KISAH CINTA, ANISA 22

Nisa merasa lumayan lelah, setelah belajar seharian, tubuhnya juga sudah berkeringat. Bel pulang berbunyi nyaring, guru yang mengisi pelajaran terakhir keluar dari kelas. Nisa dan para siswa yang lain, bubar dari kelas, menuju halte untuk menunggu angkutan.


"Lis beli es tebu yuk! Mumpung angkutannya belum datang, aku haus banget soalnya, air minumku sudah habis." Kata, Nisa.

"Ayuk, aku kebetulan haus juga." Jawab, Lisa.


Mereka berjalan ke warung di dekat halte, angin berembus dengan lembut menyapa, mereka dan memberi rasa sejuk. Sesampainya di warung, Nisa langsung pesan es untuk menghilangkan rasa dahaga. "Bang es tebu dua!"

"Mau yang porsi kecil atau porsi besar esnya?" Tanya penjualnya.

"Yang porsi besar, bang." Jawab, Nisa.


Mereka duduk di kursi yang tersedia, menunggu penjualnya menyiapkan esnya. Penjualnya memeras air tebu dengan mesin sederhana, Nisa dan Lisa ngobrol ringan sembari menunggu es tebu yang, mereka pesan selesai dibuat.


"Aku itu senang banget kalau minum es tebu, rasanya itu langsung segar banget, seperti di syurga." Kata, Nisa.

"Iya benar banget, sudah gitu manisnya masih alami, enggak kaya minuman sachet." Sambung, Lisa.


Nisa mengangguk mengiyakan, setuju dengan pendapat sahabatnya.


Sementara itu, Toni dan kedua sahabatnya keluar dari sekolahan, berjalan menuju ke penjual es tebu.


"Beli es dulu yuk! Aku lagi pingin banget minum es tebu, apalagi hawanya panas kaya gini. Cocok banget kalau minum es, apalagi kalau minumnya di bawah pohon rindang pasti rasanya sahdu." Crocos, Toni.


Adnan dan Imam langsung setuju, mereka juga ingin minum.


"Wah, kebetulan air minumku sudah habis, aku setuju kalau mampir beli es tebu. Tenggorokanku sudah kering banget, cuacanya juga panas banget. Kayanya kalau minum es tebu sejuk banget, kaya ketetesan air hujan di gurun." Kata, Imam.

"Ayuk berangkat! Kalau kelamaan esnya keburu habis, kita batal beli es, kan bisa gaswat." Imbuh, Adnan.


Mereka mempercepat langkahnya demi memburu es tebu, mereka berharap saat tiba di penjual es, setoknya masih banyak. Sesampainya di sana, Toni hatinya gembira melihat, Nisa sedang duduk bareng sahabatnya. Toni langsung mendekati penjualnya, memesan tiga bungkus es tebu porsi besar. Penjualnya mengangguk mengiyakan dengan ramah sambil membungkus esnya, Nisa dengan cekatan.


Setelah itu, Toni dan kedua sahabatnya di bangku yang tersedia, menunggu esnya dibikinkan.


"Misa apa kabar?" Tanya, Toni sambil tersenyum.

"Aku alhamdulillah kabar baik, aku enggak menyangka nisa ketemu denganmu di sini. Kamu juga apa kabar?" Sambung, Nisa.

"Aku juga kabarnya baik banget, lebih baik lagi kalau bertemu dirimu." Jawab, Toni.

"Ngomong-ngomong, kamu lagi beli es berjamaah, ya?" Tanya, Nisa.

"Iya kebetulan, aku ingin beli es ternyata kedua kawanku juga haus, kita beli es bareng. Mereka selain sahabatku, kita juga tinggal satu Desa. Adnan namanya yang di sebelah kiriku, Imam yang ada di sebelah kananku." Crocos, Toni.


Lisa dan Nisa mengangguk mengiyakan, mereka saling berkenalan satu sama lain. Selesai berkenalan penjualnya menghampiri, Nisa menyerahkan dua gelas es, Nisa menerimanya dan menyerahkan pembayaran.


"Kita duluan, ya!" Pamit, nisa.

"Iya, Nis sampai berjumpa lagi." Balas, Toni.


Nisa dan Lisa mengangguk sambil berlalu menuju halte, Nisa malahan berjalan sambil senyum-senyum.


