Nisa menuruti ucapan saudaranya, ia mengambil kamus bahasa Indonesia dan buku sejarah.
"Abang yakin mau bayarin, kalau uangku kurang?" Tanya, Nisa.
"Ya yakin lah sudah, kamu tenang saja, jangan khawatir. Abang emangnya enggak terlihat sungguh-sungguh gitu?" Balas, Nanda.
"Aku bukannya enggak yakin, cuma ingin memastikan aja kok." Imbuh, Nisa.
Nanda mengangguk mengerti, lalu melanjutkan mencari novel yang diinginkannya.
"Abang mau beli novel apa si? Kayanya dari tadi kok belum ketemu-ketemu, ya?" Tanya, Nisa sambil mengikuti langkah saudaranya menuju rak novel.
"Abang ingin beli novel rumah hantu di perkebunan karet, ternyata tempatnya ada di sini. Berhubung barangnya sudah ketemu sekarang, kita ke kasir yuk!" Kata, Nanda.
Nisa mengangguk mengiyakan, ia berjalan beriringan dengan, Nanda untuk menuju ke kasir. Semua buku dan novel yang dibeli, Nisa setelah dihitung ternyata uangnya masih sisa, enggak kurang. Nisa perasaannya amat bahagia walaupun enggak jadi, dibayarkan saudaranya tetap senang, ia masih punya uang sisa buat jajan. Nanda setelah membayar buku dan novel yang dipilihnya mengajak, Nisa pulang agar sampai rumah nggak terlalu malam.
"Sudah, ya habis ini pulang, enggak usah mampir kemana-mana. Soalnya sampai rumah sudah terlalu malam, kita bisa dimarahin nanti. Kamu juga enggak bisa belajar atau mengerjakan pr, takutnya besok di sekolahan dapat hukuman." Ucap, Nanda.
Nisa mengangguk mengiyakan karena apa yang dibilang, Nanda itu ada benarnya. Nanda menjalankan motornya dengan kecepatan sedang, ia berharap enggak ada hujan sebelum sampai rumah.
Sementara itu, Lisa dan pak Agus pergi ke toko buku dan peralatan sekolah menggunakan motor, mereka berjalan melewati rumah-rumah warga. Namun, baru melewati rumah beberapa warga, ada tragedi yang tak terduga.
"Dor!!!!" Suaranya.
Lisa yang mendengar suara tersebut, ia merasa penasaran dan bertanya. "Ayah dengar apa enggak si, barusan ada suara ledakan?"
"Kamu ternyata dengar juga suara itu, tak kira hanya, ayah yang dengar." Balas, pak Agus.
"Ya dengarlah orang suaranya keras kayak gitu, apa jangan-jangan ada bom, ya? Kok horor banget si, di perkampungan ada suara bom." Tambah, Lisa.
"Ya sudah kalau gitu, ayah cek dulu, sebenarnya ada apa. Kamu turun dulu sebentar!" Kata, pak Agus.
Lisa mengangguk mengiyakan, ia turun dari boncengan motor menunggu, ayahnya mengecek apa yang sebenarnya terjadi.
"Ini yang bunyi bukan suara bom, tetapi bannya bocor terkena paku. Kita mampir ke bengkel dulu, ya sebelum ke toko buku! Motornya biar enak dipakai, kalau bannya bocor enggak enak rasanya dipakai buat jalan." Kata, pak Agus.
"Iya, ayah enggak lama kan?" Tanya, Lisa.
"Semoga enggak ngantre, terus motornya bisa ditangani dengan cepat." Jawab, pak Agus.
"Amin, semoga enggak lama beneran." Sambung, Lisa.
Mereka mampir ke tempat tambal ban terdekat, beruntungnya motornya langsung dapat penanganan sehingga, enggak lama menunggunya. Mereka sampai di toko buku, Lisa langsung memilih pena berwarna biru satu pak dan buku tulis isi 12.
Sementara itu, Nisa dan Nanda sudah sampai di rumah, pak Adam dan istrinya menyambut di teras.
"Assalamualaikum!!!!" Ucap keduanya dengan kompak.
"Waalaikumsalam, kalian kok cepat banget pulangnya? Apa enggak jadi, ke toko buku karena sudah tutup?" Tanya, pak Adam karena enggak melihat buku yang, mereka beli di dalam tas.
