KISAH CINTA, ANISA 16

Nanda menjawab pertanyaan saudaranya sambil tersenyum, iya enggak bermaksud untuk menunda perjalanannya ke toko buku. "Dik maaf banget, abang enggak bermaksud lama-lama, cuma tadi bingung pas nyari kunci, abang lupa naruhnya. Ayah untungnya bantu nyari jadi, kuncinya bisa ketemu, kalau enggak ketemu, kita batal pergi ke toko buku."

"Abang kebanyakan melamun mikir, kak Sinta si makanya sampai lupa, kuncinya ada di mana. Abang emang carinya ke mana? Terus itu kunci ketemunya di mana?" Balas, Nisa.

"Ih, enak aja, sembarangan aja kalau ngomong, kamu yang suka melamun memikirkan kenalan barunya kayaknya. Aku itu enggak mungkinlah melamun, orang setiap hari aja ketemu, dia terus. Aku cari kunci di kasur, ternyata kuncinya ada di meja." Jawab, Nanda.

"Abang ini ngacau, aku ngapain mikir itu cowok, kan bisa ketemu terus. Oh gitu ceritanya, ya sudah ayo berangkat sekarang! Kalau kelamaan atau terlalu malam, takutnya tokonya sudah tutup terus, kita enggak jadi, ke sana buat beli buku." Balas, Nisa lagi.

"Iya semoga sampai di sana toko bukunya belum tutup, abang juga ingin beli buku si." Kata, Nanda sambil menyalakan motornya.


Nisa mengiyakan sambil tersenyum, rasa cemberut di benaknya pun sirna, lalu naik ke atas motor. Setelah itu, motor melaju dengan kecepatan sedang, melewati pedesaan yang terasa asri.


Sementara di Desa sebelah, Rani kembali ke meja makan, dua telur dadar isi mie di piring.


"Kok dua bikinnya, dik? Kamu emang bisa menghabiskan makanan sebanyak itu?" Tanya, Toni sambil menikmati makanannya yang tinggal separuh.

"Aku, ya enggak habis, kalau menghabiskan makanan banyak kayak gini. Aku sengaja bikin dua, yang satu buat, abang biar sama-sama makan telur." Jawab, Rani sambil duduk di sebelah saudaranya.


Rani menaruh telur satu di piring, Tony lalu memberikan sayur tempe dan pare miliknya. "Abang ini sayurku untukmu!"


Toni akhirnya mau menerima sayur milik saudaranya, yang belum dimakan sama sekali. Makan malam di keluarga, pak Tono pun berlanjut dengan hikmat, walau dengan makanan sederhana. Rasa syukur membuat, mereka enggak merasa kelaparan atau merasa kurang makanannya.


Sementara itu, Lisa yang mau belajar penanya habis, ia pun pergi ke warung.


"Kamu mau ke mana? Waktunya belajar kok malah mau main si?" Tanya, bu Agus.

"Aku mau beli pena, ibu soalnya sudah habis, aku bingung mau nulis pakai apa. Sudah gitu, aku enggak punya pena cadangan jadi, aku harus beli dulu kalau kehabisan kayak gini." Jawab, Lisa.

"Ya sudah kalau gitu, perginya jangan lama-lama! Habis beli langsung pulang, jangan mampir ke mana-mana!" Pesan, bu Agus.


Lisa mengangguk mengiyakan sambil tersenyum, Iya mengambil sandal kesayangannya terus keluar menuju warung sebelah barat. Lisa merasa beruntung perjalanannya enggak sia-sia, karena warungnya masih buka.


"Beli, bu!!! Beli, bu!!!" Seru, Lisa.

"Beli apa, nak?" Tanya penjualnya.

"Mau beli buku tulis dan pena, bu." Jawab, Lisa.

"Nak bolpoinnya sudah habis, soalnya tadi sore banyak yang beli. Coba beli di warung sebelah timur!" Kata penjualnya.


Lisa mengiyakan, Iya memahami kalau banyak sekali yang ingin menulis sehingga, alat tulisnya terjual laris. Lisa berjalan melewati rumah-rumah di desanya, menuju ke warung sebelah timur. Ia sampai di sana, lampunya sudah padam warungnya pun tutup, ia mrasa kecewa. Tiba-tiba ada ibu-ibu yang bertanya padanya dengan ramah, saat melihat dirinya berhenti sejenak, di depan warung. "Maaf cari apa, ya, dik?"

