Tony yang baru selesai minum pun berkata pada, ibunya sambil senyam-senyum enggak jelas. "Ibu yang bener aja, masa anak laki-laki disuruh belanja yang belanja itu, ya anak perempuanlah. Rani ajalah yang disuruh belanja, dia kan yang anak perempuan."
"Rani sedang tak suruh nyetrika, biar bajunya pada rapi enggak pada kusut. Kamu itu enggak usah banyak alasan, disuruh orang tua ya dilaksanakan. Sudah sana berangkat, ini uangnya!" Kata, bu Tono dengan tegas.
"Ada upahnya, ya, bu?" Kata, Toni.
"Orang sudah dikasih saku setiap hari, masih saja minta upah. Kamu itu yang benar aja, kalau dimintai tolong itu, enggak usah banyak alasan." Crocos, bu Tono.
Toni akhirnya mengambil sandal, lalu keluar, berjalan lewat teras. Pak Tono yang sedang menikmati kopi dan merokok di teras pun bertanya pada, tony dengan ekspresi datar. "Mau ke mana, le?"
"Aku mau ke warung disuruh, ibu belanja, padahal tadi sudah ke pasar, tetapi enggak beli lauk sekalian. Bapak aja apa yang belanja, aku biar yang duduk di sini?" Balas, Toni.
"Ya jangan gitulah, kalau diperintah orang tua, ya dilaksanakan. Kalau, bapak yang beli, kamu duduk disini, sama aja bohong. Bohong itu perbuatan dosa, loh, kamu pasti tahulah." Kata, pak Tono.
Toni akhirnya mengangguk mengiyakan, sambil melangkah ke warung dengan malas-malasan.
Sementara di desa sebelah, Nisa dan Nanda ingin membuat nasi goreng istimewa.
"Aku atau abang yang bikin nasi gorengnya?" Tanya, Nisa.
"Kita bikin bareng aja, kamu yang potong bahan-bahan tambahannya, abang yang siapkan bumbungnya." Jawab, Nanda.
"Emang bahan tambahannya apa aja, bang?" Tanya, Nisa lagi.
"Ya itu bahan tambahannya, sosis dipotong-potong, ayam di suiri terus sama mentimun dan tomat dipotong bulat bulat." Jawab, Nanda lagi.
Nisa langsung melaksanakan apa yang dikatakan, abangnya enggak lupa menambahkan tempe yang dipotong kecil-kecil. Bu Adam yang menengok kedua anaknya sedang memasak di dapur, berkomentar sambil tersenyum.
"Ini ceritanya pagi-pagi nasi goreng, sore-sore nasi goreng?"
"Iya dong, mah." Jawab, Nisa.
"Kamu apa enggak bosan si?" Tanya, bu Adam sambil menatap, Nisa.
"Ya enggaklah, mah nasi goreng kan enak, apalagi kalau banyak tambahannya jadi, tambah enak deh pokoknya." Jawab, Nisa lagi sambil tersenyum.
Bu Adam kembali ke depan, untuk mengobrol dengan suaminya, sambil menunggu masakan siap atau matang.
"Mamah katanya mau masak? Kok kembali ke sini lagi?" Tanya, pak Adam.
"Mamah enggak jadi, sudah keduluan sama anak-anak." Jawab, bu Adam.
"Mereka bikin masakan apa emangnya?" Tanya, pak Adam lagi.
"Mereka bikin nasi goreng si tadi pas, mamah ke belakang." Jawab, bu Adam lagi.
"Semoga ada sambalnya, ya, mah biar enak kaya tadi pagi." Kata, pak Adam.
Bu Adam mengangguk mengiyakan sambil tersenyum manis, bagaikan madu.
"Mamah itu senyumnya sangat mempesona, membuatku jatuh hati." Ujar, pak Adam.
"Ayah itu sukanya merayu, pasti ada maunya." Sahut, bu Adam.
"Memang, iya, aku nanti malam biar dikasih jatah." Ujar, pak Adam lagi.
"Jatah siapa si, ayah? Bukannya yang kasih uang jatah bulanan, ke anak-anak itu, ayah, ya?" Balas, bu Adam.
"Bukan itu, mah, tetapi jatah sebelum tidur." Sambung, pak Adam.
"Oh minta jatah nasi goreng, ya nanti minta sama anak-anak, sekarang masih di bikin. Paling enggak sampai 1 jam, nasi gorengnya sudah siap, kita sudah bisa menyantapnya bersama-sama." Imbuh, bu Adam.
