KISAH CINTA, ANISA 11

Adnan, Imam dan Toni berpisah, habis turun dari angkutan, mereka rumahnya enggak searah walaupun satu Desa. Toni rumahnya ke arah timur, Adnan rumahnya ke arah utara, Imam rumahnya ke arah selatan.


"Ton habis ini, kita mancing yuk!" Ajak, Adnan.

"Enggaklah, soalnya langit sudah mendung, aku takut di sana terjebak hujan." Tolak, Toni.

"Mancing bareng, aku yuk, Mam!" Ajak, Adnan sambil menatap, Imam.

"Enggaklah Nan, aku mau istirahat di rumah." Tolak, Imam.

"Ya sudah kalau enggak ada yang mau diajak mancing, aku juga mau pulang ajalah." Kata, Adnan.


Mereka bertiga berjalan ke arah rumah masing-masing sambil melempar senyum, dan berjanji hari esok akan berangkat bareng lagi.


Sementara itu, Nisa dan Lisa masih berjalan dari halte menuju ke rumah sambil berbincang.


"Nis ini gimana? Langitnya mendung banget, takutnya kalau tiba-tiba hujan, aku enggak bawa payung ni." Kata, Lisa.

"Ya sama si, aku juga enggak bawa payung, semoga sih pas hujan, kita sudah sampai di rumah." Sambung, Nisa.

"Terus kalau, kita belum sampai rumah, malah hujan duluan gimana?" Tanya, Lisa.

"Ya mau enggak mau, kita cari tempat untuk berteduh sementara." Jawab, Nisa.


Ternyata mendungnya hanya sebentar enggak jadi, hujan sama sekali, mereka pun sampai di rumah dengan aman.


"Nis kok panas lagi, ya?" Kata, Lisa.

"Iya berarti enggak jadi, hujan ni." Jawab, Nisa.

"Kalau gitu, aku pulang, ya!" Kata, Lisa.

"Iya sampai jumpa besok kalau gitu, PR bahasa inggris jangan lupa dikerjakan, loh! Oh iya, kamu jadi, ke toko untuk beli cd?" Ujar, Nisa.

"Tenang aja, aku nggak bakal lupa untuk mengerjakan pr kok. Ya jadi, dong kalau beli cd di toko, kamu mau ikut!" Ucap, Lisa.

"Enggaklah terima kasih, aku lagi pengen baca novel di rumah." Tolak, Nisa sambil membuka pintu.


Lisa paham dengan keinginan sahabatnya, ia pun menuju ke rumah dengan cepat, lalu bersiap mandi.


"Alhamdulillah ada air, aku berarti bisa langsung mandi dong, enggak perlu lama-lama nunggu air penuh." Batin, Lisa sambil mengambil handuk dan peralatan mandi.


Sementara itu, Nisa juga melakukan hal yang sama, ia mengecek air di bak mandi.


"Ini si cukup buat, aku mandi, sekalian tak isi biar penuh." Batin, Nisa sambil menyiapkan pakaian untuk ganti.


15 menit kemudian, Nisa sudah selesai mandi, sayangnya di rumahnya masih sepi, kedua orang tuanya belum ada di rumah. Waktu menunjukkan pukul 17.00, Nisa sudah terlihat cantik, ia membaca buku di teras. Bu Adam dan suaminya baru pulang dari pasar, jualan chicken, ayam geprek, tahu krispi, sosis bakar, bakso bakar dan kentang goreng.


"Kok sendirian aja, nak? Tumben enggak main sama, Lisa?" Tanya, bu Adam.

"Lagi enggak, mah, Lisa barangkali masih capek, kita juga pulang belum lama kok. Mamah gimana jualannya laris? Kok jam segini baru pulang? Mamah dan ayah itu biasanya sebelum asyar sudah selesai jualan, sudah ada di rumah." Balas, Nisa.

"Alhamdulillah, tadi laris banget, semuanya habis enggak ada yang tersisa, tadi malah ada juga pesanan buat orang ulang tahun. Mamah dan ayah makanya baru pulang, pesanannya itu tadi ada 200 bungkus. Kamu sedang baca novel apa si, kelihatannya serius banget?" Sambung, bu Adam.

"Mereka memangnya pesan makanan apa, kok sampai 200 bungkus itu? Aku lagi baca novel lupus, ceritanya seru banget, terus sudah gitu lucu banget. Aku pokoknya bener-bener jatuh cinta sama novel lupus, bisa menghibur kalau sedang sedih, pokoknya bisa bikin tertawa ceritanya. Mah ngomong-ngomong, aku kok pingin beli buku baru, ya ingin jalan-jalan ke toko buku gitu." Balas, Nisa.

