PENGALAMAN SAAT LIBURAN

Anuwar namaku, aku adalah anak kota yang akan berlibur bersama sahabatku, Ridwan namanya, cowok tampan yang memiliki kulit berwarna sawo matang. Liburan ke desa, karena aku belum pernah ke desa, selama ini hanya tinggal di kota. Desa yang masih asri, yang masih begitu indah, dan masih belum terkena banyak polusi. Waktu yang kutunggu-tunggu pun tiba, aku merasa bahagia akan liburan bersama sahabatku, saat liburan semester pertama di sekolah.


Saat mendapat raport, aku tak perduli nilaiku ada yang merah apa enggak. Waktu aku sampai di rumah, suasananya terasa sangat sepi, bagaikan di kuburan. Bapak dan ibuku masih bekerja di kantor, mereka biasanya pulang habis maghrib. Tas sekolahku kuletakkan di kasur begitu saja, aku enggak tertarik untuk melihat nilaiku. Malah keindahan desa yang menari-nari di otakku, aku langsung bergegas untuk berkemas-kemas, untuk berlibur. Enggak lupa, aku membawa jaket, siapa tahu di sana dingin. Aku tak ingin lama-lama untuk menunggu kedua orang tuaku pulang, aku sudah enggak sabar, untuk bertemu sahabatku. Aku tuliskan pesan yang kupasang di pintu. Mereka supaya enggak bingung mencariku, seperti mencari ikan diambil kucing.


"Bapak/Ibu, aku pamit, akan pergi berlibur bersama Ridwan. Sekalian ingin tahu seperti apa kehidupan di desa, yang katanya hawanya nyaman dan sejuk." Ujarku. Aku berangkat naik motor, Ridwan bilang sih, sampai di sana malam. Karena memang perjalanan dari kota ke desa lumayan jauh, kami sampai di sana sekitar pukul 10 malam.


"Sudah malam gini, Wan, kita mau tinggal di mana?" Tanyaku.

"Tenang, jangan khawatir. Aku di desa ini punya saudara kok. Kita akan tinggal di rumah saudaraku." Kata Ridwan.


Aku benar-benar merasa senang. Dan ternyata kami berlibur bertiga, dengan saudaranya Ridwan yang seumuran dengan kami. Saudaranya Ridwan ini bernama Rafi.


"Hai, Raf, kita ingin berlibur di sini, Raf. Oh iya, Raf, perkenalkan, ini temanku, namanya Anwar." Kata Ridwan.

"Oh ya. Wah, asyik dong kalau gitu. Liburan jadi ramai, dan enggak merasa kesepian." Kata Rafi.

"Salam kenal, ya, Mas Anwar." Katanya.

"Iya, salam kenal juga, Raf. Oh iya, enggak usah panggil aku Mas, panggil aja aku Anwar." Ujarku.


"Oh iya, Raf, bapak/ibumu sedang ke mana? Kok kamu di rumah sendirian?" Tanyaku.

"Bapak sama ibuku sedang keluar kota, War." Jawabnya.

"Oh gitu, Raf. Emang kamu di rumah segede ini kamu berani, Raf." Tanyaku.

"Ya mau enggak mau, kalau memang harus sendirian gini, berani enggak berani ya harus berani." Jawabnya.


"Tenang aja, War, pasti kamu aku ajak ke tempat yang belum pernah kamu temui, War." Kata Rafi.

"Wah, asyik dong, Raf. Aku tunggu, Raf." Jawabku.

"Iya, War, aku enggak akan lupa kok." Jawab Rafi.

"Sudahlah, kalian istirahat dulu. Biar pas kita jalan-jalan rasanya segar. Apalagi kalian habis perjalanan jauh." Ujarnya.


Aku dan Ridwan pun langsung bergegas untuk tidur. Pagi pun tiba. Aku, Ridwan, dan Rafi pun berjalan-jalan. Berputar-putar mengelilingi desa.


"Bagaimana, War, rasanya berkeliling kota sama berkeliling desa?" Tanya Rafi.

"Yang pasti berbeda. Rasanya segar sekali, berbeda dengan di kota." Jawabku.

"Wah, ini sih belum seberapa jalan-jalan pagi ini, War. Nanti pasti ada jalan-jalan lagi, War." Kata Ridwan.


Di siang itu, di ajak bermain egrang.

"Coba, War, main ini." Kata Ridwan dan Rafi.

"Ini itu mainan apaan, ya?" Tanyaku.

Maklumlah anak kota yang kurang wawasan, sampai-sampai mainan tradisional aja aku enggak tahu.

"Ini itu egrang, War. Di kota enggak ada kan, War?" Kata Rafi.

"Ya enggak ada sih. Tapi aku enggak tahu bagaimana cara mainnya." Kataku.

