menikmati es tebu.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri gitu?" Tanya, Adnan.

"Aku lagi mentertawakan diri sendiri, tadi bikin puisi es tebu, pulangnya beli es tebu beneran." Jawab, Imam sambil tersenyum dan menikmati esnya. 

Komentar