Pada hari senin sore, 24-11-2025 di Kabupaten Batang Jawa Tengah, hujan lumayan deras, hawanya terasa dingin. Pukul 15.30, Lina keluar dari rumah tanpa payung, ia merasa aman karena hujannya tidak terlalu deras.
"Kayanya hujan-hujan kaya gini, makan cilok yang sangat panas cocok banget. Kalau gitu, aku mau beli, mudah-mudahan orangnya jualan." Gumam, Lina sambil melangkah di tengah hujan yang tak terlalu deras.
Lina bertanya-tanya dalam hati, sambil terus melangkah, menuju tempat penjualan cilok. Wajahnya benar-benar penuh harap, langkahnya pun benar-benar mantap. "Jualan tidak, ya? Dia kira-kira datang atau tidak, ya?"
Lina 10 menit lagi, langkahnya sampai ke lokasi penjual cilok biasanya mangkal, ia tak sengaja mendengar suara penjualnya. Sedang melayani pembeli dengan suara ramah, yang tak dibuat-buat.
"Alhamdulillah hujan-hujan gini, dia jualan, tidak seperti biasanya, kalau hujan tidak jualan. Ini memang rezekiku untuk menikmati cilok, untuk menghangatkan tubuh yang terasa dingin." Gumam, Lina sambil mempercepat langkahnya.
Lina sampai di dekat gerobak cilok, suasananya masih ramai banyak pembeli, Lina harus mengantre untuk beli. Tiba-tiba ada seorang wanita yang mendekat ke arah, Lina sambil memayungi dan bertanya dengan lembut. "Lina mau ke mana? Kok tidak bawa payung?"
"Aku mau beli cilok si, tidak mau kemana-mana, tadi hanya gerimis jadi, aku tidak bawa payung. Kamu sendiri akan kemana?" Balas, Lina.
"Sama si, aku juga mau beli cilok, soalnya lagi pingin. Kamu nanti pulangnya tak antar, ya!" Imbuhnya.
"Tidak usahlah, tidak apa-apa pakaianku basah, aku lagi pula belum mandi ni. Kamu siapa kalau, aku boleh tahu?" Balas, Lina lagi.
"Aku, Husna dulu, kita pas waktu kecil sering main bareng, loh." Jawabnya.
Lina merasa bahagia beli cilok malah bertemu dengan teman lama, yang sudah sekian waktu tidak pernah bersua.
"Iya, aku ingat, kamu yang rumahnya di kampung sebelah timur itu kan? Kamu kemana aja, kok tidak pernah terdengar kabarnya?" Crocos, Lina.
"Iya benar, kamu kok masih ingat rumahku? Kita padahal sudah lama banget, tidak pernah main bareng, tidak pernah ketemu. Aku di rumah aja si selama ini, maklumlah kalau dirimu bingung, aku jarang sempat main." Kata, Husna.
Pembeli sudah lumayan berkurang, penjual cilok pun berucap. "Lina dulu, ya yang tak layani!"
Husna mengangguk mengiyakan sambil tersenyum.
"Lina biasa, ya tidak pakai kecap?" Kata penjualnya.
"Iya, mbak biasa pakai sambel kacang doang." Jawab, Lina.
5 menit kemudian, cilok sudah siap penjualnya menyerahkan, dalam kantong plastik berwarna hitam. Lina menerimanya dengan senang, lalu menyerahkan uang pembayaran, kakinya akan melangkah.
"Jangan pulang dulu tunggu, aku beli! Nanti pulangnya tak antar, biar tidak kehujanan, hujannya itu tambah deras." Ucap, Husna.
"Aku bisa pulang sendiri kok." Sahut, Lina.
"Kamu jangan pulang sendiri, nanti masuk angin!" Ucap, Husna lagi.
Lina akhirnya masih berdiri di samping kawannya, belum beranjak ke rumah. Pembeli mulai rame lagi, Husna belum dilayani oleh penjualnya, ia pun mengajak kawannya ngobrol, agar tidak pulang hujan-hujanan.
"Aku yang biasanya nyapa, kamu pas jalan-jalan di jembatan itu, loh. Aku kan kalau pagi suka beli laut dan sayur ke Desa sebelah, kamu biasanya jalan-jalan di jembatan." Jelas, Husna.
"Iya benar biasanya ada yang menyapa,aku pas jalan-jalan pagi hari di jembatan. Aku tidak tahu kalau itu dirimu, aku kan jalan kaki, suaramu kalah dengan suara sungai. Apalagi, kamu menyapa sambil naik motor, tambah tidak dapat kukenali suaranya. Sekarang anakmu berapa?" Balas, Lina.
"Anakku sudah tiga, Lin." Jawab, Husna.
Setelah itu, Husna menyerahkan uang pembayaran dan menerima cilok, karena sudah dilayani penjualnya. Husna menepati janjinya untuk mengantar, Lina agar pakaiannya tidak basah. Lina di perjalanan tanya pada kawannya, karena masih penasaran dengan anak-anak kawannya tersebut. "Anakmu usianya berapa si sekarang?"
"Yang pertama usianya 7 tahun, yang kedua usianya 5 tahun, yang terakhir baru 6 bulan si." Jawab, Husna.
Lina mengangguk merasa paham, ketika sampai di samping masjid, ia berucap pada kawannya. "Sudah sampai sini aja!"
"Ya tidak bisalah! Aku pokoknya mau mengantar sampai rumah!" Tandas, Husna.
Lina mau tidak mau akhirnya menurut, diantar kawannya sampai ke rumahnya.
"Kalau ke mana-mana bawa payung! Kalau tiba-tiba hujan, payungnya bisa langsung dipakai!" Tutur, Husna.
"Iya kalau tidak lupa." Jawab, Lina.
"Kalau dibilangin itu jangan ngeyel! Kalau jalan juga hati-hati! Soalnya jalan yang dicor kaya gini licin, kalau tidak hati-hati, kamu bisa terpeleset!" Tutur, Husna lagi.
Lina pun manggut-manggut mengiyakan ucapan temannya.
"Terima kasih, ya sudah diantar sampai rumah." Ujar, Lina.
"Iya sama-sama, kamu ganti baju biar tidak masuk angin, ya!" Balas, Husna.
Lina mengangguk mengiyakan, lalu masuk, ganti baju dan makan cilok. Husna pulang dengan payung besar di tangannya, untungnya tidak ada petir.
Selesai
Komentar
Posting Komentar