Nisa dan Lisa duduk di bangku bawah pohon halaman rumah, mereka masih menunggu kedatangan penjual batagor dan siome yang lewat pada siang itu. Sedangkan penjualnya masih sibuk melayani pembeli di gang sebelah, karena batagor dan siome yang lewat sore itu terkenal rasanya yang enak dan gurih, pedasnya pun benar-benar terasa kalau diberi sambal.
"Lis mana penjualnya, kok belum datang-datang? Apa jangan-jangan enggak lewat sini, lewatnya gang sebelah?" Tanya, Nisa.
"Siapa tahu di sana sedang ada yang beli makanya berhenti, kita tunggu aja sampai 20 menit. Kalau enggak datang-datang juga berarti bukan rezeki, kita dan belum waktunya, kita menikmati batagor dan siome yang enak." Jawab, Lisa.
"Ya sudah kalau gitu, kita tunggu sajalah semoga lewat sini, aku soalnya pingin beli banget. Kamu emangnya mau beli berapa nanti?" Balas, Nisa.
"Aku nanti mau beli rp10.000, tetapi kalau uangnya di bawah 10.000, ya mau beli 5.000 aja." Sahut, Lisa.
"Apa mau beli pakai uangku dulu, kalau uangnya enggak ada!" Tawar, Nisa.
"Enggak usahlah ini, aku masih bawa uang kok walaupun enggak seberapa." Tolak, Lisa.
Belum ada 20 menit, penjualnya sudah lewat dengan gerobak yang berisi makanan.
"Tulit-tulit!!!! Tulit-tulit!!!!" Suaranya.
Lisa dan Nisa langsung bergegas menghentikannya, mereka takut penjualnya keburu pergi. "Pak beli!!! Pak beli!!!"
Penjualnya yang mendengar panggilan, mereka berdua langsung berhenti, menunggu pembelinya datang menghampiri.
"Mau beli berapa, dik?" Tanya penjualnya.
"Siome dan batagornya harganya satu berapa?" Tanya, Nisa.
"Siome dan batagor harganya 500-an, tahu dan kentang harganya seribuan." Jawab penjualnya.
"Kalau gitu, aku beli 12 ribu, tahu dan kentangnya dua, terus sisanya siome dan batagor. Aku pakai sambal kacang aja, enggak pakai kecap, enggak pakai saus." Kata, Nisa.
Penjualnya mengangguk mengiyakan, sambil melayani dengan ramah dan teliti, supaya nggak ada kesalahan melayani pembeli.
"Aku juga beli, pak 10 ribu, batagor dan siome aja. Terus bumbunya sama kayak temanku, sambel kacang doang, enggak pakai saus dan kecap." Kata, Lisa.
Lagi-lagi penjualnya mengangguk mengiyakan, lalu berusaha melayani dengan sebaik mungkin, agar pembelinya enggak merasa kecewa.
Sementara di tempat lain, Toni baru selesai mandi dan shalat ashar. Ia menuju ke halaman belakang, menemui ibunya yang sedang duduk santai dan menikmati teh hangat, ia pun bertanya. "Bu mana padinya, yang mau dibawa ke tempat penggilingan beras?"
"Kamu itu ngaget-ngagetin aja si, itu, loh padinya sudah tak tata di pinggir rumah, kamu tinggal mengangkutnya." Jawab, bu Tono.
"Itu kan ada 5 karung, aku bingung mau dibawa ke tempat penggilingan berapa?" Tanya, Toni.
"Ya dibawa semua biar beras, kita itu awet dan enggak kehabisan, kalau ingin masak nasi. Ibu sudah menata semuanya di pinggir rumah, ya berarti dibawa semua masa, kamu masih tanya si." Jawab, bu Tono.
"Ya sudah kalau gitu, aku bakal mengangkut padinya satu persatu, menggunakan sepeda. Sebenarnya lebih cepat pakai motor, ya sayangnya motornya enggak ada masih dibawa, bapak ke sawah." Gumam, Toni.
"Kamu kalau bawa padi pakai sepeda bulak-balik itu capek, lebih baik bawa pakai gerobak saja biar cepat. Kamu juga setelah ke tempat penggilingan beras biar bisa main, kalau bolak-balik pakai sepeda, waktumu habis untuk pergi ke tempat penggilingan doang." Sambung, bu Tono.
Toni mengangguk mengiyakan, ia langsung bergegas mengambil gerobak, di sebelah kandang ayam. Ia menata padi dengan hati-hati ke atas gerobak, supaya enggak tumpah dari karungnya. Ia pun berjalan dengan hati-hati menuju tempat penggilingan beras, supaya gerobaknya enggak terjungkal dan padinya pun enggak berhamburan di jalanan.
