Lisa sampai di rumah, ia mengucap salam dengan lantang. "Assalamualaikum!!!"
"Waalaikumsalam." Jawab, bu Agus sambil bergegas membukakan pintu.
Lisa masuk sambil tersenyum, ia langsung ke dalam kamar, untuk menyimpan cd yang dibeli.
"Beli cd-nya kok dua? Apa uangnya cukup si, nak?" Tanya, bu Agus.
"Aku awalnya disana sempat bingung, bu ingin beli salah satunya, tetapi kok dua-duanya menarik hatiku. Aku pas berjalan ke kasir, mau bayar itu rasanya deg-degan, takut barangkali uangnya kurang, aku itu perasaannya bingung banget deh pokoknya. Alhamdulillah ternyata masih ada kembalian, aku merasa lega enggak jadi, hutang atau uangnya kurang." Jawab, Lisa sambil menghela napas seolah-olah melepaskan rasa deg-degan yang ada dalam hatinya.
"Ya sudah kalau gitu, cd-nya disimpan dulu, sebentar lagi juga magrib, kita siap-siap untuk ke masjid." Imbuh, bu Agus.
Lisa mengangguk mengiyakan ucapan, ibunya lalu duduk di ruang keluarga menikmati singkong rebus dan teh hangat, sembari menanti suara adzan berkumandang. Bu Agus dan suaminya selalu membiarkan saat, Lisa membeli cd atau belajar masak sebab, ia tahu anak perempuannya itu selalu mengutamakan tugasnya untuk belajar.
Sementara itu, Nisa dan keluarganya masih ada di teras, pisang goreng sudah enggak terlalu panas. Nisa mengambilnya satu, lalu memakannya dengan lahap. "Nyam-nyam! Nyam-nyam! Pisang goreng bikinan, mamah memang paling yang enak sedunia."
"Kamu itu bisa aja, memuji-muji kayak gini, paling ada maunya." Sambung, bu Adam.
"Ya memang ada, aku kan tadi sudah bilang, ingin beli buku baru." Gumam, Nisa.
"Ya sabar tunggu, abangmu pulang dulu." Jawab, bu Adam.
Pak Adam enggak menyambung obrolan, mereka hanya mendengarkan sambil asyik membaca koran. 15 menit kemudian, ada suara motor berhenti di halaman rumah, mereka menyambutnya dengan antusias. Nisa sudah enggak sabar untuk bertemu dengan, abangnya yang sudah terlihat di depan mata. Nanda setelah memarkir motor, ia mendengar suara kedua orang tuanya dan adiknya di teras, iya langsung menghampiri tanpa ragu.
"Assalamualaikum!!!!" Ucapnya.
"Waalaikumsalam!!!!" Jawab kedua orang tuanya dan adiknya dengan kompak dan semangat.
Nisa langsung berdiri, ia memeluk, Abangnya dengan manja.
"Abang, Aku kangen sudah sebulan, loh, kita nggak pernah ketemu. Abang biasanya awal bulan pulang, ini kok tumben pulangnya lama? Abang ngapain aja sih kok enggak pulang-pulang?" Crocos, Nisa.
Nanda pun merasa kangen dengan adiknya, ia membalas pelukannya sambil berucap. "Abang juga Kangen, tetapi dari kemarin-kemarin belum sempat pulang Soalnya, Abang lagi banyak banget tugas."
Nanda setelah berpelukan dengan adiknya untuk melepas kangen, ia menghampiri kedua orang tuanya dan memberi salam.
"Mamah dan Ayah sehat kan? Gimana jualannya lancar kan?" Tanya, Nanda.
"Mamah dan ayah Alhamdulillah sehat, jualan juga alhamdulillah laris banget. Kamu itu gimana, enggak libur kok pulang?" Balas, pak Adam.
"Iya, ayah, aku lagi kangen rumah soalnya jadi, memutuskan untuk pulang. Lagi pula dosen yang mengajar besok pagi itu sedang ada keperluan jadi, ada jam kosong, aku bisa pulang sebentar." Respons, Nanda.
Pak Adam dan istrinya mengangguk-angguk mendengar jawaban anak lelakinya, walaupun sebenarnya merasa kasihan. Nanda hanya capek di perjalanan, sore sampai rumah, pagi-paginya harus berangkat lagi. Namun, pak Adam dan istrinya menghargai keinginan anak laki-lakinya, untuk mengunjungi rumah dan melepas kangen.
