KUNTILANAK MERAH

Pada malam kamis, sekitar pukul 23.00, Lina terbangun karena merasa haus, ia berjalan ke belakang untuk mengambil air minum. Malam itu suasananya sepi banget, lampu seluruh rumah sudah dimatikan, televisi juga sudah mati, kedua orang tuanya sudah istirahat dengan nyaman setelah beraktivitas seharian.

"Ada apa ini? Aku jalan ke belakang hawanya kok merinding banget, ya?" Batinya.


Lina tetap melanjutkan langkahnya untuk mengambil air minum, walaupun hawanya terasa merinding, enggak seperti malam-malam pada umumnya. Sementara itu, kuntilanak merah yang melihat, Lina yang sedang mengambil gelas, penyakit isengnya kambuh. Ia mengetok-ngetok pintu kulkas, menggunakan jarinya yang tinggal kulit dan tulang-tulang.


"Tok-tok... tok-tok..."


Suara itu walaupun pelan-pelan, Lina mendengarnya dengan sangat jelas. Lina bertanya-tanya sambil menuangkan air putih ke dalam gelas, ia perasaannya deg-degan mendengar suara tersebut. "Suara apa itu? Masa si kulkasnya bisa bersuara sendiri? Enggak biasa-biasanya, dia berbunyi sendiri seperti ini? Ini kulkas kenapa, ya?"


Kuntilanak merah itu kembali mengetok kulkas, dengan jarinya di bagian pintu.


"Tok-tok! Tok-tok!"


Suaranya lebih keras daripada yang sebelumnya, Lina menegug minum dengan cepat. Setelah itu, ia kembali ke kamar dengan tergesa-gesa, karena nggak ingin mendengar suara ketokan aneh, di pintu kulkas.


 Keesokan harinya saat, Lina sarapan bersama kedua orang tuanya, ia menceritakan kejadian yang dialami semalam.


"Ayah, ibu, aku tadi malam mengalami kejadian aneh, saat mengambil minum pada tengah malam. Pas, aku mengambil air minum di meja sebelah kulkas, aku mendengar ada suara ketokan-ketokan yang membuatku merinding." Tutur, Lina.

"Kamu itu aneh-aneh aja si, itu paling, kamu salah dengar karena sudah mengantuk. Kamu tahu sendiri kan dari dulu, kita menepati rumah ini enggak ada kejadian apa apa." Tanggap, pak Arya.

"Ayahmu benar di sini selama, kita tinggal bertahun-tahun enggak pernah ada kejadian aneh-aneh. Kamu mungkin salah dengar, atau ada orang ronda pas kebetulan lewat membawa kentongan. Makanya tiba-tiba ada suara ketokan-ketokan saat, kamu minum di dapur." Sambung, bu Arya.

"Ayah, ibu, aku itu dengar beneran, enggak sedang mengarang-ngarang cerita." Tutur, Lina lagi.


Pak Arya dan istrinya tetap enggak percaya, dengan cerita anaknya pada pagi hari itu. "Kamu paling sedang berhalusinasi, makanya dengar suara-suara aneh seperti itu."


Lina merasa kecewa kedua orang tuanya enggak mempercayai ceritanya, ia pun melanjutkan makan sambil terdiam.


Pada hari kamis malam jumat, Lina mengalami hal yang lebih mengerikan menurutnya. Waktu maghrib telah tiba, suara adzan berkumandang, Lina mengambil air wudhu di belakang. Aroma bunga melati terasa sangat semerbak menurut indra penciumannya, iya bertanya pada ibunya. "Ibu apa di dapur ada bunga melati? Kok aromanya wangi banget, ya?"

"Kamu itu ada-ada saja, perasaan yang ada bunga melati itu di taman belakang rumah, bukan di dapur." Jawab, bu Arya.


Lina pun mengangguk mengiyakan, lalu pergi ke kamar untuk menunaikan shalat.


"Itu anak kebanyakan nonton film horor kayaknya, makanya apa-apa dibilang serba seram. Sudah jelas-jelas dari dulu, kita tinggal di rumah ini enggak ada apa-apa, katanya dapur terasa seram." Gumam, pak Arya.

"Dia itu kalau nonton film horor sebenarnya jarang, tetapi seringnya diskusi tentang horor sama teman-temannya." Balas, bu Arya.

