Lisa selesai mandi dan berganti pakaian, ia mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu dan menjemur pakaian.
"Ibu ini cuciannya sudah semuanya? Tinggal jemur aja kan?" Tanya, Lisa.
"Iya itu sudah tak cuci semua, kamu tinggal njemur aja. Bajumu yang kotor taruh aja di mesin cuci! Ibu nanti yang mencuci sekalian sama baju, ibu yang masih tak pakai." Jawab, bu Agus.
Lisa mengangguk mengiyakan sambil membawa cucian seember keluar, ia menjemur dengan hati-hati, agar enggak ada pakaian yang jatuh. Matahari sudah hadir menyapa bumi dengan tersenyum, walaupun panasnya belum terasa, Lisa setelah menjemur pakaian terakhirnya tersenyum, hatinya merasa lega satu pekerjaannya telah selesai. Ia masuk ke rumah, lalu mengambil sapu dan berkata pada orang tuanya. "Ibu, aku pagi ini cuma bisa menyapu ngepelnya nanti sore pas pulang sekolah, aku soalnya takut terlambat. Maaf banget, ya, ibu enggak bisa membantu sepenuhnya, seperti pas hari libur, buat bersih-bersih rumah."
"Ya tidak apa-apa, ibu mengerti kok." Respons, bu Agus.
Sementara di tempat lain, Nisa dan Nanda setelah selesai shalat subuh, mereka berbagi tugas untuk aktivitas di rumah.
"Aku yang jemur baju, abang yang nyapu dan ngepel, ya? Biar pekerjaan rumah cepat selesai terus, kita berangkatnya enggak terlambat gitu." Kata, Nisa.
Nanda mengangguk mengiyakan, lalu berucap pada adiknya. "Aku si enggak masalah kalau harus nyapu dan ngepel, aku juga enggak masalah kalau harus nyuci piring. Masalahnya itu kalau, kamu jemur pakaian, apa seragammu enggak basah, dik?"
"Abang tenang aja jangan khawatir, ini kan sudah dikeringkan pakai mesin cuci. Jadi, aku enggak takut kena airnya atau basah pas menjemur, aman kok enggak ada yang bakalan kotor terkena air bekas cuciannya, bang."
"Oh gitu, dik, ya sudah mari, kita kerjakan tugas masing-masing! Biar tugasnya cepat selesai terus, kita enggak terlambat pas berangkat." Kata, Nanda.
Nisa pun mengiyakan apa kata saudaranya, lalu mengangkut keranjang isi pakaian keluar untuk dijemur. Nanda langsung beraksi menyapu dan mengepel, ia mengerjakannya sambil mendengarkan musik, lewat hp yang ditaruh dalam saku celananya.
Sementara itu, Lisa sudah selesai bersih-bersih rumah, ia duduk di meja makan bersama kedua orang tuanya. Nasi, sayur pare dan genjer serta telur asin sudah tersedia di meja. Lisa sebelum menikmati sarapannya, protes pada ibunya, yang duduk di sebelah kanannya. "Ibu ini gimana sih! Tadi pagi orang masih subuh, bilangnya sudah siang jam 06.00, aku kira beneran. Usai shalat subuh, aku lihat jam ternyata masih pagi."
Bu Agus tertawa sebelum menjawab ucapan anaknya, sambil menyendok nasi yang akan disantap. "Haha!!!! Haha!!!! Kamu sih dibangunin susah banget, ya sudah akhirnya, ibu kerjain."
Lisa menyambungi ucapan ibunya, sambil mengupas telur asin secara pelan-pelan, agar enggak terkena cangkangnya. "Aku itu sebenarnya enggak begadang, gara-gara mengerjakan PR bahasa inggris yang agak susah, aku jadi, tidur lumayan malam. Aku padahal sudah pasang alarm, tetapi nyatanya pas alarm bunyi, aku malah enggak dengar."
"Ya jelas, kamu enggak dengar suara alarm, kamu aja tidurnya pules banget. Itu alarm sebenarnya bunyi, kamu aja yang enggak dengar." Jawab, pak Agus.
"Sudah-sudah, kalian itu jangan ribut aja! Ini sudah siang, buruan sarapan! Biar berangkat kerjanya enggak kesiangan, Lisa juga ke sekolahnya enggak terlambat." Sambung, pak Agus dengan tegas.
Lisa dan bu Agus pun terdiam, mereka menikmati sarapannya dengan nikmat, walaupun dengan makanan sederhana.
