Nanda tersenyum hatinya merasa bahagia, adiknya mau berangkat bareng.
"Asyik, aku mau berangkat ke kosan bareng sama cewek, seneng banget rasanya pagi-pagi bisa jalan bareng cewek. Ceweknya nanti tak kasih uang seribu, biar enggak ngambek terus kalau, aku bilangin mau nurut dan mendengarkan. Biar kalau dibilangin itu biar enggak masuk kuping kanan keluar kuping kiri, bagaikan angin lalu." Crocos, Nanda.
"Aku enggak mau dikasih uang seribu, aku nanti ngambek terus kalau dibilangin enggak mau dengar." Balas, Nisa.
"Abang cuma bercanda kok, abang juga tahu kok, uang seribu itu enggak bisa buat jajan dapat banyak. Ya sudah kalau gitu, kita berangkat sekarang yuk! Kamu biar enggak terlambat sampainya ke sekolah, terus enggak dapat hukuman karena telat, abang juga biar bisa sampai di kosan lumayan pagi, dan bisa istirahat sebentar." Crocos, Nanda lagi.
Nisa mengangguk mengiyakan, ia pun menggendong tas di pundaknya. Mereka sebelum keluar rumah, mendekati kedua orang tuanya untuk berpamitan.
"Mamah, ayah, kita berangkat dulu!" Kata, Nisa dan Nanda sambil menyalami kedua orang tuanya.
"Iya, nak, kalian hati-hati di jalan! Nisa sekolah yang benar, kalau ada teman yang bolos, jangan ikut-ikutan! Nanda jangan suka berbuat yang macam! Tinggal di tanah rantau, jangan ikut-ikutan sama orang yang enggak jelas!" Ucap, bu Adam.
Nisa dan Nanda hanya mengangguk mengiyakan ucapan ibunya, mereka paham ibunya berucap seperti itu karena menyayanginya. Pak Adam setelah menghabiskan kopi mendekati, mereka untuk menyerahkan uang saku dan berucap. "Nanda ini uang sakunya, di sana jangan boros-boros! Kalau ingin beli barang yang benar-benar dibutuhkan aja, kalau enggak bener-bener butuh, ya enggak usah beli!"
"Terus buat, aku mana dong?" Tanya, Nisa.
"Kamu enggak usah aja, biar di sekolah enggak jajan." Jawab, Nanda.
"Ih, abang nakal." Imbuh, Nisa sambil cemberut.
Pak Adam menyerahkan uang untuk anak perempuannya, lalu duduk di sebelah istrinya.
"Jajannya jangan yang enggak benar, ya, nak!" Kata, pak Adam.
"Ayah tenang aja, jangan khawatir." Jawab, Nisa.
"Kunci rumah sudah dibawa atau belum?" Tanya, bu Adam.
"Sudah kok, mah." Jawab, Nisa.
Nanda menuju ke garasi untuk mengambil motornya, Nisa menunggu di teras sambil menggunakan sepatu.
"Kunci motornya enggak ketinggalan kan, bang?" Tanya, Nisa sambil tertawa.
"Ya enggaklah, masa sih ketinggalan terus, kamu itu yang bener aja." Jawab, Nanda sambil menjalankan motornya.
Nisa duduk di boncengan dengan nyaman, motor pun melaju melewati jalan Desa yang masih terasa sejuk, di pagi hari.
Sementara itu, Lisa yang sedang memakai sepatu, ditanya ayahnya. "Kamu pagi ini berangkat bareng, Nisa apa enggak?"
"Aku pagi ini berangkat sendiri, Nisa kayaknya berangkat diantar abangnya. Aku dari sini jalan ke halte sendirian si, ya paling nanti kalau diangkutan ketemu sama teman yang kukenal jadi, ada barengannya." Jawab, Lisa.
"Ya sudah kalau gitu, kamu lebih baik berangkat bareng, ayah saja. Kebetulan, ayah mau mengantar pesanan telur asin rutenya melewati sekolahan, kamu jadi, biar sekalian aja berangkat bareng." Kata, pak Agus.
