Rujak, aku ingin mencarimu di saat hatiku terluka, oleh kejamnya cinta.
Yang di luarnya terlihat manis dengan rayuan mautnya, ternyata di dalamnya penuh racun berpanah untuk membuat luka dalam dada.
rujak, aku bisa melupakan lukaku, saat menikmati dirimu di bawah pohon rindang, terasa sangat membahagiakan jiwa.
rujak kau memang penolongku di saat diriku sudah tak sanggup menyimpan segala derita.
Rujak aku terkadang suka menikmatimu dengan gorengan, seperti tempe mendoan atau bakwan.
Aku suka banget membelimu untuk dinikmati bersama kelapa muda, rasanya lezat banget menurutku.
Rujak, aku entah mengapa bisa jatuh hati denganmu.
Rujak menurutku rasamu seperti pelangi, ada pedas, asin, masam, dan manis dari aneka buahnya.
Rujak terkadang ada orang yang bilang, berarti sedang ngidam bila ingin menikmati dirimu.
Rujak dirimu memang makanan yang di sukai banyak orang, karena rasa enaknya menggoda untuk dinikmati setiap waktu.
Rujak dirimu terkadang digunakan saat hajatan, seperti diacara tuju bulanan orang yang sedang mengandung.
Namun, aku tak tahu, di Negara lain apakah ada makanan enak sepertimu.
Rujak rasamu sungguh segar, walau hanya terbuat dari buah-buahan.
Kau membuatku tergila-gila padamu, ingin menikmatimu setiap waktu, tanpa batasan.
Kau selalu hadir di setiap waktu, kau selalu terngiang-ngiang di pikiranku, tak pernah terlupakan.
Kau adalah salah satu makanan, yang terasa enak menurutku.
Rujak rasa pedasmu membuatku semakin jatuh cinta padamu.
Kau selalu hadir, walaupun panas, walaupun hujan, dengan senyuman manismu.
Tak berjumpa denganmu sehari saja, aku sudah merasa rindu.
Rujak, aku selalu menikmatimu, di temani musik yang sahdu.
Rujak, kau selalu menemaniku, dalam suka dan duka yang kujalani.
Rujak, kau selalu bersamaku, dalam senang dan susah yang kulalui.
Rujak, kau selalu hadir, dalam tangis dan tawa, yang singgah di hati.
Rujak, kau selalu menyapaku, dalam panas dan dingin yang kulewati.
Rujak saatku menikmatimu di bawah langit biru, yang terasa sahdu.
Rasanya sangat indah, benar-benar menenangkan hatiku.
Rujak, kau sungguh enak, walau dimakan dengan sendok dari daun.
Rujak, kau sungguh enak dimakan sambil menatap bintang.
Rujak, kau amat enak jika dimakan dengan sosok yang istimewa di hati.
Di bawah langit biru, saat hujan rintik-rintik menyapa bumi.
Di pedagang kaki lima, yang setiap sore selalu datang menghampiri.
Dengan suara khas, saat menawarkan dagangannya, sambil tersenyum manis bagaikan tebu alami.
Rujak, aku selalu merasa ketagihan dengan rasa lezatmu, yang menari-nari di pikiranku.
Aku ingin selalu mendapatkanmu, setiap singgah di pedagang kaki lima, yang menyapaku.
Aku ingin menikmatimu, saat Mentari menyapa bumi, untuk menghilangkan rasa dahaga dalam tubuhku.
Aku ingin menikmatimu di tepi sungai, sambil menikmati pemandangan yang indah menurutku.
Komentar
Posting Komentar