KISAH CINTA, ANISA 10

Toni tertawa walaupun entah apa yang ditertawakan, ia pun menjawab pertanyaan sahabatnya dengan sungguh-sungguh.


"Maksudnya gimana si? Dia perasaan baik-baik aja, enggak kenapa-napa." Kata, Toni.

"Kamu ketemu sama cewek lain, dia terus nasibnya gimana? Apa kecewa, apa terluka hatinya, apa sedih perasaannya, kalau tahu dirimu dengan cewek lain?" Jelas, Imam dengan gemas.

"Dia, ya bahagia bangetlah rasanya, orang bisa ketemu dengan, aku secara langsung." Kata, Toni lagi.

"Jadi, dia itu yang dirimu ceritakan, yang kemarin ketemu di taman, aku kira itu cewek baru yang lain lagi." Balas, Imam sambil salah tingkah.

"Ya bukanlah, masa si cewek baru lagi, yang kemarin aja baru kenalan tadi." Imbuh, Toni.

"Aku kira, kamu sekarang jadi, playboy sukanya dekatin cewek-cewek cantik, ternyata yang tadi  cewek yang kemarin, kamu temuin." Gumam, Imam sambil cekikikan.

"Kamu kalau ngomong jangan sembarangan! Masa si, aku dibilang playboy, kamu yang benar aja!" Balas, Toni.

"Enggak, Ton, aku hanya bercanda kok." Kata, Imam.


Toni mengangguk mengiyakan, ia paham kalau sahabatnya suka iseng.


"Kamu kok bisa yakin kalau itu cewek yang kemarin? Gimana ceritanya si?" Sambung, Adnan.

"Aku kan tadi ngobrol banyak sama, dia masa si enggak dengar percakapannya." Respons, Toni.

"Orang tempatnya aja ramai kaya gini, ya enggak mungkinlah bisa dengar percakapan, kalian jaraknya aja jauh banget. Kecuali tempatnya dekat atau duduknya sebelahan, itu aja belum tentu tahu apa percakapannya." Sambung, Adnan lagi.

"Oh iya, aku lupa, kalau jaraknya lumayan jauh." Kata, Toni sambil tertawa seolah tanpa dosa.


Sementara itu, Lisa dan Nisa mengobrol sambil mendengarkan musik di angkutan, agar enggak merasa jenuh selama perjalanan.


"Tumben mau ngobrol sama cowok lain dengan akrab? Katanya enggak mau kenalan sama cowok lain, maunya sama cowok yang kemarin ketemu di taman?" Ucap, Lisa.

"Itu kan cowok yang kemarin kasih senyum di taman, yang tadi ngajak ngobrol di halte." Balas, Misa.

"Masa si, dia bukannya tampangnya kayak orang sudah kerja atau sudah kuliah?" Ucap, Lisa lagi.

"Enggak kok, dia masih sekolah, di SMA sebelah, sudah gitu sama seperti, kita masih kelas 10. Kamu emangnya tadi enggak dengar percakapannya?" Balas, Nisa lagi.

"Aku enggak dengar, aku tadi soalnya lagi asyik minum es jeruk jadi, enggak memperhatikan. Apalagi suasananya sangat ramai, serasa pasar sedang ramai diskonan barang." Jawab, Lisa.


Nisa mengangguk memaklumi sahabatnya, kalau jam pulang sekolah, halte memang penuh dan ramai.


Sementara itu, Toni dan kedua sahabatnya masih asyik ngobrol, sambil menanti angkutan selanjutnya bersama para penumpang yang lain. Karena angkutannya yang ditunggu juga masih lama, datangnya sekitar setengah jam lagi.


"Gimana, tadi sudah janjian, kapan ketemu lagi atau belum? Atau sudah merencanakan, mau ketemuan di mana untuk selanjutnya?" Tanya, Imam dengan iseng.

"Ya belumlah, kamu ini gimana si, tadi masih ngobrol angkutnya sudah datang." Jawab, Toni.

"Ya sedih dong, sedang asyik ngobrol, malah dipisah sama angkutan." Ledek, Imam.

"Ya enggaklah, kan besok masih bisa ketemu lagi." Jawab, Toni sambil mengelap keringat di wajahnya.

"Toni jorok, masih di halte, masih sempat-sempatnya mengelap keringat." Ledek, Imam lagi.

"Ya enggak joroklah, orang keringat di wajah, bukan keringat di ketek." Respons, Toni.

"Gimana, tadi sudah dapat nomor whatsapp-nya atau belum?" Tanya, Adnan.