"Gampang kok, War. Kamu tinggal naik, lalu egrangnya di gerakan." Kata mereka.


Sampai seharian kami main egrang. Keesokan harinya aku di ajak mancing sama Ridwan dan Rafi. Pagi-paginya berjalan keliling lagi, tetapi keliling di sekitar sawahan, bukan keliling desa kaya kemarin. Lalu siangnya mancing ke sawah.


"Kamu pernah mancing enggak, War?" Tanya mereka.

"Belum pernah sih." Jawabku.

"Mau cobaain enggak?" Tanyanya.

"Mau banget pastinya. Pingin nyobain kaya gimana rasanya mancing." Ucapku.

"Mancing yuk, War!" Ajak Ridwan.

"Hah mancing! Beneran kan?" Tanyaku.

"Ya beneran dong. Puas-puasin, mumpung bisa berlibur ke desa. Kamu kan baru, kali ini berlibur ke desa. Dari kita SD sampai kita SMP." Kata Ridwan.


Kami bergegas ke sungai sekitar pukul 10 siang. Sungai itu berada di dekat sawah. Kami membawa umpan untuk ikan dan makanan ringan, tentunya makanan itu akan kami santap sambil memancing. Kami mendapat ikan cukup banyak. Kami pulang sekitar pukul 2 siang.


"Kira-kira ikan ini mau di apakan, ni?" Tanyaku.

"Di bakar dong." Jawab Rafi.

"Ya udah, kalau gitu kita bagi tugas. Aku yang bikin sambal. Ridwan dan Rafi yang bakar ikannya." Kataku.

"Ok, setuju." Kata mereka.


Setelah matang, kita santap sama-sama. Yang pasti rasanya lezat. Hari ketiga aku di desa, mereka mengajak aku mendaki gunung.


"Besok kita mendaki gunung yuk!" Ajaknya.

"Kalian serius enggak, ni?" Tanyaku.

"Ya serius lah. Mumpung kita bertiga liburan bareng." Kata mereka.


Akhirnya kita bertiga berangkat ke gunung untuk mendaki.

"Emang gunungnya jauh enggak si?" Tanyaku.

"Ya lumayan jauh si." Jawab mereka.

"Untuk ke gunung, kita harus melewati hutan." Kata mereka.


Ternyata memang benar, jalannya melewati hutan. Hutan itu masih belum di jajah oleh manusia.

"Tenang aja, War, hutannya enggak serem kok. Di hutan itu kita bisa berkemah juga, loh." Kata mereka.

"Benar apa enggak tu? Nanti jangan-jangan serem." Kataku.

"Ya lihat nanti deh. Pasti kamu akan menilai sendiri." Kata mereka.


Setelah sampai di sekitar hutan, ternyata beneran enggak serem.

"Wah, ternyata hutannya indah banget." Kataku.

"Iya dong, di desa gitu loh." Kata mereka.


Setelah sampai di gunung, di sana terlihat lumayan ramai, karena banyak yang akan mendaki gunung seperti kami. Kami di sana hanya selfi-selfi, setelah itu pulang.


"Bagaimana rasanya, War? Hari ini bisa mendaki gunung." Tanya mereka.

"Yang pasti seneng banget aku. Ikut liburan sama kamu enggak rugi deh, Wan. Dan yang pasti jadi kenangan yang tak terlupakan." Jawabku.

"Iya, War. Kan niatku mengajak kamu liburan ke desa, ya biar kamu mengenal suasana desa. Biar enggak hanya suasana kota saja yang kamu kenal. Lagian kalau kamu hanya di kota enggak ke desa, kamu enggak akan tahu bagaimana suasana di desa." Kata Ridwan panjang lebar.

"Ya iya sih, Wan, apa yang kamu katakan itu memang benar." Kataku.


Hari ke empat aku di desa, aku bermain ke tempat warga. Di sana aku melihat para warga sedang bermain angklung. Aku jadi penasaran, dan bertanya pada warga.

"Maaf, Pak, ini bagaimana cara memainkannya, Pak?" Tanyaku.

"Sini, Dik, saya ajari. Ini angklungnya di pegang di tangan, lalu di goyang-goyangkan." Kata bapak yang mengajari aku bermain angklung.


Hari ke lima kami pulang ke kota.

"Terima kasih ya, aku Raf, sudah di izinkan untuk menginap. Tetapi hari ini kami pulang ya." Kata kami.

"Iya, sama-sama. Kalian pulangnya hati-hati." Kata Rafi.

"Ok, siap." Jawab kami.


Singkat cerita kami sudah sampai ke kota. Ketika sekolah sudah masuk, kami di suruh menceritakan tentang liburan kami. Ku ceritakan pengalaman waktu liburan di desa. Selesai


Juli 2021 

Komentar