KISAH CINTA, ANISA 21

Nisa sampai di kelas langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi dan meletakan tas di meja. Kedua teman sekelasnya langsung menghampiri dan bertanya tanpa basa-basi, saat melihat, Nisa masuk ke kelas sendirian. "Kamu kok datang sendirian si, Nis? Lisa mana, kalian kan biasanya berangkat bareng?"

"Aku tadi diantar abangku jadi, enggak bareng sama, Lisa naik angkutan seperti biasanya. Lisa paling masih di angkutan, sebentar lagi sampai, aku tadi pas di perjalanan angkutannya sudah lewat kok." Jelas, Nisa.

"Kamu kok enggak bilang si kalau diantar sama saudaramu. Coba aja bilang, aku kan bisa kenalan sama saudaramu." Crocos, Fitri.

"Ya kapan-kapan tak kenalin kalau, dia pas pulang lagi." Jawab, Nisa.


Fitri mengangguk mengiyakan, ia perasaannya amat senang.


"Emangnya mau ngapain si, kamu kok ingin kenalan sama saudaranya, Nisa segala?" Tanya, Lina.

"Ya siapa tahu, dia belum punya pacar, terus mau denganku. Aku mau daftar jadi, pacarnya biar ada yang mengisi kekosongan di hatiku, aku biar enggak jomblo lagi." Jawab, Fitri.

"Dia sudah punya kekasih kok." Jawab, Nisa sambil tersenyum simpul walaupun, ia tahu bisa melukai perasaan, Fitri jawabannya.

"Wah aku padahal sudah senang banget bakal dapat cowok baru, yang bisa mengisi hatiku ternyata, dia sudah punya kekasih. Yah berarti hatiku kembali kosong, seperti dompet kosong di tanggal tua atau orang yang belum dapat gajian kerjanya." Kata, Fitri.

"Ya jangan sedih dong! Cowok yang lain kan banyak di dunia ini, yang bisa mengisi hatimu dengan ikhlas dan tulus." Hibur, Nisa.


Fitri mengangguk mengiyakan, ia pun membuka tas, menyiapkan buku untuk prlajaran pertama. Lina hanya tersenyum, yang sudah hafal dengan tabiat, Fitri yang srlalu ingin kenalan. Kalau ada cowok baru, apalagi kalau cowoknya ganteng pasti semangat, padahal cowoknya belum tentu mau.


Sementara itu, Lisa turun dari motor di depan gerbang, ia menyalami ayahnya sambil tersenyum, pak Agus meninggalkan anaknya untuk melanjutkan aktifitas. Lisa takut terlambat karena teman-temannya sudah pada di dalam kelas, ia berlari dengan kencang agar enggak mendapat hukuman dari guru. Lisa membuka pintu dan mengucap salam. "Assalamualaikum!!!"

"Waalaikumsalam!!!!" Jawaban dari dalam kelas dengan serentak.


Lisa pun duduk di bangkunya, ia menegug minumannya dari botol untuk menghilangkan rasa lelah, akibat berlari dari gerbang sampai kelas.


"Kamu kenapa, kok napasnya sampai senin kamis kaya gitu? Kamu apa jangan-jangan habis ikut ibu-ibu olahraga di kompleks perumahan, kok pagi-pagisudah kecapekan kaya gitu?" Tanya, Nisa.

"Aku habis lari, dari gerbang sampai depan kelas, aku takut ketinggalan pelajaran." Jawab, Lisa.

"Tadi angkutannya datang terlambat, ya? Kamu makanya sampai takut ketinggalan pelajaran?" Tanya, Nisa lagi.

"Aku tadi diantar berangkatnya jadi, aku enggak naik angkutan. Maaf banget, ya, kita enggak bisa berangkat bareng kaya biasanya." Jawab, Lisa lagi.