"Nah,  itu dia yang membuatnya selalu kepikiran, makanya apa-apa dibilang serba horor." Gumam, pak Arya.


Usai shalat maghrib, Lina makan malam bersama kedua orang tuanya, dengan menu sayur genjer dicampur pare dan tempe tepung yang terasa lezat. Awalnya enggak ada aneh-aneh yang terjadi, makan malam berjalan dengan lancar dari awal sampai selesai. Namun, selesai makan piring dan gelas dikumpulkan untuk dicuci, Lina bersedia mencuci bekas makan malam, mereka tanpa bantuan orang tuanya. Lina baru mencuci satu piring, iya sedang memberi sabun pada gelas, salah satu kursi di dapur, berbunyi dengan sendirinya. "Krak-krek!!!! Krak-krek!!!!"


Suara itu bunyinya keras menurut pendengaran, Lina bahkan dari awal mencuci piring sampai selesai suara itu menemaninya. Lina berusaha mencuci piring dengan cepat, agar enggak mendengarkan suara itu terus menerus. Lina usai mencuci piring pergi ke kamar, ia berpikir dalam hati. 'Itu sebenarnya kelakuan siapa si? Masa si di rumahku ada hantunya, kedua orang tuaku enggak ada yang tahu? Terus kalau ada hantu beneran, memang wujudnya seperti apa si?"


Pada pukul 20.00, Lina di rumah sedang sendirian kedua orang tuanya pergi kondangan, kuntilanak merah pun beraksi untuk menakuti,ia tertawa nyaring, seperti menggunakan pengeras suara. "Hih-hih!!!! Hih-hih!!!! Hih-hih!!!! Hih-hih!!!!"


Lina masih belum bereaksi, Iya masih berdiam diri di kamar, enggak mau keluar. Kuntilanak merah itu enggak menyerah, ia tertawa lebih keras lagi. "Hih-hih!!!!! Hih-hih!!!!! Hih-hih!!!!! Hih-hih!!!!!"


Lina yang merasa geram mendengar suara tawa yang membuat bulu kuduknya merinding, ia bergegas ke dapur sambil bertekad untuk berkomunikasi dengan, kuntilanak merah.


"Sebenarnya apa maumu? Kau mengapa menggangguku dari kemarin?" Ucap, Lina.

"Aku sebenarnya karena sedang Kesepian, temanku yang biasa berkunjung, dia enggak datang, Entah mengapa. Aku saat melihatmu mengambil minum, merasa ada teman yang bisa ku ajak kenalan, Aku sebenarnya hanya iseng ngetok-ngetok pintu kulkas." Jawabnya.

"Aku aja enggak pernah mengganggumu, kau Masa tega menggangguku. Kau itu seharusnya kalau enggak ada teman, ya enggak usah menggangguku jugalah. Lagi pula temanmu itu siapa si? Kamu kok sampai kesepian banget gitu?" Kata, Lina.

"Temanku itu sesama kunti juga si, tetapi sedang main dengan pocong merah. Dia sampai sekarang brlum pulang juga, aku makanya merasa kesepian   Ucap, Lina lagi.

"Aku bingung mau ngapain soalnya si jadi, ya iseng-iseng ganggu." Katanya.

"Kau kalau berani-beraninya mengganggu lagi, bahkan lebih parah daripada ini, aku bakal memanggil, Pak Kyai. Kau agar diusir dari tempat ini, terus enggak punya tempat tinggal lagi untuk berteduh." Ancam, Lina.

"Ya janganlah, aku nggak akan ganggu lagi kok. Aku mohon jangan panggil, Pak Kyai untuk mengusir!" Jawabnya.

"Baiklah kalau gitu, Tetapi kalau mengulangi lagi, kau kalau menggangguku lagi. Aku nggak akan segan-segan manggil, pak Kyai ini bukan hanya sekedar ancaman, untuk mengusirmu pergi." Ancam, Lina lagi.


Kuntilanak merah itu mengangguk mengiyakan, ia benar-benar menjaga Dan menepati janjinya, Ia enggak pernah mengganggu manusia lagi. Iya enggak mau pergi karena dapur itu memang tempatnya, Dulunya ada pohon Rindang yang ditegor dan sekarang dijadikan dapur. Pohon Rindang itulah rumahnya kuntilanak merah jadi, rela enggak rela saat pohonnya ditebang, ia menjadi penghuni dapur.


Selesai 

Komentar