Suara jangkrik dan kodok sudah bernyanyi, untuk meramaikan suasana malam, di tempat masing-masing. Nanda ke dapur karena teringat susu coklat, yang tadi dibikin sebelum shalat isya.
"Susuku sudah dingin, tinggal tak tambah es batu. Pasti enak banget, rasanya juga segar, bagaikan minum di syurga." Batin, Nanda.
Setelah itu, Nanda menikmati susu dingin, di kursi plastik. Nisa mendekati saudaranya yang sedang duduk di kursi dapur, ia bertanya dengan tersenyum manis. "Bang malam ini jadi, jalan-jalan ke toko buku kan?"
"Ya jadilah, abang mau minum dulu sebentar, kamu jangan khawatir." Jawab, Nanda.
"Uangnya yang buat beli ada enggak?" Tanya, bu Adam.
"Ada kok, mamah tenang aja." Jawab, Nisa.
"Ya syukurlah kalau ada uangnya, kamu dapat uang dari mana? Mamah perasaan tadi cuma kasih, kamu uang sedikit, apa cukup buat beli buku?" Tanya, bu Adam lagi.
"Aku tadi dikasih uang sama, ayah cukup kok kalau cuma buat beli buku 2." Jawab, Nisa lagi.
"Ya sudah kalau gitu, semoga enggak kurang nanti pas beli buku." Imbuh, bu Adam.
Nisa menjawab hanya dengan anggukan, ia sudah enggak sabar perasaannya, ingin membeli buku-buku yang didambakan.
Sementara di tempat lain, Toni berjalan paling depan, saat pulang.
"Aku yang jalannya paling depan pasti, aku yang sampai rumah duluan." Kata, Toni.
"Pak Tono hanya tersenyum menyaksikan tingkah anak sulungnya, sambil berjalan menuju ke rumah, beriringan dengan istri dan anak perempuannya. Selesai shalat isya di masjid, pak Tono, bu Tono dan kedua anaknya berkumpul di meja makan. Bu Tono menyiapkan nasi di piring dengan cekatan, enggak lupa menambah pare dan tempe.
"Aku sudah enggak sabar, rasanya pingin makan banget." Kata, Toni.
"Cuci tangan dulu, kalau mau makan!" Kata, bu Tono.
"Aku sudah cuci tangan kok." Jawab, Toni.
"Kapan cuci tangannya, ibu kok enggak lihat?" Tanya, bu Tono.
"Tadi habis naruh peci, aku langsung cuci tangan." Jawab, Toni lagi.
Tangannya mengambil sendok, Toni juga menyiapkan air putih, dalam gelas.
"Nyam-nyam! Nyam-nyam! Ibu kalau masak memang enak, pedasnya juga terasa, terus enggak keasinan." Ucap, Toni.
"Kamu juga belajar dong, biar bisa bikin makanan enak juga." Sambung, pak Tono.
"Aku sudah belajar masak, tetapi belum berhasil masak yang enak. Rasanya masih keasinan, sudah gitu rasanya enggak enak, terus kaya kurang matang." Ucap, Toni lagi.
"Kamu berarti harus belajar lagi! Biar bisa masak yang enak terus jadi, chef yang sukses suatu saat nanti!" Sambung, pak Tono lagi.
Toni mengangguk mengiyakan sambil mengamini ucapan orang tuanya, walaupun belum tahu suatu saat nanti bakal seperti apa. Rani yang melihat menu makanan, ia enggak semangat sebab, ia enggak suka pare.
"Kok makanannya kok cuma dilihatin, dik? Kamu apa enggak lapar si?" Tanya, Toni.
"Iya, bang, aku sebenarnya lapar banget, berhubung ada parenya, aku jadi, enggak selera makan." Balas, Rani.
"Kan bisa dipilih tempenya aja, parenya taruh di pinggir. Kalau enggak suka sama pare, gitu aja kok bingung." Kata, Toni.
"Pare dan tempenya itu dipotong kecil-kecil jadi, susah kalau mau dipilihi tempenya doang." Balas, Rani.
Bu Tono menyambungi ucapan kedua anaknya sambil tersenyum dan menyendok nasi di piring. "Tempenya kalau susah dipilihi, ya sana bikin mie atau telur! Itu di dapur ada mie rebus, mie goreng, ada telur juga, tetapi masih mentah belum matang."
