HAFALAN YANG HILANG

Sinta Nur Asifa adalah seorang Hafizah yang sudah hafal Alquran 30 juz, Tetapi semua itu berubah saat, Sinta mengenal seorang pria yang mengajaknya telepon setiap hari. Pada hari Minggu pagi yang cerah, burung-burung berkicau lewat pinggir-pinggir rumahnya, Sinta tiba-tiba mendapatkan pesan Whatsapp dari, Ridwan orang dari Kalimantan Barat.


"Hai, kak salam kenal, ya, Ridwan Namaku. Aku berasal dari Kapuas Kalimantan Barat, Kakak berasal dari mana? Aku enggak sengaja lihat nomormu di salah satu grup WhatsApp jadi, aku menghubungi lewat pesan teks." Crocos, Ridwan.

"Sinta namaku, iya salam kenal balik, aku berasal dari kabupaten Batang Jawa Tengah. Kamu yakin mau berteman denganku?" Balas, Sinta.

"Yakin dong, aku enggak asal-asalan berteman kok, aku juga orang yang serius, Sinta. Aku bukan orang yang jahat Kok, aku enggak bakal macam-macam, aku enggak bakal ganggu di saat dirimu belajar dan telepon tanpa ingat waktu, kamu jangan khawatir." Jawab, Ridwan dengan nada yang santai.


Sinta tersenyum sendiri membaca pesan itu, dia merasa ada sesuatu yang berbeda dengan, Ridwan. Sinta pun mencoba menerima pertemanan, Ridwan, ia berharap semoga enggak ada perbuatan yang enggak mengenakkan hati saat berteman.


"Ya sudah kalau gitu, aku senang berteman denganmu, Ridwan semoga dirimu enggak mengecewakan hatiku" Balas Sinta.


Ridwan langsung membalas dengan perasaan bahagia, saking senangnya lagi, pesan itu langsung dibalas enggak menunggu sehari dua hari ataupun seminggu. "Hore, akhirnya, kita berteman! Aku mau tahu lebih banyak tentangmu, Sinta, kita biar lebih akrab. Apa hobimu?"


Sinta berpikir sejenak sebelum menjawab,, Iya pun dalam hatinya berharap setelah menjawab hobinya, Ridwan pun memiliki kesukaan yang sama dengannya. "Aku suka hafalan mengaji, membaca buku, dan menulis cerita. Lalu apa hobimu?"


Ridwan membalas dengan hati riang, karena teman barunya gampang akrab dengannya. "Aku suka menulis cerita, memasak, dan juga mendengarkan musik rock yang menenangkan hati menurutku. Akan tetapi, aku juga suka membaca, terutama membaca novel yang ceritanya sangat romantis."


Sinta tersenyum membaca jawaban, Ridwan, ia merasa ada kesamaan antara, mereka, Sinta Baru kali ini merasa mendapat teman yang hobinya enggak jauh berbeda.


"Wah, kita sama-sama suka membaca dan menulis, ya? Kamu apa bisa mengaji juga??" Tanya, Sinta.

"Kita hobinya sama itu pas kebetulan saja, manusia itu enggak semuanya memiliki hobi yang sama dan minat yang sama. Aku bisa si Ngaji kebetulan, aku sudah hafal 30 juz, tanpa harus membuka Alquran, aku sudah hafal semua ayatnya di luar kepala." Jawab, Ridwan melalui chat WhatsApp.


Sinta merasa kagum mendengar jawaban, Ridwan, Iya benar-benar merasa bahagia berharap suatu saat bisa murojaah hafalan bersama-sama. Ia merasa awal Desember 2024 ini sangat menyenangkan baginya apalagi setelah kehilangan sahabat dekatnya yang bernama, Anisa hidupnya terasa sepi, bagai tanaman yang kering tak disirami air. Mereka sering mengobrol tentang hobinya, Mereka pun merancang untuk hafalan bersama-sama dan menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakannya.


"Kita nanti murojaah bareng-bareng yuk, biar enggak lupa hafalannya!" Ajak, Sinta.

"Sin emang gimana caranya, kita mau hafalan bareng-bareng? Kita aja tinggal di pulau yang berbeda, enggak bisa ketemu secara langsung." Kata, Ridwan.

"Kamu enggak usah khawatir, kita walaupun enggak bisa bertemu kan bisa belajar Bareng lewat telepon, kamu kok bingung banget si. Sekarang itu kan zaman teknologi, apa-apa serba mudah, kita yang berjauhan aja bisa kenal, ya, kita manfaatkanlah alat komunikasi buat belajar bareng." Balas, Sinta.


Ridwan mengiyakan dan setuju pendapat kawan barunya itu, ia pun mengakhiri perbincangannya dengan, Shinta lewat whatsapp dan berjanji akan menghubungi lagi. Dua minggu telah berlalu, tepatnya pertengahan Desember, Ridwan dan Shinta kembali berbincang-bincang lewat sosial media, mereka kali ini ngobrol lewat telpon bukan lewat chat seperti sebelum-sebelumnya. Mereka melaksanakan niatnya hafalan bersama-sama, Sinta membaca juz 30, sementara kawannya mendengarkan dengan seksama. Ridwan juga terkadang membenarkan kalau bacaan, cinta ada yang salah atau kurang tepat, agar bacaannya lebih maksimal. Ridwan membaca Juz 1 pada waktu itu, Sinta mendengarkan dengan sungguh-sungguh, Ia pun membenarkan Apabila ada yang salah bacaannya.


