KISAH CINTA, ANISA 18

Malam telah berganti pagi, Hawa masih terasa sejuk, suara ayam berkokok membangunkan seisi rumah. Nanda sudah terjaga dari sebelum ada suara ayam, Iya penyakit isengnya kambuh.


"Dik bangun, sudah pagi!" Kata, Nanda sambil menggelitiki kaki adiknya.


Nisa hanya menggeliat, ia enggak terpengaruh dengan keisengan saudaranya. Nisa malah menutup tubuhnya dengan selimut sampai leher, agar semakin nyaman tidurnya. "Apaan si ganggu aja, aku masih ngantuk, bang. Lagian belum subuh, baru jam 03.30, aku mau tidur 5 menit lagi."


Nanda enggak menyerah, mendengar jawaban adiknya, yang susah dibangunkan. Nanda menyeggol-nyenggol selimutnya dengan bantal kecil, adiknya agar cepat bangun. "Kalau tidur lagi nanti kesiangan, terus ke sekolahnya terlambat, loh, dik. Ayam aja sudah berkokok tiga kali, ia ingin membangunkan seluruh isi rumah tuannya, biar enggak kesiangan."

"Emang ayamnya bisa bicara?" Tanya, Nisa matanya masih terpejam, ia belum mau bangun.


Nanda hanya tertawa, mendengar pertanyaan adiknya, ia malah berucap. "Kamu kalau enggak percaya coba sana tanya, mamah pasti mengiyakan pertanyaanmu, kalau ayam membangunkan seluruh isi rumah. Kamu si enggak dengar, dia tadi memanggil-manggil gini, loh. Ayo ayo, pak Adam, bu Adam, Nanda dan Nisa bangun sudah pagi!"

"Abang paling ngarang, aku enggak percaya, ayam bisa ngomong." Kata, Nisa sambil balik arah.


Nanda masih enggak menyerah, ia mencubit pipi adiknya tanpa henti, agar terbangun.


"Abang nakal banget si, aku pipinya dicubit, ini bukan kue bolu, loh. Aku bakal bilang ke, mamah dan ayah, abang sudah cubit pipiku." Ucap, Nisa sambil cemberut.


Nisa akhirnya terjaga, walaupun masih berbaring di dalam selimut. Ia merasa sebal, padahal belum subuh, tetapi sudah diganggu suruh bangun.


"Sana laporin aja ke mamah dan ayah, aku enggak takut kok. Mamah kan sangat menyayangiku jadi, enggak mungkin banget, aku dihukum." Tantang, Nanda.


Sementara itu, Lisa alarmnya bunyi, ia terbangun hanya mematikan alarm lalu tidur lagi. "10 menit lagilah, aku masih ngantuk, kemarin mengerjakan tugas bahasa inggris sampai malam."


Lisa kembali merebahkan diri, ia menutup selimutnya rapat-rapat. 30 menit kemudian, suara adzan terdengar nyaring, dari masjid Desa. Pak Agus dan istrinya sudah terjaga dari alam mimpi, mereka pun bergegas ke belakang, mengambil air wudhu. Mereka bingung merasa suasana masih sepi, anak semata wayangnya belum terlihat batang hidungnya.


"Lisa ke mana, ya, pak? Dia apa belum bangun, ya?" Tanya, bu Agus.

"Ibu nanti sebelum sholat, coba lihat di kamarnya! Dia kalau belum bangun di bangunkan, jangan sampai kesiangan dan enggak melakukan shalat subuh!" Tegas, pak Agus.


Bu Agus mengangguk mengiyakan ucapan suaminya, ia selesai mengambil air wudhu, langsung bergegas ke kamar anaknya. Pintu kamar anaknya masih tertutup, bu Agus langsung masuk, rupanya lampu tidur masih menyala, Lisa masih berbaring nyaman di dalam selimut.


"Bangun sudah pagi, nak!" Kata, bu Agus sambil menggoyang-goyangkan tubuh anaknya.

"Nanti dulu, 5 menit lagi, bu." Jawab, Lisa sambil pindah posisi.

"Enggak ada 5 menit lagi, kamu nanti terlambat ke sekolahnya! Ayo buruan bangun! Masa sih kalah sama ayam bangunnya, ayam sudah berkokok dari tadi, kamu belum bangun." Crocos, bu Agus.