"Enggak apa-apa lagi pula, aku berangkatnya juga diantar enggak naik angkutan, abangku sekalian ke kosan dan kebetulan lewatnya searah, aku makanya diantar. Kamu jangan khawatir, aku aja datang baru 5 menit yang lalu sementara pelajaran dimulainya kan 10 menit lagi jadi, kamu enggak terlambat sama sekali." Jelas, Nisa sambil mengeluarkan buku pelajaran.


Lisa manggut-manggut, ia selesai minum mengeluarkan buku pelajaran. Ia yang merasa heran karena mendengar percakapan, Nisa dan kedua kawannya, Lisa bertanya dengan rasa penasaran. "Kalian habis ngomongin apa si? Aku tadi pas masuk, kalian kayanya baru selesai ngobrol?"

"Fitri tadi mendengar, Nisa diantar saudaranya, dia bilang ingin kenalan. Terus ingin dijadikan pacar, padahal sudah jelas-jelas saudaranya, Nisa itu sudah punya kekasih." Jawab, Lina.

"Kamu jangan sedih, nanti tak kenalin sama cowok-cowok sekolahan sebelah. Mereka cakep-cakep kok, dijamin enggak bakal mengecewakan hati." Kata, Lisa sambil menatap, Fitri.

"Aku sudah pada kenal sama, mereka kok." Jawab, Fitri sambil membaca buku pelajaran.


Sementara itu, Toni dan kedua kawannya sudah turun dari angkutan, mereka menghela napas lega, karena enggak terlambat. Adnan yang enggak sengaja melihat penjual siome yang melintas, ia menghentikannya karena ingin beli.


"Kalian tunggu sebentar, ya! Aku ingin beli siome dulu, soalnya tadi belum sarapan." Kata, Adnan.

"Aku ikut beli dong! Itu siome kelihatannya enak banget, siapa tahu bisa bikin semangat di jam pelajaran pertama." Sambung, Imam.

"Aku juga mau belilah, siapa tahu pas beli, Nisa lewat jadi, aku bisa ketemu." Imbuh, Toni.


Mereka bertiga menghampiri tukang siome, ekspresi semangat terpampamng jelas di wajah ketiganya.


"Ini siome aja atau pakai isian yang lain juga?" Tanya penjualnya.


"Itu pakai siome, pare, kentang, dan tahu." Jawab, Adnan.

"Kalau yang dua porsi, mau pakai isian apa?" Tanya penjualnya.

"Yang isinya sama, tetapi ditambah kubis." Jawab, Toni.


Penjual siome melayani, mereka dengan cekatan dan cermat, agar isinya siome enggak ada yang kelewat. Ternyata tukang siomenya mau mangkal di sebelah penjual es tebu, biasanya anak-anak SMA Negeri 1 dan 2 biru putih, kalau istirahat pasti beli. Toni bersama keduanya menuju kelas dengan santai, Toni malah sambil melirik ke sana kemari.


"Kamu sambil cari apa si? Jalan kok sambil matanya jelalatan gitu?" Tanya, Adnan.

"Atau di sekitar sini ada harta karun, ya?" Imbuh, Imam.

"Aku sambil melihat angkutan yang berhenti, Nisa barangkali turun dari sana. Aku kan bisa melihat wajahnya, walau hanya sebentar, untuk obat rindu. Si sini enggak ada harta karun yang bisa dicari." Jawab, Toni.

"Nisa kayanya sudah masuk kelas, angkutan pertama pasti sudah datang lebih awal. Kita aja naik angkutan yang terakhir, kita enggak terlambat aja sudah bersyukur banget. Kita mending ke kelas dulu yuk! Biar enggak dapat hukuman dari guru, kamu pasti ketemu, Nisa pas jam istirahat." Crocos, Adnan.


Toni mengangguk mengiyakan, ia mengikuti kedua kawannya menuju kelas. Mereka bertiga menikmati siome sambil menunggu gurunya, pas siomenya habis, pelajaran pertama pun dimulai. 

Komentar