Pada suatu hari ada sepasang burung merpati, Tono dan Tini namanya, mereka sepasang suami istri yang belum dikaruniai anak. Mereka berjalan-jalan mengelilingi hutan di siang hari, saat mendapat buah pisang yang lezat, mereka memilih tempat di bawah pohon pinggir semak-semak.
"Adinda bagaimana kalau pisangnya, kita makan di bawah pohon yang rindang itu? Disana suasananya terlihat sejuk dan damai, kita bisa makan sambil istirahat sebentar." Kata, Tono.
"Iya, kakanda di sana juga terlihat sepi, kita bisa menikmati makanan ini dengan nyaman." Balas, Tini.
Mereka duduk sambil menikmati pisang susu yang lezat, tak lupa menyiapkan air kelapa untuk minumannya.
"Pisangnya enak banget, kakanda seperti mendapat makanan dari surga." Kata, Tini.
"Iya benar banget, kamu air kelapanya juga nikmat, kita harus bersyukur hari ini masih bisa makan dan minum. Air kelapa ini rasanya manis banget, seperti senyumanmu yang terasa manis bagiku." Kata, Tono.
"Kakanda ini bisa saja, kalau membuat hatiku berbunga-bunga." Imbuh, Tini sambil tersipu.
Mereka saking asyiknya mengobrol, tak sadar di belakangnya ada duri, yang nempel di semak-semak. Tono ekornya tak sengaja terkena duri, ia berteriak merasa kesakitan.
"Aduh sakit!!! Dinda tolong!!! Aduh sakit!!!" Ratapnya.
Tini yang berniat untuk menolong suaminya, ia malah kakinya ikut terkena duri.
"Kanda ini gimana? Aku berniat menolongmu, kakiku malah ikut sakit, aku tak bisa bergerak." Oceh Tini.
"Dinda kayanya ini sudah suratan takdir, kita akan tinggal di sini dengan duri yang menempel di tubuh, kita untuk selamanya. Karena, kita sendiri tak bisa melepas duri yang menempel pada tubuh, kita terus juga tak ada yang menolong." Ucap, Tono.
Tini hanya bisa mmengangguk mengiyakan ucapan suaminya sambil bersedih, air matanya menetes sedikit demi sedikit. Tiba-tiba ada seekor kera yang datang menghampiri, mereka sambil berkata. "Wah, niatnya ingin jalan-jalan sambil bermesraan, yang ada malah terkena duri di pinggir semak-semak."
"Dasar kera tua mulutnya usil, kita perasaan tak mengganggu dirimu. Mengapa dirimu mentertawakan, kita seperti itu?" Balas, Tono.
"Kalian lucu soalnya, yang satu ada duri di kakinya, yang satu ada duri di ekornya." Kata kera sambil membantu melepas duri dari tubuh, mereka dengan pelan.
Setelah itu, kera pergi mencari daun-daunan untuk menghentikan darah, mereka setelah durinya dicabut dari tubuh. Sepasang burung merpati itu tak merasa kesakitan lagi, mereka pun mengucapkan terima kasih pada kera. "Kau sudah baik pada, kita sayangnya kita malah berprasangka buruk padamu. Maafkan kita sudah menuduh yang bukan-bukan, kita tak tahu lagi apa yang akan terjadi jika, kau tak menolong. Kita tak tahu harus membalas perbuatan baikmu dengan apa." Kata, Tini.
"Itu sangat mudah jika, kalian ingin berbalas budi denganku. Kalian singgah di gubugku, yang ada di bawah pohon sebelah utara, aku ingin mencari makanan untuk anakku. Tolong jagalah kedua anakku! Mereka sedang tidur, aku takut kalau, mereka terbangun lalu mencariku." Kata, kera.
Sepasang burung merpati itu mengangguk mengiyakan, lalu menuju gubuk yang dimaksud kera tua. Sejam kemudian, kera tua itu sudah kembali membawa banyak sekali buah-buahan segar, mereka diberi mangga dan apel.
"Kau sekarang sudah bisa pergi, jika ingin melanjutkan perjalanan! Oh iya, Roro namaku ini kedua anakku, Sasa dan Sisi namanya." Kata kera tua.
"Iya baiklah, kita akan melanjutkan perjalanan, terima kasih sudah diberi banyak makanan juga. Kau jika butuh pertolongan panggil, kita sebanyak tiga kali! Tono dan Tini datanglah! Sebanyak tiga kali, kita pasti akan datang untuk membantumu sebisanya." Kata sepasang burung merpati.
Kera tua itu mengangguk mengiyakan,, iya perasaannya bahagia mendapat teman baru. Sementara itu, sepasang burung merpati melanjutkan perjalanannya, untuk mengelilingi keindahan hutan dari ketinggian sambil beromantisan.
Selesai.
Komentar
Posting Komentar