Pak Adam hanya bisa menganguk mengiyakan dengan pasrah, walaupun dalam hati sebenarnya emosi, istrinya pura-pura enggak tahu ucapannya.
Sementara itu, Toni sudah sampai di warung, tetapi masih mengantre karena banyak pembeli, ia berpikir dalam hati. "Andaikan di tempat ini bertemu, Nisa, aku pasti enggak kesepian, pasti banyak obrolan seru. Akan tetapi mana mungkin, bisa ketemu sama, Nisa di sini nomornya aja, aku belum punya."
Tiba-tiba penjualnya bertanya sambil menepuk pundak karena pembeli sudah dilayani semua. "Mau beli apa, le?"
"Beli tenpe dua dan kecap satu, pak." Jawab, Toni.
"Biasanya, adikmu yang beli?" Tanya penjualnya sambil melayani.
"Rani lagi sibuk tadi disuruh, ibu nyetrika pakaian." Jawab, Toni lagi.
Bapak pemilik warung itu mengangguk, mendengar penjelasan, Tony sambil menyerahkan belanjaannya. Toni menerima belanjaan sambil menyerahkan uang pembayaran, lalu berjalan pulang ke rumah.
Sementara itu, Nisa dan Nanda masih asyik di dapur membuat nasi goreng istimewa. Bumbu sudah siap, sudah ditumbuk halus, bahan-bahan tambahan pun sudah dipotong potong.
"Bang masa si, aku cuma bantu motong-motong." Protes, Nisa.
"Kamu bikin sambal pas, abang goreng nasinya." Respons, Nanda.
Nisa mengangguk sambil mengambil cobek dan muntu, untuk mengulek sambal. Setengah jam kemudian, nasi goreng istimewa sudah siap, aromanya enak, sangat menggugah selera.
"Bang kalau ditambah telur dadar, kayanya enak ni." Gumam, Nisa.
"Kamu yang goreng telurnya, ya? Tambah, Nanda.
"Ok siap, dijamin enak rasanya enak kalau, aku yang bikin." Gumam, Nisa lagi.
"Awas jangan sampai kebanyakan garam." Kata, Nanda sambil menata nasi ke dalam piring.
Nisa hanya manggut-manggut sambil menggoreng telur di wajan. Telur dadar sudah matang, Nanda memanggil kedua orang tuanya, untuk makan malam. "Mamah, ayah mari makan! Nasi gorengnya sudah siap, nanti keburu dingin, loh!"
Pak Adam dan istrinya langsung bergegas ke belakang, mereka perutnya juga sudah bernyanyi. "Kruyuk-kruyuk!!!! Kruyuk-kruyuk!!!!"
Mereka duduk di meja makan, segelas air putih juga sudah tersedia.
"Wah, ini beneran makan enak, ada sambalnya, ada telur dadarnya juga." Ucap, pak Adam sambil menyendok nasi.
"Iya dong, kita makan enak, mumpung lagi ngumpul lengkap." Kata, Nisa.
Nanda setuju dengan ucapan adiknya karena, ia juga jarang di rumah seringnya Tinggal di kosan. Mereka makan malam dengan nikmat, rasa syukur membuat, mereka tak menyia-nyiakan makanan yang ada.
"Sambalnya kok enak, pedas dan asinnya pas, rasanya enak. Siapa yang bikin sambal?" Tanya, bu Adam.
"Nisa yang bikin sambal dan telur." Jawab, Nanda.
"Nisa juga yang bikin nasi goreng?" Tanya, bu Adam lagi.
"Bang Nanda yang bikin nasi goreng." Jawab, Nisa.
Bu adam manggut-manggut paham dengan penjelasan anaknya, ia merasa bahagia karena kedua anaknya sama-sama bisa masak. Masakannya juga rasanya enggak mengecewakan, walaupun terkadang keasinan.
Sementara di tempat lain, Toni baru pulang dari warung, ia mengetuk pintu rumah.
"Tok-tok!! Tok-tok!! Assalamualaikum!!" Seru, Toni.
"Waalaikumsalam." Jawab, pak Tono.
Toni langsung mendekati, ibunya menyerahkan tempe dan kecap yang sudah dibeli.
"Kok lama belinya, le?" Tanya, bu Tono.
Komentar
Posting Komentar