"Nomor whatsapp-nya siapa si?" Jawab, Toni dengan bingung.

"Ya nomor whatsapp-nya cewek yang, kamu temui barusanlah, masa nomornya penjual es tebu." Imbuh, Adnan dengan gemas.

"Ya belumlah kalau tukeran nomor, orang ngobrol aja baru sebentar." Jawab, Toni lagi.

"Ya enggak jadi, dapat es tebu dua gelas dong, kalau belum dapat nomornya." Gumam, Imam.

"Ya enggak apa-apa, aku bisa beli es tebu sendiri." Jawab, Toni.


Angkutan yang, mereka tunggu belum datang, Adnan merasa haus.


"Aku tak beli es dulu, ya!" Pamit, Adnan.

"Nanti kalau angkutnya datang, kamu pas masih beli es? Kamu yang ada malah ketinggalan, gimana dong?" Tanya, Imam.

"Ya biarin, kan masih ada angkutan yang berikutnya lagi." Jawab, Adnan sambil melangkahkan kaki.


Namun, Adnan berjalan baru lima langkah, Toni memanggil dirinya. "Adnan!!"

"Ada apa, Ton?" Tanya, Adnan.

"Aku nitip dong!" Pinta, Toni.

"Mending dan lebarnya aja dari pada nitip." Jawab, Adnan sambil menggamit tangan sahabatnya.


Imam mau enggak mau menunggu kedua sahabatnya di halte, bersama penumpang yang lainnya, iya tadi sebab sudah beli es tebu.


"Kamu mau beli es apa?" Tanya, Adnan.

"Aku es milo, kamu beli es apa?" Balas, Toni.

"Aku juga pesan es milolah." Sahut, Adnan.


Setelah itu, Adnan pesan es milo dua dan bakso sambal kacang.


"Es milo dua dan bakso sambal kacang satu, ya, bu!" Ucap, Adnan.

"Aku juga mau bakso sambal kacang dong." Cletuk, Toni.

"Ya sudah bakso sambal kacangnya pesan dua, ya, bu!" Ucap, Adnan lagi.

"Dibungkus atau makan di sini, mas?" Tanya, penjualnya.

"Dibungkus aja, bu." Jawab, Adnan.


Sementara itu, angkutan yang tadi sudah berangkat, sampai di Desa Kayu Cendana.


"Ayuk yang turun!!! Yang turun!!!" Kata petugas angkutan.


Lisa dan Nisa peserta penumpang yang lain mengecek barangnya sebelum turun, agar enggak ketinggalan.


"Enggak ada yang belum dibawa kan, Lis?" Tanya, Nisa.

"Sudah aman kok, Nis." Jawab, Lisa sambil berjalan di sebelah, Nisa dengan santai.


Sementara itu, Adnan dan Toni masih ada di warung, 15 menit kemudian pesanan, mereka sudah siap, mereka kembali ke halte.


"Kok orang-orang yang menunggu angkutan enggak seramai tadi? Aku apa salah lihat, ya?" Tanya, Adnan.

"Kamu enggak salah lihat, angkutan baru saja lewat, tetapi sudah penuh." Jawab, Imam.


Adnan mengangguk memahami penjelasan sahabatnya, ia pun menikmati es milo dan baksoy bersama, Tony di sudud halte.


"Kamu mau enggak?" Tawar, Adnan.

"Enggaklah, aku sudah kenyang." Balas, Imam.

"Cuma minum es tebu emang bisa kenyang?" Tambah, Toni.

"Dia tadi sudah beli cilok, pas beli es tebuu, ya wajar kalau kenyang." Tanggap, Adnan.


Toni dan Adnan selesai makan dan minum angkutannya datang, mereka langsung naik dan mengatakan alamat desanya. Diikuti para penumpang lain, yang sudah menunggu sekian lama sampai terasa seperti lumutan. Sepanjang perjalanan, mereka terdiam karena sudah merasa lelah, angkutan pun melaju dengan tenang mengantar, mereka sampai di desa masing-masing. Di Desa Kayu Manggis, Adnan turun dari angkutan bersama kedua sahabatnya dengan perasaan lega.


"Alhamdulillah, akhirnya bisa sampai rumah juga." Gumam, Imam.

"Iya benar, aku juga sudah ingin pulang dari tadi, akhirnya kesampaian juga." Ujar, Adnan.


Toni mengangguk setuju dengan ucapan kedua sahabatnya, sambil melangkahkan kaki menuju ke arah rumahnya. 

Komentar