Wandi namaku, aku adalah seorang disabilitas gangguan penglihatan, aku sekian lama merantau demi mencari ilmu. Aku setelah lulus SMA menjalani sekolah non formal atau keterampilan pijat, untuk bekalku setelah enggak sekolah lagi dan enggak merepotkan keluarga.
"Hore, aku lulus!! Aku sekarang sudah enggak sekolah lagi lumayanlah, aku di rumah bisa buka panti pijat untuk mendapatkan penghasilan." Batinku diperjalanan menuju ke rumah sambil membawa barang-barang yang sekian lama menemaniku tinggal di asrama.
Aku sesampainya di rumah disebut oleh, mbak dan masku, mereka enggak lupa bertanya padaku. "Kamu sudah boyongan, berarti enggak ke sana lagi, ya, Wan?"
"Aku sudah lulus jadi, enggak tinggal di sana lagi, kecuali kalau mau main boleh ke sana." Jawabku.
"Kamu main ke sana memangnya mau menemui siapa? Apa jangan-jangan dirimu punya cewek di sana, Wan?" Tanya, masku.
"Mas Fajar itu yang bener aja, aku enggak punya cewek di sana kok, aku masih jomblo. Aku main ke sana bukan berarti ada ceweknya, teman-temanku yang, aku kenal masih banyak di sana, masih belum pada lulus." Jawabku lagi sambil duduk di kursi empuk yang sudah disediakan.
Mbak Rani datang menghampiriku sambil membawa segelas es sirop, ia menyerahkan minuman itu padaku dengan hati-hati. Ia juga membawakan makanan kesukaanku, yaitu gorengan yang diberi saus dan mie ayam yang ada baksonya. "Makan dulu, Wan! Mumpung makanannya masih hangat, masih enak rasanya, terus segar banget. Nanti kalau sudah dingin, rasanya sudah beda, apalagi mie-nya kalau dimakan masih hangat, kan enak banget."
Aku mengangguk mengiyakan sambil menyendok mie ayam, yang terasa sangat menggugah selera, apalagi perutku enggak bisa diajak kompromi, iya sudah keroncongan seperti sedang karaokean saja. Aku selesai makan dan minum pergi ke kamar, merapikan barang-barang bawaanku seperti pakaian, parfum dan sisir.
Seminggu kemudian, aku membuka panti pijat di rumah, aku sengaja memasang papan iklan dengan tulisan besar-besar di halaman rumah. Aku berharap ada orang yang melirik iklan tersebut, lalu datang ke rumahku untuk pijat. Akan tetapi, aku mendapat pasien hanya sebulan sekali, hal itu kujalani sampai setahun lamanya. Aku yang sudah enggak tahan merasakan jarang mendapat penghasilan, aku pun mencoba curhat pada sahabatku, Lina namanya melalui telepon. Aku cari namanya di kontak telepon, setelah terpampang di layar hp,aku langsung menghubungi tanpa ragu. Pada dering ketiga, Lina langsung mengangkat telepon dengan senyum semberingah dan bertanya. "Wandi apa kabar? Ada angin apa ini, kok tumben banget telepon?"
"Aku kabarnya baik-baik saja, cuma lagi sedih, Lin. Kamu gimana kabarnya?"
"Sedih kenapa si? Apa jangan-jangan mikir utang yang belum lunas, ya, Wan? Aku alhamdulillah kabarku baik, sehat, cuma yang masih kosong kantongnya, berharap dapat uang dari langit. Hahahaha!!"
"Ya syukurlah kalau kabarmu baik, aku senang dengarnya. Aku itu entah mengapa sudah hampir setahun punya panti pijat, tetapi masih aja sepi, paling sebulan cuma dapat pasien satu atau dua. Lin, aku sudah bosan banget menjalaninya atau lebih baik pantinya kututup saja, tetapi kalau tak tutup dari mana diriku mendapat penghasilan. Aku ini sebenarnya ingin cari kerja di kota saja, sayangnya belum ada lowongan yang buka, alias masih pada penuh tempat kerjanya, Lin."
"Kamu jalani saja dulu, jangan ditutup pantinya! Yang menunggu siapa tahu tiba-tiba ada lowongan kerja, alias ada yang ingin mencari pegawai, Wan."
Aku mengangguk mengiyakan walaupun usahanya sering sepi, Aku berusaha sabar dan berdoa kepada yang maha kuasa, agar dimudahkan rezekinya.
Setahun Telah Berlalu, aku sudah merasa ikhlas walaupun usahaku sering sepi daripada ramainya, tetapi yang maha kuasa memberiku pekerjaan lewat sahabatku, Sabar namanya. Iya menawariku Pekerjaan lewat telepon, saat berkomunikasi denganku pada sore hari karena sudah sekian lama, aku dengannya tak saling bertanya kabar.