"Wah, ngajimu bagus juga, ya, Aku senang mendengarnya, suaramu sangat merdu. Jarang, loh ada seorang wanita yang bisa hafal Alquran sepertimu, Aku benar-benar kagum bisa kenal denganmu." Puji, Ridwan.

"Biasa ajalah, kamu jangan sok memuji-muji seperti itu, aku nanti bisa besar kepala, loh.


Ridwan membalas ucapan sahabatnya itu dengan tertawa, Iya tak merasa bersalah dengan pujiannya. Mereka saling bercakap-cakap dan bertukar kabar, terkadang bertanya Sudah mandi belum, Sudah makan belum, dan bertanya apa aktivitasnya hari ini. Ridwan adalah cowok playboy yang punya banyak cewek, ia memanfaatkan kedekatannya dengan, Sinta untuk menjadi pacarnya yang enggak tulus dari hati.


"Sinta Entah mengapa lama-lama diriku punya rasa suka denganmu, aku tak mengerti rasa cinta ini tumbuh di hatiku. Kamu apakah mau menjadi kekasihku, menemaniku sampai maut memisahkan?" Ucap, Ridwan ditelepon.


Pada awal Januari 2025, Sinta menjawab bahwa dirinya belum punya rasa cinta, ia ingin berteman saja dulu. Seiring berjalannya waktu, sampai datang di awal Oktober 2025, Sinta punya rasa suka dengan, Ridwan lebih tepatnya sudah bisa membalas cintanya, Ridwan kala itu. Ridwan merasa bahagia, ia tak sia-sia menanti waktu yang panjang demi mendapat jawaban dari, Sinta yang diharapkan selama ini.


Pak Adam dan bu Adam atau kedua orang tuanya, Sinta yang mendengar percakapan itu Hanya mengingatkan. Agar anaknya enggak terjerumus ke hal-hal yang enggak baik, apalagi laki-laki yang dikenalnya belum pernah bertemu secara langsung, hanya sering berkomunikasi di dunia maya saja.


"Nak teleponan si boleh-boleh, tetapi jangan sampai melupakan belajarmu, Takutnya kalau lupa tentang semua yang telah di pelajari selama ini. Kamu juga belum tahu sikapnya seperti apa, Dia orangnya baik sungguh-sungguh atau pura-pura juga belum tahu, kalian soalnya belum ketemu secara langsung." Ujar, bu Adam.

"Iya nak ibumu benar, kecuali kalau sudah bertemu secara langsung, dia suruh datang ke rumah biar kedua orang tuamu ini tahu, dia orangnya seperti apa. Kamu Bila perlu teleponan itu sehari sekali! Jangan dari pagi sampai sore, atau dari pagi sampai malam teleponan terus, kamu kan juga butuh aktivitas dan belajar yang lainnya." Imbuh, pak Adam.


Sinta mengiyakan nasehat orang tuanya, Ia pun sadar yang diucapkan orang tuanya itu benar, karena tak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya ke hal-hal yang enggak baik. Namun, Sinta enggak bisa menepati janjinya kepada kedua orang tuanya, Ridwan menelpon terus menerus dari pagi, siang, sore, Hingga malam. Akan tetapi, di bulan November 2025, Ridwan telah berubah yang awalnya suka membahas kisah-kisah keagamaan, Iya sekarang suka membahas yang jorok-jorok. Seperti di bulan November saat hujan deras menyapa bumi, Ridwan pada malam itu sekitar pukul 20.00 menelpon, Sinta untuk berpinjam-pinjam sambil menunggu kantuk menghampiri.


"Sinta hujan-hujan kayak gini enaknya ngapain, ya?"

"Ya hujan-hujan kayak gini enaknya si menikmati makanan atau minuman yang hangat, Ridwan."

"Kamu salah kalau makan dan minum yang hangat itu, kehangatannya hanya bertahan sebentar, Sinta.

"Terus yang kehangatannya bisa bertahan lama itu apa, Ridwan?"

"Ya tidur sambil berpelukanlah, Sinta pasti kehangatannya bertahan sampai pagi."


Mendengar ucapan, Ridwan yang enggak sopan, Sinta benar-benar enggak nyaman sama sekali. Iya pamit untuk tidur lebih awal dan mematikan telepon, agar enggak ada yang mengganggu waktu istirahatnya. Ridwan keesokan harinya kembali telepon, Iya kembali membahas hal-hal yang enggak mengenakkan saat, Sinta pamit ingin buang air kecil di kamar mandi.


