Dina namaku, aku pada hari kamis sore diajak sepupuku nginap di rumahnya, mbak Sinta namanya. Tempat tinggalnya di Desa sebelah, kalau ingin ke sana harus naik motor, karena lokasinya lumayan jauh.
"Din nginap di rumahku yuk! Kamu kan belum pernah menginap di rumahku, ayolah sekali-kali main di rumahku!" Ajak, Nbak Sinta.
"Aku sebenarnya pingin nginap di rumahmu, tetapi diriku ini kan enggak bisa naik motor. Aku kalau ke sana, yang mengantarkan siapa? Terus pulangnya gimana, kalau enggak ada yang jemput?"
Tanyaku sambil menyuguhkan minum pada sepupuku, yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Aku yang mengajak main ke rumah, ya aku yang bertanggung jawab untuk mengantarmu pulang. Ayo buruan siap-siap, keburu waktunya semakin sore!"
Kata, Mbak Sinta sambil membaca novel yang ada di pangkuannya, dengan ekspresi serius. Aku pun akhirnya mengikuti keinginannya, aku membawa dua pasang pakaian, parvum, sisir, charger, hp, dan peralatan mandi. Perjalanan menuju ke rumahnya, Mbak Sinta berlangsung selama 15 menit, dengan menggunakan motor.
"Ayuk silahkan masuk!"
Ajak Mbak Sinta sambil membuka pintu rumahnya dan menyalakan lampu teras. Aku mengangguk mengiyakan, entah mengapa pertama kali masuk rumahnya, aku merasa hawanya agak gelap dan lumayan singit.
"Kenapa agak seram kaya gini si? Apa jangan-jangan ini rumah ada hantunya?"
Mas Rahman mendengar kedatangan, Mbak Sinta dan diriku langsung menyambut dan menghampiri ke teras, membuat lamunanku tentang hantu buyar seketika.
"Ibu ketemu sama, Dina di mana? Kok tumben banget, Dina mau diajak ke sini?" Tanya, Mas Rahman.
"Aku tadi mampir ke rumahnya, Dina di sana suasananya sangat sepi, PakLek dan Bulek sedang bekerja belum pulang. Dina di rumah sedang sendirian, aku ajak ke sini, dia ternyata mau." Jawab, Mbak Sinta.
"Ya sudah kalau gitu, kita masuk ke dalam yuk! Soalnya sudah mau maghrib, siap-siap untuk shalat, biar enggak terlambat. Waktu maghrib itu kan sedikit, Takutnya kalau enggak segera shalat Nanti keburu berpindah ke waktu Isya." Kata, Mas Rahman.
Aku dan Mbak Sinta mengangguk mengiyakan lalu bergegas ke belakang, untuk bergantian mengambil wudhu, setelah itu shalat berjamaah di rumah, Mas Rahman sebagai imamnya. Sementara itu, Rasya anak semata wayang mereka berada di pondok, sedang enggak liburan makanya enggak pulang.
Aku berada di sana awalnya berjalan lancar, enggak ada tragedi apa-apa. Setelah usai shalat aku, Mas Rahman, dan Mbak Sinta makan malam, dengan nasi hangat yang sangat menggoda selera dan lauk sederhana yang terasa sangat nikmat.
"Dina makannya banyak atau sedikit?" Tanya, Mbak Sinta.
"Aku nasinya sedikit aja dulu, Kalau kurang nanti Gampang nambah lagi. Daripada ambil banyak-banyak sekalian, ujung-ujungnya malah enggak habis, kan sayang makanannya bisa mubazir." Jawabku.
"Ya sudah kalau gitu, Tetapi kalau ada yang kurang bilang, ya! Jangan sungkan-sungkan, lagian sama keluarganya sendiri, bukan sama orang lain." Kata, Mbak Sinta.
"Iya, Dina Anggap saja seperti di rumah sendiri." Imbuh, Mas Rahman.
Aku hanya mengangguk-angguk pertanda mengiyakan, sambil menyendok makanan karena perutku sudah keroncongan seperti sedang konser. Sehabis makan, aku pamit ke kamar yang sudah disediakan, aku di sana membuka ponsel melihat pesan-pesan dari, teman-teman yang belum kubalas. Saat asyik-asyiknya membalas pesan, Entah mengapa mataku menatap ke langit-langit kamar, di sana ada sosok guling yang sedang terbaring.
"Apa itu, kok ada bayangan putih di langit-langit kamar? Apa jangan-jangan itu sesosok hantu, apa jangan-jangan itu hanya halusinasiku saja?" Pikirku dalam hati.
Aku mencoba melupakan bayangan-bayangan yang ada di pikiranku, setelah enggak sengaja menatap sosok itu. Aku fokus membalas pesan-pesan satu per satu, agar enggak terbayang lagi sama sosok putih yang berada di langit-langit kamar. Aku setelah puas membalas semua pesan-pesan dari kawanku, aku mengambil wudhu dan melaksanakan shalat Isya. Aku kembali ke kamar berniat untuk tidur, Dan terbangun di pagi hari dengan rasa yang lebih segar. Akan tetapi, aku baru naik ke atas ranjang, sosok putih seperti guling itu menatapku dengan mata melotot.
Aku ketakutan yang luar biasa, tetapi diriku ini bingung ingin menceritakannya kepada sang pemilik rumah, aku takut dikira hanya menghayal. Aku hanya berdoa dalam hati, memohon perlindungan pada Yang Maha Kuasa, supaya enggak diganggu.
