Pada bulan November 2025, Safitri yang sedang marahan pada pacarnya yang bernama, Budi. Pada sore harinya ditelepon cowoknya, Safitri tidak ingin mengangkatnya, Budi tidak mau menyerah telepon tidak berhasil, Ia pun mengirim pesan chat.
"Fit, aku habis terjatuh tubuhku sakit semua, rasanya benar-benar tidak enak banget buat aktivitas." Tulis, Budi.
Safitri yang membaca pesan itu terkejut, ia langsung membalasnya tanpa berpikir panjang.
"Kok bisa jatuh, itu gimana ceritanya? Kamu emangnya jatuh di mana?"
"Aku tadi jatuh gara-gara naik sepeda, pas habis pulang shalat ashar di masjid." Jawab, budi lewat pesan chat.
"Kamu kurang hati-hati kayaknya, makanya jatuh dari sepeda. Makanya kalau naik sepeda itu yang fokus, perhatikan jalannya biar tidak celaka." Omel, Safitri.
"Aku terjatuh itu kan gara-gara dirimu juga." Sambung, Budi.
"Kamu itu aneh banget si, jatuh sendiri malah nyalahin orang lain. Aku itu tidak tahu apa-apa, malah dibawa-bawa, kamu itu gimana si." Omel, Safitri lagi.
"Aku itu terjatuh juga gara-gara mikirin, kamu masih marah dari tadi siang, aku bingung harus berbuat apa. Kamu biar tidak marahan lagi, biar mau ngobrol lewat telepon ataupun chat lagi seperti biasanya." Ujar, Budi.
Safitri membaca WhatsApp itu hanya menghela napas, Iya tidak membalas pesannya, bahkan hp-nya diletakkan di meja begitu saja.
"Ya wajarlah kalau diriku marah Orang, dia yang salah. Sudah jelas-jelas bilang sama saudaranya lagi merokok, aku tanya Bilangnya tidak merokok, itu sangat menyakitkan hati." Batin, Safitri sambil keluar untuk jalan-jalan sore.
Safitri dan Budi adalah sepasang kekasih yang menjalani LDR atau hubungan jarak jauh, Safitri berasal dari kabupaten Batang Jawa Tengah, sementara kekasihnya berasal dari Kapuas Kalimantan Barat. Safitri perasaannya sedih mendengar jawaban itu, walaupun perasaannya masih di landa kecewa karena tertipu, iya tak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan dari jauh.
"Aku rasa tidak mungkin, kalau cuma gara-gara sedang bingung, naik sepeda sampai terjatuh. Entah mengapa, ya dalam hatiku merasa tidak percaya, Semoga aja cepat atau lambat diriku bisa mendapatkan jawabannya. Aku tidak tahu mengapa, dalam hatiku berkata, Budi sebenarnya bohong padaku tentang jatuhnya itu." Batin, Safitri sambil menikmati suasana indahnya desa di sore hari.
Malam harinya sekitar pukul 18.30, Safitri baru selesai makan malam bersama keluarga tercinta. Iya hp-nya berbunyi, ada notifikasi masuk yang berisi pesan chat WhatsApp, Budilah pengirimnya.
"Fit, aku kangen ingin dengar suaramu, aku lagi sakit butuh ditemani. Tolong, ya angkat teleponku! Tulis, Budi.
"Ya sudah kalau gitu, tetapi tidak sekarang teleponnya." Balas, Safitri.
"Terus kapan dong?" Tulis, budi lagi.
"Nanti habis Isya, kamu emangnya tidak mau shalat juga." Balas, Safitri.
"Ya shalatlah, aku tunggu, ya teleponnya! Kata, Budi.
"Enak aja, Kamulah yang telepon orang, kamu yang minta. Aku yang telepon itu kecuali, aku yang pingin telpon, kamu itu gimana si." Gerutu, Safitri lewat chat.
