Angkutan masih melaju melewati pedesaan yang indah dengan pepohonan yang terasa sejuk, sesekali berhenti untuk menurunkan pelanggan. Toni dengan kedua sahabatnya masih berbincang-bincang, sambil menikmati es yang menyejukkan tubuh dan menghilangkan rasa dahaga.
"Kalian tenang aja, nanti kalau sudah ada momen yang tepat, Aku bakal main ke rumahnya, Walaupun mungkin ngakunya sebagai teman." Kata, Toni.
"Yang bener aja si, kamu itu masa ngaku sebagai teman, enggak gentle banget sebagai laki-laki. Lagi pula kalau, kamu mengaku sebagai teman doang, itu sudah menunjukkan kalau, kamu adalah seorang pembohong." Protes, Imam.
"Ya Betul banget itu, yang namanya memulai hubungan itu enggak boleh ada kebohongan di dalamnya, harus jujur Semuanya dari awal. Karena kalau sebuah hubungan ada kebohongan di dalamnya itu enggak bakal awet, pasti akan runtuh di tengah jalan." Imbuh, Adnan.
"Aku enggak bermaksud berbohong sama sekali, tetapi kalau diriku ini mengaku kekasihnya takutnya, Nisa belum boleh pacaran. Jadi, buat sementara waktu selama, kita masih berstatus anak sekolahan mau enggak mau, aku mengaku temannya biar, aku sama dia bisa tetap saling menyemangati dan saling melengkapi satu sama lain." Jelas, Toni.
"Kalian sebenarnya saling ada rasa cinta kan?" Tanya, Imam.
"Aku sudah punya rasa saat pertama kali berjumpa sama, Nisa di taman pada seminggu yang lalu. Aku enggak tahu si, dia punya rasa cinta sepertiku apa enggak, aku dan Nisa baru kenalbelum lama. Kita juga belum benar-benar saling mengenal dan memahami karakter satu sama lain, belum paham juga, dia sikapnya seperti apa pokoknya, aku akan terus berusaha buat pendekatan aja dulu." Jelas, Toni.
Imam dan Adnan pun mengangguk dan tersenyum, mereka memahami ungkapan sahabatnya itu tentang rasa cintanya. Tanpa terasa angkutan sudah memasuki desa, mereka bertiga itu terlihat dari nama desa, yang terpampang di gerbang masuk dengan tulisan besar-besar.
"Ayuk bersiap, kita sebentar lagi turun! Terus sampah bekas es nya di bawa, jangan sampai ditinggal gitu aja!" Seru, Toni pada kedua sahabatnya.
"Kayanya enggak apa-apa kalau sampahnya ditinggal, kita enggak bakal ketahuan. Lagi pula sampahnya itu kelas plastik jadi, aman kalau sampai nanti sore atau besok pagi, baru dibersihkan petugasnya." Sahut, Adnan.
"Ya jangan gitulah! Kita sebagai warga Indonesia, harus mencintai kebersihan! Jangan sampai buang sampah sembarangan!" Tegas, Toni.
"Ya sudah kalau gitu, nanti sampahnya tak bawa, tetapi tak buang di got." Sahut, Adnan lagi.
"Ya janganlah, nanti bisa banjir, kalau naruh sampah sembarangan! Buang sampah itu yang benar, di tempat sampah yang sudah disediakan!" Tegas, Toni lagi.
"Terus gimana kalau pas kebetulan enggak ada tempat sampah? Masa sampahnya Mau disimpan sampai busuk, kalau enggak dibuang di got?" Tanya, Adnan.
"Enggak mungkin kalau enggak ada tempat sampahnya, di setiap tempat yang ada gasebonya, setiap sudut jalan itu pasti ada tempat sampahnya. Biar kalau ada orang yang habis makan atau minum, yang menggunakan tempat sekali pakai bisa langsung dibuang jadi, sampahnya enggak di bawa terus-menerus, karena bingung buangnya." Jawab, Toni.
Adnan mengangguk mengiyakan lalu mengambil gelas plastik bekas es, di sebelah kakinya atau tepatnya di bawah bangku tempat duduknya. Angkutan berhenti di halte Desa Kayu Manggis, Toni dan kedua sahabatnya turun lalu berjalan menuju ke rumah masing-masing.
Sementara di rumah, Rani membuka pintu yang enggak di kunci sambil mengucap salam. "Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam." Jawab, bu Tono yang baru selesai mengangkat jemuran padi, yang sudah kering.
"Kok padinya sudah diangkat, bu? Emangnya sudah kering, ya?" Tanya, Rani.
"Iya, nak padinya sudah kering makanya diangkat, nanti tinggal dibawa ke mesin penggilingan kalau abangmu sudah pulang. Kamu ganti baju sana! Habis itu makan, ibu sudah siapkan pecel dan ayam goreng." Ujar, bu Tono.
"Berarti roknya enggak usah ganti, ya, bu? Ibu kan bilangnya cuma ganti baju doang." Balas, Rani.
"Ya roknya jugalah yang diganti, itu kan seragam sekolah, kamu itu gimana si." Ujar, bu Tono dengan gemas.
Rani mengangguk paham, ia bergegas ke kamar untuk ganti pakaian, ia enggak ingin mendengar, ibunya mengomel lebih panjang. Setelah itu, Rani ke dapur menyantap makanan yang sudah disiapkan, ia enggak ingin menunggu abangnya pulang dan makan bareng, karena perutnya sudah bernyanyi, tanda minta diisi.
Sementara itu, Nisa dan Lisa turun dari angkutan menuju rumah, mereka jalan kaki sambil mengobrol. Rasa lelah karena aktivitas seharian terlihat jelas di wajahnya, keringat pun bercucuran di tubuh, mereka ditambah lagi panas yang begitu ekstrim.
"Hawanya enggak terlalu panas, ya? Padahal mataharinya panas banget, benar-benar panasnya itu sekitar 40 derajat, kita tetap enggak kepanasan." Kata, Lisa.
"Kita harusnya bersyukur karena di desa ini masih banyak pohon rindang jadi, walaupun panasnya sangat tinggi tetap saja hawanya sejuk. Coba saja di Desa-Desa lain yang pohonnya sudah banyak ditebangi, pasti hawanya panas banget, kalau cuaca ekstrim kayak gini. Mereka pasti sangat membutuhkan kipas enggak kaya, kita kalau panas tinggal duduk di halaman rumah, pasti terkena angin terus panasnya hilang, berubah jadi sejuk." Jawab, Nisa.
"Iya benar juga si kalau banyak pohon yang sudah ditebangi, kita pasti bakal kepanasan, jalan kaki kayak gini. Aku ngomong-ngomong tadi cowok yang namanya, Adnan itu cakep banget, loh menurutku apalagi senyumnya itu manis banget." Kata, Lisa lagi.
"Ya wajar kalau ganteng, namanya juga cowok, kalau cantik cewek bukan cewek. Kamu suka, ya? Coba aja pdkt, dia barangkali masih jomblo! Ledek, Nisa.
Lisa wajahnya merah bagaikan kepiting rebus, mendengar ucapan sahabatnya yang terasa menggoda dirinya.
Komentar
Posting Komentar