Adnan tahu yang sebenarnya, Imam bukan mentertawakan diri sendiri, tetapi sedang mentertawakan, Toni yang mendekati gadis cantik.
"Sudahlah enggak usah pura-pura tertawa untuk diri sendiri, aku tahu kok apa yang dirimu tertawakan. Kamu membayangkan apa yang akan terjadi saat, Tony mendekati gadis itu kan?" Ucap, Adnan.
"Iya benar, aku membayangkan itu cewek bakal marah atau senang, Tony mendekati seperti itu seolah-olah sudah kenal. Asli berani banget, Tony mendekati cewek itu dengan tiba-tiba, aku enggak menyangka sahabat, kita seberani itu. Terus ceweknya yang kemarin ketemu di taman, gimana nasibnya, ya?" Balas, Imam sambil menikmati es tebu yang tinggal separuh.
"Ya, kita lihat saja, apa yang akan terjadi pada, Toni dan gadis itu. Kamu enggak takut kotor? Duduk di trotoar kaya gitu?" Ucap, Adnan lagi.
"Kotor, ya sudah biarin, kan bisa dicuci biar bersih lagi." Balas, Imam lagi.
"Itu bukannya besok masih dipakai lagi?" Tanya, Adnan.
"Aku kan punya celana dua jadi, aman kalau ini kotor, bisa pakai yang satunya." Jawab, Imam.
Adnan mengangguk-angguk mengiyakan jawaban, Imam sambil menunggu angkutan yang sebentar lagi akan datang.
Sementara itu, Toni yang berdiri di sebelah, Nisa menyapa dengan pelan.
"Halo, kamu cewek yang kemarin makan gorengan di taman kan?" Sapa, Toni dengan tenang padahal jatuhnya berdebar lebih kencang.
"Hai, iya, aku yang kemarin ada di taman pas waktu sore-sore, sama sahabatku yang di sebelah kananku ini. Kamu juga yang kemarin sore tersenyum di taman itu?" Jawab, Nisa dengan malu-malu, padahal dalam hatinya deg-degan, wajahnya merah bagaikan kepiting rebus.
Iya benar banget, oh iya, kita kemarin belum sempat kenalan. Toni Prasetio, Toni sapaan akrabku, siapa namamu?" Ujar, Toni.
"Kalau gitu salam kenal, ya, Anisa Nur Safitri namaku orang-orang biasa memanggilku, Nisa." Jawab, Nisa.
"Kamu tempat tinggalnya di mana?" Tanya, Toni.
"Aku tinggal di Desa Kayu Cendana, rumahku ada di dekat sawah, hawanya pun sangat sejuk. Oh iya, kamu tinggal di mana, kalau boleh tahu?" Balas, Nisa.
"Aku tinggal di Desa kali Manggis,, kita berarti tempat tinggalnya tetanggaan, ya?" Ujar, Toni sambil tersenyum.
Nisa menanggapi lawan bicaranya dengan anggukan, sambil tersenyum juga.
"Sok manis senyummu itu, mentang-mentang ketemu sama cowok idaman. Sudah gitu gayanya sok malu-malu, padahal dalam hatinya seneng banget." Bisik, Lisa.
"Kamu itu ada-ada aja, perasaan senyumku biasa aja kok." Balas, Nisa sambil berbisik juga.
"Kamu mau bilang enggak manis juga, terlihat jelas banget, loh, kalau senyummu ekspresinya manis banget. Sudahlah nggak usah pura-pura, lagian kalau mau bilang enggak manis pun, terpampang jelas, loh, senyuman manisnya." Bisik, Lisa lagi.
Nisa pun akhirnya mengangguk mengiyakan dengan pasrah, ia sadar banget sahabatnya yang satu ini, sudah hafal dengan segala tentang dirinya.
"Nah, gitu dong ngaku, kalau senang dapat cowok ganteng." Goda, Lisa sambil berbisik agar enggak ada yang dengar.
Nisa hanya membalas ucapan sahabatnya dengan cibiran, karena dirinya buat bahan candaan.
Toni untumgnya enggak menyadari, Nisa mengangguk pada sahabatnya. Kalau tahu pasti akan bertanya, mengapa mengangguk seperti itu.
Sementara itu di sisi halte yang lain, Imam berucap. "Lihat itu lihat! Mereka bisa ngobrol dengan asyik, sudah gitu enggak canggung sama sekali."
Adnan menyipitkan mata, agar bisa melihat aksi, Toni dengan jelas dari gerombolan orang banyak.