Budi akhirnya mengiyakan, ia bersedia menelpon demi bisa ngobrol dengan kekasihnya. Tanpa terasa shalat Isya sudah berjalan dengan lancar, Budi pulang dari Masjid langsung membuka HP, untuk menghubungi kekasihnya. Safitri juga baru selesai shalat Isya, iya melipat mukena kesayangannya, mendengar hp-nya bunyi pertanda ada telepon. Safitri langsung menghampiri HP miliknya yang bertahta di meja, Iya langsung menekan tombol hijau dan menyapa kekasihnya.
Awalnya berjalan dengan lancar teleponan itu, Budi dan Safitri mengobrol seperti biasanya, saling bertanya apakah malam ini sudah makan, dan bertanya salat di mana. Akan tetapi, semuanya berubah saat, Budi mendapat saran dari saudaranya untuk pijat di tempat, Pak Sosro tukang pijat di desanya.
"Sakitmu sudah mendingan atau belum, Bud?" Tanya saudaranya.
"Ya belumlah masih pegal semua tubuhku, mau sembuh dari mana, orang tidak diapa-apakan. Tidak mungkinlah orang sakit tanpa diobati, tiba-tiba langsung sembuh segar bugar, langsung bisa digunakan untuk aktivitas lagi." Jawab, Budi.
"Kamu Coba aja pijat di tempat, Pak Sosro! Biar lekas sembuh dan bisa digunakan untuk aktivitas lagi." Saran saudaranya.
Budi setuju dengan saran saudaranya, ia berjalan dengan tertatih-tatih menuju ke tempat, Pak sosro. Sementara itu, Pak Sosro yang sedang asyik menikmati kopi pahit di teras rumah melihat kedatangan, Budi berusaha menyambutnya dengan ramah dan bertanya. "Anak muda Mengapa tengah malam dirimu datang ke kediamanku? Apakah ada yang bisa kubantu?"
"Aku datang kemari sebenarnya ingin pijat, maaf kalau mengganggu waktunya." Jawab, Budi.
"Aku tidak merasa terganggu sama sekali anak muda, tumben sekali dirimu pijat? Apa yang terjadi padamu sebenarnya, kamu biasanya terlihat sehat walafiat? Sungguh, aku terheran melihatmu, apalagi dirimu datang kemari jalannya tertatih-tatih, seperti orang yang sedang kesusahan." Kata, Pak Sosro sambil menegug kopinya yang terakhir.
"Aku tubuhnya pegal semua butuh dipijat, gara-gara tadi terjatuh sekitar habis ashar. Aku merasa tidak nyaman untuk aktivitas, Aku beruntung ada tukang pijat yang dekat seperti ini." Jelas, Budi.
"Kamu Memangnya jatuh di mana, Kok sampai sakit semua?" Tanya, pak Sosro.
"Aku jatuh di depan kamar mandi gara-gara lantainya licin terkena air, aku kurang hati-hati jalannya." Jawab, Budi.
Safitri yang mendengarkan percakapan itu merasa kecewa, Iya ternyata tertipu Oleh ucapannya, Budi sejak tadi sore. Safitri mengakhiri telepon, ia berkata ingin tidur karena sudah mengantuk berat, matanya seperti lampu yang tinggal 5 watt. Setelah mematikan telepon, Safitri sebenarnya tidak langsung tidur, ia meratapi nasibnya yang tertipu.
"Ya Allah, kenapa aku bisa tertipu dengan ucapannya? Aku pikir dirinya berkata jujur, ternyata firasatku tadi sore benar, aku hanya ditipu." Batin, Safitri sambil menatap langit-langit di kamarnya.
Setelah kejadian itu, Safitri benar-benar merasa Semua ucapan kekasihnya belum tentu ada benarnya, ia harus mendeteksi secara baik-baik agar tidak salah duga. Safitri hanya berharap dalam hati kalau pacarnya seorang penipu, ia berharap mendapat petunjuk untuk mengetahui semua kebohongannya dan bisa hidup damai tanpa, Budi.
Selesai
Komentar
Posting Komentar