"Ini, bu mau beli pena, malah warungnya enggak buka. Ini bukanya kalau siang aja, ya, Bu?" Balas, Lisa.

"Biasanya buka sampai pukul 21.30, berhubung orangnya sedang pergi ke Pinggiran Kota dari tadi pagi. Di sana ada keluarganya yang sedang mengadakan acara jadi, warungnya tutup. Adik kalau mau belanja di warung sebelah barat, tadi kayaknya si masih buka." Jelasnya.

"Ya sudah kalau gitu, Bu terima kasih banget atas penjelasannya. Kalau gitu, aku permisi dulu, ya, Bu!" Kata, Lisa.

"Iya, nak semoga di warung sebelah barat sekarang belum tutup, kamu bisa belanja di sana. Jalannya hati-hati soalnya sudah malam! Kata, ibu-ibu tersebut.


Lisa mengangguk mengiyakan sambil menyalaminya, lalu berjalan ke rumahnya, dengan hati sedih.


"Assalamualaikum!!" Seru, Lisa sambil melepas sandal.


Bu Agus langsung bergegas ke depan untuk membukakan pintu, saat mendengar suara anaknya dari luar rumah.


"Waalaikumsalam, gimana beli penanya, sudah dapat belum? Kamu kok perginya lama, apa di sana ramai, terus mengantre?" Tanya, bu Agus.

"Aku tadi lama itu bukan berarti warungnya rame tetapi tadi penanya yang enggak ada di warung barat. Aku tadi disarankan buat beli di warung sebelah timur, sayangnya pas sampai di sana warungnya tutup. Katanya tetangga yang punya warung, yang rumahnya pas di depannya itu, orangnya sedang bepergian makanya warungnya tutup. Ibu punya pena yang masih ada isinya, apa enggak si?" Crocos, Lisa.

"Ibu sedang enggak punya pena, sudah habis kemarin, buat menulis penghasilan jualan telur bebek, alias telur asin. Kamu beli saja satu pak sekalian di toko besar, sekalian beli bukumu yang sudah habis atau rusak! Ayah nanti disuruh mengantar, tunggu sebentar lagi, tadi masih mengantar telur ke salah satu pembeli!" Kata, bu Agus.


Lisa mengangguk mengiyakan apa kata, bu Agus, ia menunggu kedatangan, pak Agus di kursi teras. Beberapa menit kemudian ada suara motor, memasuki halaman rumah, Lisa merasa lega.


"Kamu ngapain malah duduk disini? Kamu sekarang waktunya belajar kan, ada pr yang harus dikerjakan kan?" Tanya, pak Agus.

"Aku bingung ayah, penanya habis, aku enggak bisa mengerjakan pr." Jawab, Lisa.

"Ya belilah kalau habis." Kata, pak Agus.

"Aku tadi sudah ke warung, yang satu warungnya tutup, terus warung yang satu lagi barangnya enggak ada." Jawab, Lisa.

"Ya sudah kalau gitu, kita ke toko besar saja! Tunggu sebentar, ya, ayah mau ambil uang dulu!" Kata, pak Agus.


Lisa mengangguk mengiyakan ucapan, ayahnya lalu mengambil sandal, yang tadi sudah disimpan dalam rak sepatu.


Sementara itu, Nisa dan Nanda sudah sampai di toko buku, mereka memilih buku yang diinginkan. Nanda membeli 2 buku tentang materi sastra dan sejarah, Nisa memilih novel midnight restaurant dan midnight hospital.


"Kamu cuma pilih novel dua doang?  Enggak ingin beli buku yang lain?" Tanya, Nanda.

"Aku sebenarnya juga ingin beli kamus bahasa Indonesia dan buku sejarah, tetapi uangku pas-pasan, cuma bisa buat beli dua novel. Jadi, lain kali aja deh beli bukunya, kapan-kapan bisa ke sini lagi." Jawab, Nisa.

"Ambil aja dulu bukunya! Abang yang bayar nanti, kalau uangnya beneran kurang! Soalnya bulan depan kalau, abang pulang lagi, kita belum tentu bisa ke toko buku ini." Imbuh, Nanda sambil melihat-lihat berbagai buku yang terpajang di rak. 

Komentar