Rani langsung pergi ke dapur, membuka lemari, ia mengambil dua butir telur dan dua bungkus mie instan. Rani memasak mie sampai matang, lalu di taruh dalam wadah dan dicampur bumbunya. Setelah itu, ia membuka telur, terus di campur dengan mie yang sudah matang. Ia juga menambahkan irisan cabai agar ada rasa pedasnya, lalu telur yang dicampur mie tadi digoreng.
Sementara di tempat lain, Nisa dan Nanda sudah siap, hendak pergi ke toko buku. Mereka berpamitan sambil menyalami kedua orang tuanya, lalu mengambil sandal di rak.
"Tunggu sebentar, ya, dik! Abang mau cari kunci dulu, kayanya tadi ketinggalan di kamar dik." Kata, Nanda.
"Iya, bang jangan lama-lama, loh!" Jawab, Nisa.
"Iya tenang aja, abang enggak lama kok." Imbuh, Nanda.
Setelah itu, nanda berjalan ke kamar, ia mencari-cari kuncinya, matanya melirik ke sana kemari. "Kunciku di mana, ya? Tadi sore perasaan tak taruh di kasur, tetapi kok enggak ada si."
Ia membuka bawah bantal dan lipatan selimut, kuncinya tetap enggak ada sama sekali. "Perasaan kunciku tadi ada di sekitar sini, tetapi kok enggak kelihatan si? Kunci dirimu ada di mana si? Kunci ayuk buruan nongol, aku membutuhkanmu!"
Pak Adam yang melihat anak lelakinya sedang melamun dari kejauhan, mendekati dengan perlahan, lalu menepuk pundaknya dengan pelan.
"Ayah ini ngaget-ngagetin aja si, enggak tahu kalau, aku ini lagi bingung apa si. Dari pada ganggu enggak jelas, mending bantuin, aku gitu, loh." Kata, Nanda.
"Kamu bingung kenapa si? Kok sampai melamun kaya gitu?" Tanya, pak Adam.
"Aku ini lagi cari kunci motor, dari tadi kok enggak ketemu-ketemu. Aku yakin tadi tak taruh di kasur, tetapi lupa entah di sebelah mana." Kata, Nanda lagi.
"Kamu itu gimana si, nyari kunci di kasur, ya enggak bakalan ketemu. Kamu naruhnya di meja, tetapi lupa pantas aja nyari di kasur. Ya sampai tahun depan enggak akan ketemu, kamu yang ada capek doang." Crocos, pak Adam sambil tangannya menunjuk-nunjuk kunci yang ada di meja.
Nanda langsung bergegas ke meja, ia mengambil kunci sambil tersenyum. "Ayah terima kasih sudah memberi tahu di mana kunciku, aku yakin kalau enggak ada, ayah pasti kunciku enggak bakal ketemu. Aku keluar dulu, ya, ayah! Nisa di luar pasti sudah menunggu sampai lumutan gara-gara, aku cari kuncinya lama." Ucap, Nanda sambil kembali menyalami orang tuanya.
"Iya, nak hati-hati di jalan! Kalau naik motor juga jangan ngebut! Pulangnya juga jangan kemalaman, adikmu belum belajar, besok kan sekolah!" Respons, pak Adam.
Nanda mengangguk mengiyakan, sambil melangkah keluar langkahnya pun mantap, ia berlari agar saudaranya enggak cemas menunggu dirinya. Nisa menunggu sambil duduk di teras, abangnya sudah 10 menit enggak terlihat batang hidungnya.
"Abang kok lama banget si, tadi perasaan bilangnya cuma sebentar, dia pasti bohong nih. Awas aja kalau, aku tunggu 10 menit lagi, dia enggak datang. Aku bakal datangi kamarnya, aku tarik biar keluar." Batin, Nisa.
Ternyata belum ada 10 menit, abangnya sudah datang menepuk pundaknya sambil tersenyum.
"Abang kok lama banget si? Dari tadi ngapain aja?" Tanya, Nisa sambil cemberut.
Mantap lina
BalasHapusTerima kasih, ya.
HapusSemangat ya tar bisa jadi penulis terkenal.
BalasHapusAmin.
Amin, terima kasih doanya.
Hapus