KISAH CINTA, ANISA 14

Toni menjawab pertanyaan, ibunya sambil duduk di kursi dapur. "Aku tadi lama soalnya ramai, bu lagi banyak pembeli."

"Ya sudah kalau gitu, kamu kalau mau aktivitas atau mau mengerjakan tugas sekolah dulu, ya silakan. Ibu mau masak dulu nanti siapa tahu, kamu selesai belajar masakannya sudah siap." Sambung, bu Tono.

"Ibu malam ini masak apa?" Tanya, Toni.

"Ya ini, ibu masak tempe dan pare." Jawab, bu Tono.

"Wah, enak dong kalau gitu, aku mau belajar sambil menunggu, siapa tahu masakannya cepat matang." Ucap, Toni sambil berlari ke kamar.


Tony sebenarnya enggak ada pr, tetapi besok ada pelajaran biologi, ia harus belajar agar enggak bingung saat ditanya oleh guru.


Sementara di desa sebelah, Nisa dan keluarganya baru-selesai makan malam, piring piring dan para gelas diangkut ke tempat cucian.


"Kita nyuci piring bareng yuk! Abang yang kasih sabun, kamu yang membilas!" Ajak, Nanda.

"Aku yang mencuci piring semua, abang yang menaruh ke rak piring." Balas, Nisa.

"Ok kalau gitu ayuk, kita laksanakan." Imbuh, Nanda.


Mereka mencuci piring sambil mengobrol tentang berbagai hal, agar rasanya enggak sepi.

"Aku punya kenalan baru, loh, bang." Ucap, Nisa sambil menyerahkan piring bersih.

"Kenalan barunya cowok atau cewek?" Sahut, Nanda.

"Dia cowok si, anak Desa sebelah, sudah gitu cakep banget." Ucap, Nisa lagi.

"Dia teman sekelasmu?" Tanya, Nanda sambil menaruh gelas di rak.

"Bukan si, dia anak sekolahan sebelah, bang." Jawab, Nisa sambil membilas salah satu gelas.

"Terus kalau bukan teman sekelasmu, gimana ceritanya bisa kenal? Kamu kenalan di mana si?" Tanya, Nanda lagi.

"Aku dan Lisa kemarin pas hari minggu jalan-jalan ke taman di desa sebelah, aku enggak sengaja ketemu di sana, ia memberi senyum padaku. Aku awalnya enggak tahu namanya, karena kemarin enggak langsung kenalan, dia habis memberi senyum itu langsung pergi." Jawab, Nisa sambil menyerahkan cucian yang sudah bersih.

"Kamu berarti belum resmi kenalan, itu hanya teman dalam anganmu?" Sambung, Nanda.

"Itu kemarin kalau sekarang, aku sudah tahu namanya." Tanggap, Nisa.

"Kamu emangnya ngobrol di mana, kok bisa tahu namanya?" Kata, Nanda.

"Aku ketemu di depan sekolahan, kita kebetulan sama sama sedang menunggu angkutan. Dia mendekat ke arahku, lalu bertanya siapa namaku, aku pun tanya namanya. Kak Sinta enggak diajak main ke sini lagi, bang?" Balas, Nisa.

"Oh gitu ceritanya, kak Sinta sedang banyak tugas jadi, dia enggak bisa main kemana-mana. Kamu suka sama itu cowok, ya?" Sahut, Nanda.


Nisa mengangguk mengiyakan sambil mencuci tangan, karena cucian piring sudah habis alias sudah bersih semua.

"Suka sama cowok sih boleh-boleh aja, kamu lagi pula sudah besar. Yang penting enggak melupakan belajarnya, terus nilainya juga tetap bagus, enggak menurun atau dapat nilai jelek di sekolah." Crocos, Nanda.

"Abang tenang aja, aku enggak lupa belajar kok." Kata, Nisa.


Sementara itu, Toni perutnya semakin merasa keroncongan bagaikan sedang konser.


"Ini pasti masakanya belum matang, biasanya kalau makanan sudah siap aromanya sangat harum, bakal tercium sampai ke mana-mana." Batin, Toni.


Sementara itu, Lisa dan keluarganya baru selesai shalat magrib. Lisa merasa lapar, ia bertanya-tanya dalam hati mengapa, ibunya enggak membuat makanan. "Ibu malam ini masak apa?"