Sementara itu, Nisa sudah selesai menjemur pakaian, Nanda sudah selesai menyapu dan mengepel rumah. Mereka bergegas kemeja makan, bu Adan sudah menyiapkan minuman hangat dan sarapan. Dengan menu sup ayam, telur dadar, bakso goreng dan sambal.
"Wah, ada sarapan istimewa ini, baunya aja sedap sekali. Aku jadi, semangat sarapannya, asli masakan, mamah itu paling enak sedunia." Kata, Nisa sambil mengambil bakso goreng dan sambal.
"Ya jelas dong, mamah masak istimewa kan untuk anaknya yang paling ganteng." Sambung, Nanda.
"Abang itu pd amat si, orang tampangnya biasa aja, ya sok ngaku ganteng." Balas, Nisa sambil menyendok makanannya.
"Kamu enggak tahu si, abangmu ini paling ganteng sedunia." Kata, Nanda sambil mengambil sambal.
"Abang coba ngaca, pasti wajahnya pas-pasan, enggak ganteng sama sekali. Itu aja kalau kacanya mau sama, abang terus enggak retak atau pecah." Ledek, Nisa.
"Ya kacanya pasti maulah, kalau sama orang ganteng." Imbuh, Nanda sambil menyendok nasi.
"Ya enggak mungkinlah kacanya enggak retak, buat orang yang mukanya pas-pasan kaya, abang." Protes, Nisa.
Pak Adam pun angkat bicara mendengar pertengkaran, mereka yang enggak ada habisnya. "Kalian itu jangan ribut terus, ayuk cepetan sarapan! Kalau enggak sarapan-sarapan, kalian nanti berangkatnya terlambat, loh!"
Nisa dan Nanda akhirnya terdiam, mereka mulai menikmati sarapan dengan serius.
Sementara itu, Toni sudah siap untuk pergi ke sekolah, ia selesai sarapan bersama keluarganya. Rani juga sudah cantik, iya menggendong tas di punggung sambil berpamitan pada kedua orang tuanya. "Ayah, ibu, aku berangkat dulu! Shila sudah menungguku soalnya kasihan kalau, aku kelamaan nyamperinnya."
"Kamu enggak berangkat bareng, abangmu aja si?" Tanya, bu Tono.
"Aku enggak mau berangkat bareng, abang nanti dikiranya pacaran lagi. Kalau berangkat bareng, Shila aman enggak ada yang mengira pacaran." Balas, Rani.
"Ya sudah kalau gitu, kamu hati-hati di jalan! Pulang sekolah jangan mampir kemana-mana, langsung ke rumah! Kamu di sekolah juga jangan nakal sama teman-teman, terus juga jangan membolos!" Imbuh, pak Tono.
Rani mengangguk mengiyakan, ia keluar rumah sambil menyalami kedua orang tuanya. Rani sebenarnya sekolah di SMP Negeri 1 biru putih, ia lebih senang berangkat bareng sahabatnya, dari pada berangkat dengan abangnya, walaupun perjalanannya satu arah.
Toni pun melakukan hal yang sama, ia sudah menggendong tas dan menyalami kedua orang tuanya. "Aku pergi ke sekolah dulu, ya!"
"Iya, nak hati-hati di jalan! Kamu belajar yang benar, ya jangan sampai membolos!" Ujar, pak Tono.
Toni mengangguk mengiyakan, ia berjalan ke halte untuk menanti angkutan bersama kedua sahabatnya. Toni sudah membayangkan, nanti di Desa sebelah, Nisa bakal naik angkutan yang sama dengannya.
Sementara itu, Nisa dan keluarganya sudah selesai sarapan, Nisa akan pergi ke sekolah, Nanda akan kembali ke kosan karena sedang enggak liburan sebenarnya.
"Dik berangkatnya bareng aja yuk! Lagi pula lewatnya, kita searah kan lumayan uang sakumu jadi, enggak berkurang untuk naik angkutan." Ucap, Nanda.
Nisa pun mengangguk mengiyakan, ia merasa uang sakunya hanya berkurang untuk naik angkutan saat pulang. Iya walaupun kalau berangkat bersama saudaranya, ia enggak bisa melihat wajah tampan cowok pujaannya, tetapi tetap bersedia berangkat bareng abangnya. Padahal kalau naik angkutan juga, ia belum tentu berjumpa dengan cowok pujaannya, karena kenyataannya beda Desa belum tentu satu angkutan.
Komentar
Posting Komentar