"Ya Allah tolong diriku dari segala marabahaya! Tolong lindungi diriku dari kejahatan hantu yang sangat menakutkan!" Bisikku dalam hati sambil memejamkan mata.
Setelah berdoa Alhamdulillah, aku bisa tertidur dengan nyaman sampai pagi hari, Aku terbangun sekitar pukul 03.00 dini hari. Aku mendengar suara kaki yang lumayan keras, tetapi bukan seperti berjalan, suaranya sedang melompat-lompat menurut pendengaranku.
"Taglug-taglug!! Taglug-taglug!! Taglug-taglug!! Taglug-taglug!!" Suaranya.
Tubuhku merinding setengah mati, Aku benar-benar ketakutan, aku bingung harus berbuat apa. Aku ingin keluar kamar untuk menenangkan diri pun hawanya masih sepi, Mas Rahmat dan Mbak Sinta masih beristirahat dengan nyaman. Aku pada akhirnya Hanya berdiam diri di kamar dan berharap waktu subuh Segera tiba..
Aku menunggu subuh rasanya benar-benar panjang, bagaikan berhari-hari lamanya, suara taglug-taglug masih terdengar terus-menerus di telingaku. Rasanya aku benar-benar enggak kuat sesungguhnya, tetapi diriku ini harus sabar menanti waktu subuh, Aku berharap kalau ada suara adzan, taglug-taglugnya akan berhenti. 2 jam kemudian, terdengar suara Murottal dari masjid terdekat, aku merasa lega walaupun suara taglug taglug belum berhenti, tetapi ada harapan untuk rasa ketakutanku menghilang.
"Alhamdulillah waktu subuh akan segera tiba, aku akan berdoa pada Yang Maha Kuasa, agar terbebas dari rasa takut ini." Batinku.
Suara adzan dari masjid terdekat terdengar di telingaku, aku langsung bergegas ke belakang untuk mengambil air wudhu. Mbak Sinta sudah terjaga, Iya baru saja mengambil air minum dan akan melaksanakan shalat subuh.
"Kamu mau shalat jamaah atau shalat sendiri, Din?" Tanya, Mbak Sinta.
"Aku mau ikut berjamaahlah pastinya, Tolong tunggu bentar, ya?" Pintaku.
Mbak Sinta mengangguk mengiyakan ucapanku, sambil berjalan menuju tempat ibadah yang ada di rumahnya, sementara diriku berjalan ke kamar mandi. Aku dan Mbak Sinta shalat Berjamaah dengan khusuk lagi-lagi, Mas Rahman yang menjadi imamnya. Aku usai shalat subuh membantu, Mbak Sinta memasak di dapur agar Nggak kebayang, kejadian yang kualami.
Waktu menunjukkan pukul 07.00 pagi, aku selesai sarapan sang mentari menyapa bumi dengan tersenyum manis, aku minta diantarkan pulang karena sudah enggak sanggup lagi. Rasa seram masih saja menghantui pikiranku, padahal sudah pagi seharusnya rasa seram itu sudah menghilang.
"Mbak pulang yuk!" Ajakku.
"Kamu enggak nginap di sini semalam lagi si?" Tanya, Mbak Sinta.
Aku menolak dengan menggelengkan kepala kuat-kuat, aku pun akhirnya diantar sampai rumah dengan selamat. Aku di rumah ditanya sama ibuku, pas di sana tidur dengan siapa. "Kamu tidurnya Ditemani sama siapa?"
"Ibu ini ada-ada saja pertanyaannya, ya tidur sendirilah." Jawabku.
"Rasya Emangnya enggak menemani tidur?" Tanya, ibu.
"Ya enggaklah, Rasya kan di pondok." Jawabku.
"Kamu untungnya tidur sendiri di sana, enggak diganggu sama hantu penunggu rumah." Kata, ibu.
"Mbak Sinta rumahnya emang ada hantunya, ya, Bu?" Tanyaku.
"Ya jelas ada, hantunya terkadang menyerupai, Rahman walaupun siang bolong sudah pasti muncul. Ayahmu pas main ke sana pernah lihat, ayahmu mengira itu, Rahman dipanggil kok enggak nyaut. Rahman sedang ada di belakang, ayahmu ternyata di ruang tamu sedang sendirian." Jelas, ibu.
"Ayah terus gimana, pas tahu kalau itu bukan, mas Rahman? Sambungku.
"Ayahmu langsung sadar kalau itu hantu yang menyerupai, Rahman. Ayahmu tahu kalau ada hantu, karena pas masuk ke rumahnya itu merasa hawanya agak singit." Jelas, ibu lagi.
"Mbak Sinta apa enggak tahu di rumahnya ada hantu?" Tanyaku lagi.
"Ibu kurang tahu, mereka ngerti apa enggak kalau di rumahnya ada hantu sebab, Sinta dan keluarganya sampai sekarang masih di rumah itu. Lagi pula itu kayanya muslim hantunya, tetapi suka ganggu orang yang baru ke rumah tersebut. Namun, kalau orangnya sudah lama di sana, ya bertetangga atau hidup berdampingan dengan rukun." Jelas, ibu.
Aku sebagai pendengar pun mengangguk mengiyakan penjelasan ibu, yang panjang lebar bagaikan rumus matematika.
Selesai
Komentar
Posting Komentar