"Ibu malam ini enggak masak, nasi uduk yang tadi pagi masih banyak. Gimana, mau makan sekarang? Atau mau dipanaskan dulu?" Balas, bu Agus.

"Aku sebenarnya sudah lapar, rasanya sudah ingin makan, tetapi terserah sih kalau mau dihangatkan. Ayah dan ibu maunya gimana? Mau dihangatkan dulu apa enggak, kalau mau dihangatkan, aku tak ambil dulu." Tambah, Lisa.

"Aku juga sudah lapar, enggak usah dihangatkan langsung, kita makan bersama-sama pasti enak." Sambung, pak Agus.


Bu agus mengangguk mengiyakan, lalu menyiapkan makan malam.


Sementara itu, Nisa dan keluarganya siap-siap shalat isya, suara azan sudah berkumandang.


"Kita mau shalat di masjid atau di rumah lagi?" Tanya, pak Adam.

"Kalau shalat di rumah, kamu berarti yang memimpin shalat.

"Ayahlah yang ngimamin shalat, aku enggak bisa, aku bacanya kurang lancar." Kilah, Nanda.

"Kamu itu sukanya alesan, ayah enggak percaya kalau bacanya kurang, kamu sudah bisa baca sejak SD. Ayah enggak mau tahu, kalau mau shalat jamaah di rumah, ya, kamu yang menjadi imamnya." Ucap, pak Adam.


Nanda akhirnya mau menjadi imam, ia mengambil air wudhu paling pertama. Setelah semuanya wudhu, shalat dimulai, Nanda memimpim shalat suaranya merdu. Shalat berjalan dengan lancar dari awal sampai selesai, dilanjut dhikir dan doa.


"Nah, itu nyatanya bisa mimpin shalat, bacaannya juga lancar." Komentar, pak Adam.


Nanda hanya diam, sambil senyam-senyum enggak jelas, ia bingung mau membalas ucapan, ayahnya dengan cara apa.


Sementara di tempat lain, Lisa dan kedua orang tuanya baru selesai makan malam. Perutnya sudah kenyang, enggak lapar dan bernyanyi lagi, bahkan makan malamnya terasa mikmat baginya.


"Ayah, kita mau shalat di rumah atau di masjid?" Tanya, Lisa.

"Ya di masjidlah orang cuacanya cerah kaya gini, kecuali hujan baru shalat di rumah. Kamu kalau ingin shalat di rumah, ya enggak apa-apa, tetapi shalat sendiri.

"Ucap, pak Agus.

"Enggak maulah, aku mau ikut ke masjid aja." Imbuh, Lisa.

"Ya sana siap-siap dulu, kalau mau ikut!" Seru, pak Agus.


Lisa mengangguk mengiyakan, lalu ke kamar mandi, untuk buang hajat dan wudhu. 20 mengit kemudian, Lisa dan kedua orang tuanya pergi ke masjid. Mereka jalan bareng-bareng, Lisa menaruh sandal di pojok.


"Awas jangan sampai lupa! Kalau naruh sandal di situ, pokoknya diingat-ingat sendiri!" Ujar, bu Agus.

"Iya tenang aja, aku enggak lupa kok." Sahut, Lisa.


Mereka masuk masjid ikomah dikumandangkan, mereka shalat dengan khusuk sampai selesai. Lisa selesai shalat matanya lirak-lirik ke sana ke mari, ia mencari sahabatnya.


"Nisa kok enggak kelihatan, ya, bu?" Ucap, Lisa.

"Dia di barisan depan kayanya, kita berangkatnya terlambat, makanya enggak ketemu." Jawab, bu Agus.

"Dia biasanya kalau berangkat duluan, aku pasti ditunggu di teras. Dia enggak biasa-biasanya enggak kelihatan, aku rasa enggak mungkin, dia shalat di barisan depan." Ucap, Lisa lagi.

"Ya sudah nanti pas chat-an, kamu tanya, dia kenapa enggak ke masjid. Akan tetapi belajar dulu sebelum chating-an, nilai sekolahmu biar bagus, biar enggak dapat nilai jelek." Sambung, bu Agus sambil berjalan pulang.

"Ibu jangan khawatir, aku enggak lupa belajar kok." Respons, Lisa.


Sementara di Desa sebelah, bu Tono sudah selesai masak.


"Alhamdulillah masakanku sudah siap untuk dinikmati, tetapi sudah isya, lebih baik shalat dulu aja." Batin, bu Tono. 

Komentar