"Aku mau ke kamar mandi sebentar dulu, ya, Ridwan soalnya sudah enggak tahan rasanya ingin buang hajat. Kamu diam dulu, ya! Soalnya hp-nya tak taruh di meja, aku ke kamar mandi enggak bawa HP, takut kalau jatuh.

"Ya sudah kalau gitu, tetapi jangan lama-lama, loh, Sinta!"


Sinta mengiyakan lalu berlari ke kamar mandi, tetapi setelah buang air kecil enggak langsung kembali, Sinta merasa kebelet buang air besar dan ingin mengeluarkannya saat itu juga. Sinta setelah selesai di kamar mandi, Iya mendekat ke meja mengambil hp, untuk melanjutkan teleponannya.


"Kamu di kamar mandi Kok lama banget si, padahal cuma buang air kecil? Kamu di kamar mandi pasti sambil mainan, ya, Sinta?"

"Aku nggak ngerti mainan apa si, kamu itu yang bener kalau ngomong, Ridwan."

"Sinta Masa sih enggak paham itu, loh pas habis buang air kecil membersihkannya sambil buat mainan, makanya lama. Kamu mainan di kamar mandi kok enggak ajak-ajak si, Aku kan pengen juga kalau dirimu mainan."


Sinta pun yang mendengar ucapan kekasihnya semakin ngaco dan enggak benar, ia mematikan telepon karena tersinggung sampai seminggu lamanya. Sinta kembali mengaktifkan HP, Ridwan yang tahu nomor kekasihnya sudah online langsung menghubungi.


"Sinta Aku Rindu denganmu, rindu ingin membayangkan suaramu sambil bermain enak-enak di kamar. Aku rindu membayangkan bermain-main dua buah apel milikmu, sambil tiduran bersama dan berpelukan." Tulis, Ridwan.


Sinta yang mendengar ada pesan masuk dari kekasihnya, ia membacanya dengan rasa enggak nyaman Sinta pun langsung minta putus hari itu juga. Sinta bisa merasa hidup bebas kembali, ia bisa berhafalan dengan nyaman tanpa gangguan, Iya bisa belajar dengan teman-temannya sepuas-puasnya. Namun, Sinta menangis di kamar seorang diri, saat ingin kembali murojaah hafalannya semuanya hilang, Terlupakan dari pikiran enggak ada yang tersisa sedikitpun itu. Bu Adam yang mendengar suara tangisan anaknya, langsung datang menghampiri dan mengelus rambutnya dengan lembut, bu Adam pun bertanya dengan hati-hati. "Apa yang terjadi, nak? Kamu mengapa menangis seperti ini?"

"Ibu, Aku sedih banget, perasaanku benar-benar hancur, Aku enggak tahu harus berbuat apa." Ucap, Sinta sambil terisap.

"Ibu ada di sini, kamu enggak usah sedih, ya, nak! Kamu sekarang ceritakan apa yang membebani hatimu sehingga, kamu sampai menangis seperti ini!" Hibur, bu Adam.

"Aku menyesal bisa kenal laki-laki seperti, Ridwan yang awalnya terlihat Alim, ia awalnya terlihat rajin ibadah dan mengaji. Lama kelamaan, aku mengenalnya ternyata, Ridwan bukan sosok yang ,kuidamkan iya ucapannya jorok-jorok benar-benar tak ber moral. Dia selalu menelponku dari pagi sampai malam, aku enggak pernah sempat murojaah, hafalan yang ku bangga-banggakan selama ini sudah sirna, aku sudah lupa semuanya hafalan itu sudah hilang dari hidupku." Tutur, Sinta sambil menangis di pelukan ibunya.


Pak Adam yang masih terjaga baru selesai menghabiskan kopi pahit kesukaannya, ia mendengar percakapan istri dan anaknya lalu menghampiri dan ikut menenangkan anaknya.


"Kamu Jangan bersedih lagi, nak! Kejadian yang kemarin itu, kamu jadikan pelajaran saja, itu sebagai peringatan kalau mengenal laki-laki, agar lebih hati-hati lagi. Soal hafalan kalau hilang dari hidupmu, kamu bisa kembali belajar lagi dari nol, pasti hafalan yang hilang akan kembali." Kata, pak Adam.

"Terus kalau hafalannya enggak bisa kembali lagi gimana? Kalau hafalannya bener-bener pergi dari hidupku gimana dong?" Ujar, Sinta.

"Kamu Jangan putus asa, Kalau niatmu dengan sungguh-sungguh, pasti hafalanmu yang hilang akan kembali lagi. Asalkan belajar dengan tekun dan sabar, perlahan-lahan Pasti Kembali hafalanmu yang pergi, karena Allah itu selalu bersama hambanya yang bersabar." Kata kedua orang tuanya yang selalu menguatkan, Sinta dengan setulus hati.


Sinta pada akhirnya kembali mengaji pada gurunya yang selalu membimbing hafalan dari awal sampai selesai, ia perasaannya bahagia bisa mengingat semua hafalannya. Ia berjanji dalam hati Walaupun mengenal pria, walaupun banyak kegiatan menulis cerita, ia akan selalu murojaah agar enggak lupa lagi hafalannya.


Selesai 

Komentar