KATA-KATAMU

Saat awal, kita jumpa kata-katamu sungguh indah seolah, Kau adalah orang yang baik hati.

Aku tak mau telepon, kau tak memaksa, aku tak mau chattingan, kau tak memaksa juga, aku merasa lega dan senang sekali.

Akan tetapi Seiring berjalannya waktu sikapmu berubah, aku tak mau teleponan marah-marah tak jelas, aku tak mau chating-an dikira pindah ke lain hati.


Saat awal, kita jumpa sikapmu sok ramah, sok baik, kau seolah-olah menunjukkan seseorang yang selalu religius, sifatmu pun terlihat dari kata-katamu baik sekali.

Namun, kau lama-lama menunjukkan sikap aslinya, sikapmu yang selalu pemarah, membuat hati tak tenang sama sekali.

Aku tak membalas chat sebentar saja, kau marah-marah tak jelas, seperti sedang ditinggal pergi tanpa permisi.


Aku tak menyangka lama-lama sikapmu berubah, kata-katamu banyak yang negatif, jika didengar tak mengenakan hati.

Kata-katamu pun terkadang tak bermoral, membuatku tak nyaman mendengarnya, aku saja mendengarnya merasa jiji.

Kau yang awal-awalnya ku kenal sering membahas tentang religi, semakin lama lebih suka membahas kata-kata yang tak bermoral dan tak mengenakan hati.


Aku semakin lama merasa tak suka, dengan kata-katamu yang selalu membahas hal yang jorok-jorok, yang membuatku merasa risih saat mendengarnya dari hari ke hari.

Aku sudah berusaha untuk menghentikan kata-kata jorokmu itu, aku sudah berusaha mengalihkan pembicaraan, kau agar tak membahas kata-kata yang tak bermoral, tetapi kenyataannya dirimu tak mau berhenti.

Setiap Telpon baik itu siang atau malam, pasti membahas hal negatif, Terkadang juga ada yang dilagukan, membuatku semakin tak betah sama sekali.


Kau seolah-olah sok baik, kata-katamu pun membahas hubungan yang berkomitmen dari hati.

Akan tetapi, kau kenyataannya adalah seorang penipu, yang tak pernah ada kejujurannya sama sekali.

Kau bilang diriku adalah seorang penghianat yang menyakiti hatimu, tetapi kenyataannya diriku inilah yang telah, kau Sakiti 

Komentar