"Kita sudah beli buku kok, emang sengaja enggak mampir mampir. Biar bisa pulang cepat lagi pula, Nisa harus belajar biar enggak kemalaman." Jawab, Nanda.
"Mana bukunya, kalian kok enggak bawa buku?" Tanya, bu Adam.
"Ini bukunya, mah." Jawab, Nisa sambil menunjuk tas.
Bu Adam pun paham dengan penjelasan anaknya, ia mengangguk sambil tersenyum. Pak Adam pun mengajak istri dan kedua anaknya ke dalam rumah.
"Ayuk masuk! Yang ada tugas sekolah, ya segera dikerjakan! Yang ingin nonton film atau musikan, ya silakan asal jangan ganggu yang lain!" Kata, pak Adam sambil berjalan masuk.
Mereka semua sudah ada di dalam rumah, pak Adam dan istrinya menonton tv, Nisa membuka buku untuk belajar, Nanda membaca novel yang barusan dibeli.
Sementara itu, Lisa dan pak Agus sudah sampai di rumah, mereka enggak terkena hujan, walau langit sudah terlihat mendung. Lisa turun dari motor langsung berlari ke rumah, ia langsung membuka buku untuk mengerjakan PR, agar mendapat nilai yang bagus di sekolah. Pak Agus memasukkan motor di garasi, lalu mengunci semua pintu rumahnya.
20 menit kemudian, langit menangis dengan kencang, membuat hawa terasa sejuk.
Lisa selesai belajar membuka hp, karena enggak ada petir walaupun hujan.
"Kamu lagi apa, Nis? Kamu sudah menggarap PR apa belum?" Tanya, Lisa lewat chat.
Nisa yang baru selesai belajar langsung membuka hp, ia merasa bahagia ada chat dari sahabatnya.
"Aku baru saja selesai mengerjakan pr, sendiri lagi apa?" Balas, Nisa.
"Kalau gitu sama dong, aku juga baru selesai mengerjakan pr. Kamu tadi ke mana, kok enggak ke masjid, pas waktu shalat magrib dan isya?" Ucap, Lisa.
"Aku salat berjamaah di rumah bersama, abang dan kedua orang tuaku. Makanya tadi, aku enggak ke masjid, kamu kangen, ya?" Goda, Nisa.
"Kamu kok pd banget si, aku cuma ingin tahu doang kok. Wah, besok jangan-jangan diantar sama, abangnya ke sekolahnya, enggak naik angkutan seperti biasanya." Ucap, Lisa lagi.
"Aku nggak tahu juga si, ya lihat besok, aku diantar atau naik angkutan. Gimana tadi jadi, pergi ke toko cd, buat beli film yang belum punya?" Sambung, Nisa di chat.
"Aku tadi sore jadi, ke sana beli cd, aku rasanya deg-degan banget pas mau bayar. Orang dari awalnya niat pingin beli satu cd, aku pas di sana liat dua cd bagus semua terus, aku belum punya semua. Aku akhirnya beli dua-duanya, pas bayar takut uangnya kurang, ternyata masih ada sisa. Aku perasaannya jadi, lega pas bayar uangnya enggak kurang." Cerita, Nisa.
"Kalau gitu sama kayak nasibku tadi di toko buku, aku ingin beli buku 4 takut uangnya kurang. Untungnya tadi si ke sana sama, abangku, dia bilang kalau uangnya kurang mau dibayarin, tetapi alhamdulillah uangnya malah masih ada sisanya." Sambung, Nisa.
Waktu semakin malam, Nisa matanya sudah mengantuk berat ibarat lampu tinggal 5 watt, ia pamitan pada sahabatnya. "Aku tidur duluan, ya soalnya sudah ngantuk ni, aku sudah enggak sanggup lagi buat chat-an lebih lama. Maaf, ya tak tinggal, aku enggak bisa nemenin lebih lama lagi."
"Iya enggak apa-apa, aku juga sudah ngantuk, sudah ingin tidur. Sampai jumpa besok di sekolah, ya!" Balas, Lisa.
Nisa mengiyakan lalu mematikan ponsel, ia mengambil selimut dan bantal untuk tidur dengan nyaman. Lisa pun melakukan hal yang sama, mematikan ponsel lalu tidur menggunakan selimut yang hangat.
Komentar
Posting Komentar