"Halo, maaf ini siapa, ya?" Kan aku sembari mengangkat telepon dari nomor yang enggak dikenal.
"Hai, Kamu apa kabar, sekarang di mana? Aku, Sabar teman sekelasmu dulu pas waktu sekolah non formal, Apa kamu sudah lupa denganku?" Balas, Sabar.
"Oh, Sabar yang dulu satu asrama denganku, aku sebenarnya enggak lupa cuma berhubung nomor teleponmu terhapus gara-gara ganti Hp jadi, aku bingung. Aku Alhamdulillah kabarnya Baik, Kamu sendiri gimana kabarnya? Kamu tumben telepon diriku, Ada apa ini?" Ucapku panjang lebar seperti rumus matematika.
" Syukurlah kalau kabarmu baik, aku juga kabarnya baik kok. Aku sengaja menghubungi dirimu, sebenarnya ingin menawarkan lowongan kerja, barangkali dirimu bersedia." Sambung, Sabar.
"Emangnya Siapa yang membuka lowongan kerja? Tanyaku.
"Ya pokoknya ada yang membuka lowongan kerja, Kamu tinggal jawab bersedia apa enggak." Jawab, Sabar.
"Aku takutlah kalau orang yang misterius yang menawarkan pekerjaan, kalau tiba-tiba ternyata yang buka lowongan kerja itu hantu, kan horor rasanya. Aku kan malah enggak tenang nanti kerja di sana, Terus kalau enggak betah kan repot, zaman sekarang itu susah cari kerja." Crocosku.
"Pak Anuwar yang membuka lowongan pekerjaan, soalnya pasiennya yang pijit semakin banyak, sedangkan pegawainya hanya 2 orang. Mereka di sana melayani pelanggan sangat kerepotan, aku si Awalnya yang ditawari cuma, aku bilang kalau sudah punya pekerjaan terus kutawarkan padamu saja." Jelas, Sabar.
"Ya sudah kalau gitu, aku bersedia kebetulan ni dari dulu cari kerja belum nemu-nemu. Pucuk dicinta ulam pun tiba, kamu malah menawari pekerjaan, ya kuterima dengan senang hati." Balasku dengan gembira.
Sabar memberikan nomor kontak, Pak Anuwar untuk kuhubungi, aku menjelaskan siapa diriku terus kubilang ingin melamar pekerjaan. Alhamdulillah prosesnya enggak ribet semua lancar, aku langsung diterima dengan persyaratan meninyerahkan foto copy KK dan foto copy KTP. Aku langsung membuka ponsel untuk mengirim chat pada sahabatku, aku menjelaskan sekarang sudah diterima kerja, tetapi di luar kota bukan di daerahnya sendiri.
Lina mendengar kabar tersebut, ia langsung membalas pesanku untuk mengucapkan selamat, aku terharu mendengarnya. Aku pun langsung mempersiapkan semuanya, memasukkan pakaian secukupnya dalam tas, pergi ke tempat fotocopy agar persyaratannya bisa langsung dibawa saat, aku berangkat ke sana. Mas Fajar dan mbak Rini melihatku sedang berkemas-kemas bertanya dengan keheran-heranan, seperti melihat harta karun bertumpuk-tumpuk. "Mau ke mana, Kok berkemas-kemas, Wan?"
"Aku minggu depan mau bekerja di luar kota jadi, aku harus siap-siap dari sekarang, kebetulan ada orang yang membutuhkan pegawai, Aku senang banget dengarnya. Terus panti yang di rumah ini akan, aku tutup soalnya sepi banget jarang ada pelanggan datang." Jawabku dengan mantap.
"Dik kalau kerja di luar kota itu yang semangat, terus bangunnya harus pagi-pagi, jangan sampai kesiangan. Terus jangan lupa makan, jangan lupa jaga kesehatan!" Ujar, mas Fajar.
"Dik pokoknya Tak doakan semoga, kamu di sana bisa jadi pekerja yang sukses." Imbuh, mbak Rani.
Aku mengangguk mengiyakan dengan terharu rasanya, aku enggak akan pernah lupa pesan-pesan dari orang terdekatku. Hari yang kutunggu-tunggu telah tiba, aku berangkat ke luar kota menggunakan bus, kedua kakakku enggak bisa mengantar, karena mempunyai kesibukan dengan keluarganya masing-masing.
Aku di tempat kerja enggak pernah merasa sedih, selalu senang banyak pasien, ingin beli pulsa mudah, ingin beli lauk untuk makan mudah, sementara nasinya masak sendiri menggunakan rice cooker. Yang memasak nasi bukan hanya diriku saja, tetapi ganti-gantian dengan kedua temanku yang satu pekerjaan.
Selesai
Komentar
Posting Komentar