"Wah, ternyata benar apa yang, kamu bilang. Wah, mantap juga, dia sama cewek langsung akrap. Ya, Toni kalau merayu cewek memang ahlinya, walaupun kalau sama, ibu kantin malu-malu karena takut di tagih hutangnya, atau ingin beli takut uangnya kurang." Gumam, Adnan sambil tertawa.
"Padahal biasanya diajak ngomong sama, bu kantin aja grogi. Kadang saking groginya, pesan makanan aja, dia perasaannya deg-degan. Dia emang pernah ngutang atau uangnya kurang?" Tambah, Imam sambil cekikikan.
"Ya enggak pernah sih kalau ngutang atau uangnya kurang, dia itu kalau beli uangnya pas-pasan setahuku. Pokoknya kalau, dia sampai dapat nomor whatsapp itu cewek, kita tlaktir es tebu dua gelas. Sayangnya, kita enggak bisa mendengar percakapan, mereka soalnya ramai terus jaraknya jauh." Kata, Adnan.
Imam mengangguk setuju, dengan ide sahabatnya, lalu tersenyum.
Sementara di halte bagian lain, Toni dan Nisa lanjut mengobrol.
"Kamu sekolah di SMA Negeri 1, ya?" Tanya, Toni.
"Iya benar, kamu di SMA Negeri 2, ya?" Balas, Nisa.
"Iya benar sekolah, kita sebelahan kok jadi, gampang kalau mau ketemu. Kamu kelas berapa?" Kata, Toni.
"Aku kelas 10 jurusan sastra Indonesia, kamu sendiri kelas berapa?" Sambung, Nisa.
"Aku kelas X jurusan ips, tetapi paling senang sama pelajaran sejarah si." Respons, Toni.
"Aku juga senang si sama pelajaran sejarah,apalagi kalau tentang kerajaan-kerajaan Indonesia, aku senang banget." Sambung, Nisa lagi.
Toni akan mengajak bicara lagi, angkutan sudah tiba, para siswa banyak yang sudah pada naik. Lisa ikut naik, ia mengajak sahabatnya pulang bareng. "Nis ayuk buruan naik! Kita biar enggak ketinggalan!"
Nisa pamitan pada, Toni habis itu masuk ke angkutan.
"Mau duduk di tempat dekat pintu atau dekat jendela, Nis?"
"Di dekat pintu aja, biar nanti turunnya gampang kan di tempat, kita dulu nanti sampainya. Habis itu, baru angkutnya jalan lagi, mengantarkan kawan-kawan yang lain." Jawab, Nisa.
Lisa mengangguk mengiyakan permintaan sahabatnya, lalu duduk di bangku dekat pintu untuk keluar.
"Lina dan Fitri duduk di sebelah mana si? Mereka kok enggak kelihatan, ya, Lis?" Tanya, Nisa.
"Mereka sudah pulang duluan, tadi dijemput sama keluarganya." Jawab, Lisa.
"Kapan si? Aku kok enggak tahu si?" Tanya, Nisa lagi.
"Tadi pas keluar dari kelas." Jawab, Lisa lagi.
Nisa mengangguk mendengar ucapan sahabatnya, angkutan berjalan mengantar penumpangnya satu per satu dengan lancar, karena jalanan enggak macet. Di temani lagu-lagu pop yang mengalun dengan merdu, yang dapat menenangkan hati.
Sementara itu, Toni yang melihat angkutannya sudah penuh, ia kembali bersama kedua sahabatnya, untuk menunggu angkutan selanjutnya.
"Ton kenapa ke sini lagi? Kamu enggak naik bareng sekalian?" Tanya, Adnan.
"Aku mau naik malah angkutannya sudah penuh, aku, ya balik lagi ke sini." Balas, Toni.
"Itu berarti belun beruntung, buat naik bareng dengannya." Sambung, Imam.
Toni hanya tertawa menanggapi ucapan sahabatnya, yang sedang menggoda dirinya.
"Gimana pengalamannya mendekati cewek baru? Coba dong cerita!" Gumam, Adnan sambil menepuk pundak sahabatnya.
"Ya pastinya senanglah, dia sudah mengganggu pikiranku semalaman, masa sih ketemu enggak senang, ya enggak mungkinlah." Jawab, Toni dengan wajah berseri.
"Terus gimana cewek yang kemarin, kamu ketemu di taman nasipnya? Kamu kok malah ketemu dengan cewek lain itu, Ton?" Tanya, Imam dengan rasa penasaran yang terlihat sangat jelas di wajahnya.
Komentar
Posting Komentar