Lisa mengangguk mengiyakan, ia naik ke atas motor, duduk di boncengan dengan nyaman. Pak Agus menyalakan motor berjalan menuju ke berbagai pelanggannya, membawa telur asin pesanan, sekaligus mengantar anaknya ke sekolah.
"Ngantarnya sampai gerbang sekolahan, ya, ayah!" Kata, Lisa.
"Kamu jangan khawatir, ayah sudah paham enggak mungkin menurunkan, kamu di pinggir jalan begitu saja." Jawab, pak Agus sambil tertawa.
Sementara di Desa sebelah, Toni dan kedua sahabatnya baru sampai di halte. Angkutan sudah dekat, kurang 10 menit lagi sampai di halte, mereka sudah enggak sabar menunggunya. Para penumpang lain pun merasa demikian, mereka takut terlambat untuk beraktivitas.
"Ton angkutannya kok belum sampai-sampai, ya?" Kata, Adnan.
"Iya, Nan, aku juga enggak tahu, padahal sudah terdengar suaranya, tetapi belum datang-datang." Balas, Toni.
"Ya sabar, itu angkutannya sudah kelihatan, paling beberapa menit lagi sampai." Sambung, Imam.
"Ya semoga aja datang beneranlah." Imbuh, Toni.
Imam baru mau membuka mulut, belum sempat membalas ucapan sahabatnya, angkutannya sudah sampai di halte.
"Alhamdulillah, dia akhirnya datang juga." Kata, Adnan sambil naik ke angkutan.
Imam dan Toni ikut naik, mereka duduk di sebelah, Adnan tempatnya di dekat pintu. Penumpang yang lain juga berbondong-bondong naik ke angkutan, pagi itu penumpangnya sebagian besar anak sekolah dan ibu-ibu pedagang di pasar. Angkutan berjalan membawa penumpangnya, untungnya enggak ada kemacetan sehingga, berjalan dengan lancar tanpa kendala. Saat melewati Desa Kayu Cendana angkutan enggak berhenti, karena penumpangnya sudah penuh.
"Ya nasip angkutannnya enggak berhenti, aku enggak bisa bertemu dong." Batin, Toni.
Adnan yang memahami apa yang ada di pikiran sahabatnya, ia berusaha menenangkan. "Ya wajarlah kalau enggak berhenti, yang naik juga sudah penuh. Kamu masih bisa ketemu kok, pas waktu jam istirahat atau pas jam pulang, siapa tahu ketemu di halte."
Toni pun mengangguk mengiyakan, ia pun berdiam diri menikmati perjalanan agar segera sampai di sekolah.
Sementara itu, Nisa sudah tiba di sekolah, Nanda menurunkannya di depan gerbang.
"Abang cuma bisa ngantar sampai sini, ya." Kata, Nanda.
"Iya, bang terima kasih sudah diantarkan." Balas, Nisa.
"Abang berangkat, ya! Kamu jaga diri baik-baik! Kalau kangen tinggal telepon aja jangan ragu!" Kata, Nanda lagi.
"Abang berangkatnya hati-hati, terus naik motornya jangan ngebut! Abang kok pd amat si, aku enggak kangen sama sekali kok." Balas, Nisa lagi.
Nanda pun meninggalkan adiknya, lalu menjalankan motornya kembali untuk melanjutkan perjalanan. Nisa berhenti sejenak di pinggir gerbang, ia matanya lirak-lirik ke sana kemari, tetapi yang dicari enggak kelihatan sama sekali.
"Toni kok belum kelihatan juga, ya? Dia jangan-jangan masih di dalam angkutan, belum sampai di sekolah? Aku padahal ingin melihat wajahnya walau hanya sebentar, entah mengapa diriku ini merindukannya. Akan tetapi, ya sudahlah kalau belum kelihatan juga, aku mau masuk ke kelas saja. Semoga si pas pulang, aku bisa seangkutan dengannya sehingga, bisa puas bertatap-tatapan, untuk menikmati ketampanan wajahnya." Batin, Nisa sambil melangkah ke dalam kelas sendirian karena, ia belum bertemu dengan sahabat-sahabatnya.
Komentar
Posting Komentar