Sementara itu, Nisa dan Lisa masih menikmati makanannya sambil berbincang di bangku bawah pohon yang terasa sejuk.
"Ini makanan bisa buat menghilangkan rasa galau dan mengobati rasa sakit hati, karena rasanya benar-benar enak luar biasa enggak mengecewakan. Sudah gitu, lewatnya kebetulan banget, aku lagi lapar pengen cari makanan, dia memang dewa penolongku di saat lapar seperti ini." Kata, Nisa.
"Kamu emangnya lagi patah hati, Nis? Kamu bukannya lagi jatuh cinta sama, Toni, ya? Iya bener banget rasanya enggak mengecewakan, aku enggak menyesal beli itu makanan." Sambung, Lisa.
"Dia kayaknya baru kali ini lewat kampung, kita, ya? Aku soalnya baru liat itu penjual, biasanya si ada penjual batagor cuma orang lain, yang batagornya itu ada kuahnya. Aku sebenarnya bukan patah hati atau galau cuma bingung aja, aku punya rasa suka takutnya nanti, Tony enggak punya rasa suka denganku." Kata, Nisa lagi.
"Kamu jangan khawatir, sabar aja kalau, dia juga punya rasa suka pasti dirimu cepat atau lambat, akan dapat jawabannya. Akan tetapi kalau, dia enggak memiliki rasa suka yang sama denganmu berarti, dia bukan yang terbaik untukmu, kamu bakal dapat yang lebih baik daripadanya." Hibur, Lisa sambil menghabiskan makanannya.
Nisa mengangguk mengiyakan sambil tersenyum, ia pun menikmati makanan yang sudah dibelinya, agar perutnya merasa kenyang. Iya enggak lupa meledek sahabatnya, untuk mencairkan suasana, agar enggak terasa canggung. "Begitu juga denganmu kalau suka beneran dengan, Adnan semoga segera mendapatkan jawaban."
"Kamu itu apaan si malah iseng enggak jelas, Adnan lagi, Adnan lagi nanti kalau ada yang cemburu gimana. Aku kan repot, enggak bisa balasnya kalau di cemburuin sama ceweknya orang, kamu itu, loh sembarangan ngomongnya." Protes, Lisa.
"Kamu mukanya merah banget, kayak kepiting rebus, jangan-jangan suka beneran." Ledek, Nisa.
"Kamu kalau ingin beli udang rebus atau kepiting rebus, ya tinggal beli aja enggak usah iseng sama, aku segala. Jam segini penjualnya masih buka kok, atau perlu, aku antar biar enggak salah warungnya." Crocos, Lisa.
"Enggak usahlah, aku lagi enggak pengen beli kok." Jawab, Nisa sambil tertawa ngakak.
Lisa yang gemas dengan tingkah sahabatnya pun mencubit dengan pelan,ia tak ingin diledek lagi soalnya.
"Aduh, sakit tahu!!!!" Teriak, Nisa.
"Ya makanya jangan nakal, kalau enggak mau dicubit." Gumam, Lisa.
"Ya sudah kalau gitu, aku enggak nakal lagi kok, tetapi besok enggak janji, iseng lagi apa enggak." Balas, Nisa.
Lisa hanya mengangguk mengiyakan, lalu melanjutkan makan dengan pelan, supaya enggak tersedak.
Sementara itu, Tony yang masih mendorong gerobak menuju ke tempat penggilingan beras bertemu, pak Budi seorang penjual bakso keliling.
"Padinya banyak banget, le? Kamu apa enggak capek, didorong sendiri pakai gerobak, dengan muatan sebanyak itu?" Tanya, pak Budi.
"Ya sebenarnya capek, tetapi ini sudah tugasku jadi, berat enggak berat mau enggak mau, aku harus membawanya. Apa tukaran saja, aku yang jualan bakso, bapak yang mengantarkan padi ke tempat penggilingan!" Sahut, Toni.
"Ya janganlah nanti, kamu yang dapat uang karena menjual bakso sedangkan, aku enggak dapat uang mengantar padi ke tempat penggilingan. Terus nanti istri dan anakku mau makan apa? Kalau, aku enggak dapat uang, kamu itu ada-ada saja." Imbuh, pak Budi.
"Ya sudah kalau gitu selamat berpisah, aku takut kalau kelamaan tempatnya sudah tutup. Bapak semoga jualannya laris dan kalau ada kesempatan semoga, kita bisa bertemu lagi." Ucap, Toni sambil berlalu.
Pak Budi mengangguk mengaminkan ucapan, Toni dan mengatakan hati-hati, lalu melanjutkan perjalanannya untuk dagang, keliling.
Komentar
Posting Komentar