Lisa akhirnya terbangun dengan malas-malasan, ia tak ingin mendengar ibunya mengomel lebih lama lagi. Ia duduk sebentar mengumpulkan nyawa sambil melipat selimut, lalu bertanya dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Sekarang jam berapa, bu?"

"Sekarang sudah jam 6 kayaknya, buruan sana subuhan!" Balas, bu Agus.


Lisa mendengar jawaban orang tuanya bahwa waktu sudah siang, ia langsung berlari menuju kamar mandi, untuk mengambil air wudhu dan menunaikan shalat subuh. Pak Agus dan istrinya pergi ke masjid hanya berdua, mereka berjalan santai karena di masjid belum iqomah jadi, enggak akan ketinggalan shalatnya. Lisa saat mengambil mukena, ia mendengar kumandang iqomah dari masjid.


"Ya Allah, ibu rupanya cuma ngerjain doang, ini ternyata baru subuh. Aku pikir sudah siang beneran, aku sudah terlambat untuk menunaikan kewajiban pada yang maha kuasa. Ternyata masih ada banyak waktu untuk subuhan, aku ternyata enggak kesiangan, aku kok mau-maunya sih dikerjain. Aku mau protes nanti kalau pagi ini dikerjain sama, ibu pas waktunya sarapan." Batin, Lisa sambil menggelar sajadah.


Sementara di tempat lain, Nisa sudah beranjak dari kasur, iya mandi sebelum subuh.


"Akhirnya pasangan book ini hilang juga pasti bawa mandi, walaupun sebenarnya rasanya dingin, tetapi sangat menyegarkan di tubuh ini." Batin, Nisa sambil mengeringkan tubuhnya dan memakai baju.


Setelah itu, Nisa mengambil air wudu karena suara azan sudah berkumandang, ia melaksanakan shalat di rumah bersama keluarganya.


"Yang menjadi imam, kamu, ya, le!" Pinta, pak Adam.

"Ayah aja yang mimpin shalatnya, aku mau menjadi makmum aja." Jawab, Nanda.

"Ya enggak bisa, kamu harus jadi imam! Kelak kalau istrimu ingin shalat berjamaah di rumah denganmu, kamu enggak grogi pas memimpin shalatnya." Ujar, pak Adam.

"Aku kan tadi malam sudah belajar menjadi imam, pas waktu isya." Protes, Nanda.

"Kalau diperintah sama orang tua itu enggak boleh membantah, sebagai anak itu harus nurut sama orang tuanya." Ujar, pak Adam.


Nanda mendengar hal itu akhirnya menurut, ia bersedia menjadi imam. Shalat berjalan dengan lancar dari awal sampai akhir, Nanda memimpin shalat dengan suaranya yang merdu, shhalat pun terasa sahdu.


Sementara itu, Lisa usai shalat dan berdoa, ia mengambil handuk dan menyiapkan pakaian.


"Aku mau mandi biar tubuhnya bau wangi, biar rasanya segar dan enggak ngantuk lagi." Batin, Lisa sambil melangkah ke kamar mandi.


Pak Agus dan istrinya baru pulang dari masjid, mereka mengucap salam bersama dengan kompak.


"Assalamualaikum!!!"

Namun, mereka salamnya tak terjawab, Lisa masih asik di kamar mandi belum selesai. Ia masih menikmati sabun dan sampau yang aromanya wangi sangat menenangkan hati, ia malah tak mendengar orang tuanya mengucap salam. Pak Agus yang khawatir anaknya habis subuhan tidur lagi, menyuruh istrinya untuk mengecek di kamarnya. "Coba ditengok, bu, Lisa barangkali tidur lagi!"


Bu Agus mengyakan lalu berjalan ke kamar anaknya, ia melongok ternyata enggak ada orangnya.


"Lisa enggak ada di kamar, dia lagi mandi kayanya." Lapor, bu Agus.

"Ya sudah kalau sedang mandi, yang penting enggak tidur lagi." Balas, pak Agus sambil menyetel tv untuk menonton berita.


Bu Agus ke dapur untuk menyiapkan teh hangat dan sarapan, untuk suami dan anaknya dengan semangat dan penuh cinta. 

Komentar