"Cie-cie yang habis bertemu cowok idamannya, wajahnya terlihat bahagia, kaya habis dapat harta karun." Ledek, Lisa.

"Kamu itu bisa aja." Respons, Nisa.

"Kapan ni resmi pacaran?" Tanya, Lisa.

"Ya doakan aja, semoga segera terlaksana." Respons, Nisa lagi.


Jalan sambil ngobrol benar-benar Enggak terasa, mereka tiba di halte angkutan sudah datang. Para penumpang sudah pada naik, tempat duduk hanya tersisa 2 pas untuk, Nisa dan Lisa.


"Nis ayuk cepat naik! Kita biar enggak ketinggalan, terus pulangnya enggak terlambat!" Kata, Lisa.

"Terus kalau naik sekarang, kita minumnya gimana?" Tanya, Nisa.

"Kita bisa minum di perjalanan, kita lagi pula duduk enggak berdiri." Jawab, Lisa.


Nisa mengangguk mengiyakan lalu mengikuti, Lisa masuk ke angkutan. Angkutan berjalan dengan lancar tanpa kendala, kebetulan sore itu jalanan nggak macet sama sekali sehingga, bisamengantar para penumpangnya ke rumah masing-masing dengan lancar.


"Sementara itu, Toni dan kedua sahabatnya masih duduk di bangku, mereka menunggu dengan sabar esnya dibikinkan. 15 menit kemudian penjualnya menghampiri, mereka bertiga menyerahkan es sambil berkata. "Maaf, ya kalau nunggunya lama, kalian semoga enggak terlambat pulangnya. Semoga masih ada angkutan yang lewat saat, kalian sampai di halte jadi, enggak bingung gimana pulangnya gara-gara kelamaan menanti esnya."

"Santai aja, bang Kalau ketinggalan angkutan yang pertama, kita bisa menunggu angkutan yang kedua kok. Abang jangan khawatir pokoknya, kita malah seneng masih bisa beli tadi, kita pikir stoknya sudah habis. Alhamdulillah, kita sampai ke sini ternyata esnya masih banyak jadi, kita masih bisa menikmati es yang menyegarkan jiwa ini." Jawab, Toni mewakili kedua sahabatnya.


Tony setelah memberikan uang pembayaran dan menerima es tebu, ia berjalan menuju halte bersama kedua sahabatnya. Angkutan kedua baru datang bahkan masih kosong, belum ada penumpangnya, Toni dan kedua sahabatnya masuk, mereka memilih tempat di pinggir pintu. 5 menit kemudian penumpang sudah pada naik, angkutan sudah penuh diisi para siswa yang baru pulang sekolah, lalu berjalan mengantarkan para penumpangnya sampai tujuan dengan selamat.


"Kalian ternyata ucapannya enggak salah, aku pas pagi-pagi enggak bisa ketemu sama, Nisa pulangnya bisa ketemu. Aku enggak nyangka pulang sekolah hatiku merasa gembira, karena bisa Bertemu Dengannya walau hanya sebentar saja." Ucap, Toni sambil menikmati esnya.

"Nah, kan bener yang, kita bilang Walaupun pagi-pagi enggak bisa ketemu, pasti entah jam istirahat, entah pulangnya bisa ketemu. Kalian kalau belum rezekinya ketemu, ya enggak bakalan ketemu sampai seharian, Tetapi kalau sudah rezekinya ketemu, pasti akan ketemu entah kapan waktunya." Kata, Adnan.


Imam mengangguk setuju dengan ucapan, Adnan sambil menikmati es tebu yang sangat nikmat menurutnya.

"Kamu Kapan menemui, Nisa di rumahnya? Masa si ketemuannya cuma di sekolahan doang." Ujar, Adnan.

"Nah, benar itu ketemuan itu jangan di sekolahan aja, tetapi datangin rumahnya biar terlihat kalau, kamu itu laki-laki baik-baik." Sambung, Imam.

"Kalian Tenang aja nanti kalau sudah ada momen yang tepat, Aku bakal main ke rumahnya, Walaupun mungkin ngakunya cuma sebagai teman." Jawab, Toni sambil menghabiskan esnya yang tinggal separuh. 

Komentar