"Iya novel lupus itu memang ceritanya asyik, mamah juga senang bacanya. Mereka tadi pesan chicken 200 bungkus, terus juga pesan bakso bakar sama sosis bakar 200 bungkus, alhamdulillah, kita sedang dapat rezeki banyak. Kamu kalau ingin ke toko buku, nanti aja bareng sama, abangmu, dia hari ini pulang kok." Imbuh, bu Adam.

"Abang emangnya pulang jam berapa si, mah?" Tanya, Nisa.

"Paling bentar lagi sampai, dia sudah berangkat dari tadi jam 14.00 kok." Jawab, bu Adam.


Nisa mengangguk mengiyakan ucapan, mamahnya terus kembali membaca novel dengan fokus. Bu Adam masuk ke rumah dengan suaminya, ia akan mandi agar terasa wangi.


Sementara itu, Lisa ingin pergi ke toko, untuk membeli cd film laskar pelangi.


"Ibu, aku mau keluar dulu, ya!" Pamit, Lisa.

"Pergi ke mana?" Tanya, bu Agus.

"Aku mau beli cd film, yang ada di toko perbatasan Desa." Jawab, Lisa.

"Kamu emangnya mau beli cd film apa si? Bukannya kemarin sudah beli cd film, ya?" Tanya, bu agus lagi.

"Kemarin kan itu cd film dilan, aku sekarang mau brli cd film laskar pelangi." Jawab, Lisa lagi.

"Ya sudah kalau gitu, perginya hati-hati! Habis pergi beli cd langsung pulang! Jangan kelayapan kemana-mana!" Pesan, bu Agus.


Lisa mengangguk mengiyakan pesan, ibunya sambil berlalu menuju ke toko cd.


Sementara itu, Nisa masih di teras, membaca novel sambil menunggu kedatangan, abangnya pada sore yang terasa menenangkan hatinya.


"Abang semoga perjalanannya lancar enggak macet sehingga, sampai ke rumah enggak kemalaman." Batin, Nisa sambil tersenyum.


Bu Adam dan pak Adam selesai mandi menyusul, Nisa sambil membawa pisang goreng dan teh hangat.


"Wah, yang baca novel serius amat, mamah datang aja sampai enggak tahu." Ucap, bu Adam.

"Eh, mamah bikin kaget aja si." Gumam, Nisa.

"Kamu si lagian baca novel sambil melamun, mamah datang, ya enggak tahu. Kamu lagi mikir apa si?" Omel, bu Adam.

"Aku enggak mikir apa-apa, aku cuma lagi baca sambil nunggu, abang kok belum datang, ya. Mamah bawa apa? Kok kaya bau makanan enak, ya, mah?" Gumam, Nisa.

"Ini ada pisang goreng dan teh hangat, buat ganjal perut. Kamu jangan khawatir, abangmu paling sebentar lagi sampai." Ucap, bu Adam.


Nisa mengambil pisang goreng satu, padahal masih panas.


"Kok masih panas si, mah?" Tanya, Nisa.

"Iya, Nak itu soalnya baru matang." Jawab, bu Adam.


Nisa akhirnya menunggu Pisang gorengnya dingin, padahal rasanya sudah ingin sekali menikmatinya.


Sementara di tempat lain, Lisa sudah sampai di toko, ia sedang memilih-milih cd. Ia merasa bingung saat melihat cd Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi, iya ragu-ragu ingin membeli keduanya takut uangnya kurang, tetapi akhirnya meyakinkan hati untuk membeli kedua cd tersebut.


"Bismillah semoga uangku cukup, enggak kurang untuk membeli kedua CD film ini." Batin, Lisa sambil melangkah ke kasir.

"Mbaknya cuma beli dua? Enggak nambah cd yang lain?" Tanya penjaga kasir.

"Enggak, mbak dua aja dulu, aku besok ke sini lagi buat beli yang lain." Jawab, Lisa sambil menyerahkan uang.

"Ok kalau gitu, mbak kedatangannya, kita tunggu,, jangan kapok untuk kemari membeli film yang terbaik! Ini cd dan uang kembaliannya, ya, mbak!" Kata penjaga kasir.


Lisa  mengangguk mengiyakan, Iya hatinya merasa lega saat menerima cd dan uang kembalian.


"Alhamdulillah uangnya enggak kurang, malah masih sisa,  aku kan malu kalau beli cd, ternyata uangnya kurang. Masa sih, Aku mau hutang, Yang bener ajalah." Batin, Lisa sambil melangkah keluar.


Lisa bersyukur sebelum maghrib sudah sampai di rumah, ia jadi, enggak dimarahin sama, ibunya karena telat pulang. 

Komentar