"Kamu sudah makan, le?" Tanya, bu Adam.
"Aku sudah makan tadi di kosan sebelum berangkat, tetapi ada aroma pisang membuatku kembali lapar." Jawab, Nanda.
"Iya, nak pisangnya buruan dimakan, mumpung masih hangat! Kalau makannya nanti-nanti keburu dingin, takutnya jadi, enggak enak rasanya." Imbuh, bu Adam.
Nanda pun duduk di sebelah, Nisa terus mengambil pisang goreng sepotong.
"Wah, enak banget pisangnya." Gumam, Nanda sambil mengambil lagi.
Nisa juga ikut ambil lagi, novelnya ditaruh di atas meja. Nanda yang melihat novel lupus, langsung bertanya. "Siapa yang habis baca novel kesayangan keluarga?"
"Aku yang baca, emang kenapa? Kok bisa dibilang novel kesayangan keluarga si, bang?" Tanya, Nisa.
"Enggak si cuma tanya aja, ya bisalah,kita semua kan pencinta novel lupus. Kecuali, ayah yang sukanya baca koran sambil minum kopi." Jawab, Nanda.
Nisa mengangguk mengiyakan ucapan, Nanda yang memang ada benarnya.
"Bang nanti malam ke toko buku yuk!" Ajak, Nisa.
"Ke sana mau ngapain?" Balas, Nanda.
"Ya beli novellah, masa mau beli es cream." Sambung, Nisa.
"Kalau gitu nanti malam, ya." Kata, Nanda.
Nisa mengiyakan dengan riang ia sudah enggak sabar untuk beli novel baru. Suara murotal terdengar dari masjid, pak Adam mengajak istri dan kedua anaknya masuk.
Sementara itu, Lisa menaruh piring yang digunakan wadah singkong rebus di dapur, lalu ke kamar mandi.
"Kalau ke kamar mandi jangan lama-lama, ya! Ibu soalnya juga ingin ke kamar mandi, ingin buang air kecil." Ucap bu Agus.
"Ibu tenang aja, aku enggak bakalan lama kok, paling 15 menit lagi." Jawab, Lisa sambil menutup pintu.
Pak Agus hanya mendengarkan percakapan anak dan istrinya, yang sedang berebut kamar mandi. Setengah jam kemudian, pak Agus, bu Agus dan anaknya sudah siap untuk pergi ke masjid.
"Pintunya dikunci, ya, bu!" Ucap, pak Agus.
Bu Agus mengangguk mengiyakan sambil membawa mukena di tangannya, lalu berjalan mengikuti suami dan anaknya. Mereka sampai di masjid, iqomah dikumandangkan, shalat berjalan dengan lancar, imamnya memimpin shalat dengan merdu suaranya. Lisa bingung mencari sandal, saat pulang dari masjid, ia lupa menaruhnya dimana.
"Ibu di mana sandalku?" Tanya, Lisa.
"Itu ada di tempat paling pojok sana, masa si naruh sendiri, kamu malah lupa sendiri." Jawab, bu Agus.
Lisa mengangguk mengiyakan, lalu berjalan ke arah pojok barat, untuk mengambil sandalnya. Mereka pun berjalan pulang bersama setelah itu, makan malam bersama dengan nikmat.
Sementara itu di tempat lain, Nisa dan keluarganya siap-siap untuk sholat maghrib.
"Kita mau shalat di rumah atau di masjid?" Tanya, pak Adam.
"Shalat di rumah aja, ayah." Jawab, Nanda.
"Ya sudah kalau gitu, siap-siap dulu sana! Kalian ambil wudhu dulu, nanti gantian sama, ibu dan ayah!" Kata, pak Adam.
Nanda dan adiknya bergegas ke belakang, ia bertanya pada adiknya sebelum mengambil air wudu. "Siapa dulu yang wudhu, dik?"
"Abang dulu aja yang wudhu, aku mau minum dulu sebentar." Jawab, Nisa.
Setelah, Nanda dan Nisa selesai wudhu, pak Adam dan bu Adam mengambil air wudhu, mereka shalat berjamaah dengan khusyuk dari awal sampai selesai, pak Adam yang memimpin shalat.
Sementara di tempat lain, Tony disuruh orang tuanya belanja.
"Le tolong ke warung! Beli tempe sama kecap! Ibu tadi soalnya lupa beli, pas belanja di pasar." Kata, bu Tono.
Komentar
Posting Komentar