KISAH CINTA, Anisa 26

Sore itu, Lisa dan Misa masih duduk di bangku, mereka baru selesai menikmati siome dan batagor.


"Nis, aku haus, bolehkah minta air minum?" Tanya, Lisa.

"Boleh kok memangnya, kamu mau minum apa? Teh, susu, sirop atau kopi?" Balas, Nisa.

"Aku minumnya air putih saja, yang penting airnya dingin banget jadi, aku enggak merasa kepanasan. Untuk kopi, susu, teh buat besok lagi aja, aku soalnya juga di rumah masih punya minuman yang, kamu sebutkan itu." Imbuh, Lisa.

""Kepedasan atau kepanasan si?" Goda, Nisa.

"Kepanasanlah, aku itu sudah terbiasa makan pedas jadi, enggak merasa kepedasan." Jawab, Lisa.

"Baiklah kalau gitu, aku ambilkan dulu tunggu, ya!" Kata, Nisa sambil bergegas ke dalam rumah.


Lisa hp-nya berderingn Ada telepon dari ibunya, Iya mengangkat telepon sambil menanti sahabatnya mengambilkan air minum.


"Halo, bu..." Sapa, Lisa.

"Kamu itu ke mana aja, kok jam segini belum pulang? Sedang ada pelajaran tambahan apa gimana si?" Tanya, bu Agus sambil menata telur asin dalam wadah.

"Aku sudah pulang, bu sekarang lagi di depan rumah, Nisa. Baru selesai makan batagor, rasanya enak banget, lumayan bisa menghilangkan rasa lapar." Jawab, Lisa.

"Kamu beli jajan di sekolahan, terus dimakan di situ apa gimana?" Tanya, bu Agus lagi.

"Aku tadi baru sampai depan rumahnya, Nisa mau langsung pulang niatnya. Ternyata ada penjual siome dan batagor, aku cek saku, masih ada uang. Aku akhirnya nunggu penjualnya mendekat, pas penjualnya ada di depan rumah, Nisa, aku langsung beli." Jawab, Lisa lagi.

"Nisa enggak dibelikan si?" Imbuh, bu Agus.

"Dia sudah beli sendiri kok." Respons, Lisa.

"Ya sudah kalau gitu, pulangnya jangan kelamaan!" Seru, bu Agus dari sebrang telpon.


Lisa mengangguk mengiyakan sambil mematikan telpon, ia memang ingin segera pulang untuk mandi.


Sementara itu, Nisa enggak langsung mengambilkan air minum, ia menaruh tas terlebih dahulu.


"Aku kok haus juga, ya mendingan tak minum dulu, kerongkonganku rasanya sudah kering banget, kaya bunga belum disirami. Setelah itu, aku mengambilkan minum untuk, Lisa, dia semoga aja enggak ngambek gara-gara ambilnya kelamaan." Batin, Nisa.


Usai ambil minum, Nisa menghampiri sahabatnya, di bangku sambil berucap. "Lis ini minumnya."

"Kamu ngapain aja si? Masa ngambil minum lama banget, kaya ambilnya sambil keliling dunia." Crocos, Lisa.

"Ya maaf, aku juga haus, aku minum dulu makanya lama." Jelas, Nisa.

"Ya sudah enggak apa-apa, aku enggak tahu kalau dirimu haus. Terima kasih, ya minumnya segar banget rasanya." Kata, Lisa.

"Iya sama-sama, kurang apa enggak minumnya?" Tanya, Nisa.

"Ini sudah cukup, minumnya enggak kurang, ini aja sudah banyak banget. Oh iya, aku pulang dulu, ya! Ibuku tadi sudah telpon, barangkali sudah rindu padaku." Kata, Lisa lagi.

"Kamu itu paling-paling disuruh pulang itu, mau disuruh bantu bikin telur asin. Kamu kok jadi, orang pd amat si, emang ibumu pas telpon bilang kangen?" Ledek, Nisa.

"Kamu kok kepo si, ada deh pokoknya rahasia." Sahut, Lisa sambil berlalu.


Nisa hanya tersenyum mendengar jawaban sahabatnya, ia pun membawa gelas ke dapur lalu mandi.


Sementara di warung, Bu Adam dan Pak Adam baru selesai shalat asyar,, tiba-tiba ada orang menggunakan mobil yang menghampiri.


"Permisi, apakah benar ini dengan warung makan Adam?" Tanyanya.

"Iya benar, maaf ini dengan siapa, ya?" Respons, Bu Adam.

"Mira namaku, maksud kedatanganku kemari ingin memesan ayam geprek untuk selamatan. Kira-kira apa bisa?" Balas orang tersebut sambil berjabat tangan.

"Bisa banget kok, Bu kira-kira ingin pesan berapa porsi? Terus pesannya akan digunakan kapan?" Tanya, Bu Adam.

"Aku ingin pesan 200 porsi, untuk selamatan kecil-kecilan nanti malam. Acaranya sekitar habis isya, maaf banget kalau pesanannya mendadak." Kata, Bu Mira.

"Baik, Bu, kita akan usahakan untuk membuat ayam geprek 200 porsi, kira-kira apa ada nomor telepon yang bisa dihubungi?" Ucap, Bu Adam.


Bu Mira mengangguk mengiyakan lalu memberikan nomor teleponnya, wajahnya terlihat sangat, ,  bahagia, ia merasa kedatangannya ke warung Adam enggak sia-sia. Setelah itu, Bu Mira berpamitan dan pergi menggunakan mobilnya, sementara Pak Adam dan istrinya enggak merasa bingung walau enggak minta alamatnya, karena sudah ada nomor telepon yang bisa dihubungi.


"Alhamdulillah, ya Mamah hari ini warung, kita dapat pesanan." Kata, Pak Adam.


Bu Adam mengangguk mengiyakan, sambil menyiapkan bahan-bahan untuk membuat ayam geprek.


Sementara di Desa sebelah, Toni masih mendorong gerobak menuju tempat penggilingan beras. Ia di jalan ditanya orang yang akan ke pasar menggunakan motor. "Mau ke mana, le? Dorong gerobak kok enggak pakai sepeda?"

"Aku mau ke tempat penggilingan beras, bu semoga buka. Aku tadi enggak sempat ambil sepeda, soalnya buru-buru takut tempatnya sudah tutup kalau kesorean." Jawab, Toni.

"Penggilingan beras sebelah selatan buka, tetapi ramai banget, paling berasmu bisa diambilnya besok. Kamu mending ke tempat penggilingan beras yang sebelah Utara saja! Siapa tahu berasmu langsung diproses, terus enggak sampai besok sudah bisa diambil atau dibawa pulang." Jelas orang tersebut.


Toni mengangguk mengiyakan lalu melanjutkan perjalanan sambil mendorong gerobaknya, ia sampai di penggilingan beras sebelah utara, sayangnya tutup. Toni melanjutkan perjalanan menuju tempat penggilingan beras sebelah,  selatan, untungnya tempat tersebut buka jadi, Tony perjalanannya enggak sia-sia.


"Alhamdulillah, aku sudah olahraga capek-capek, enggak sia-sia juga ini tempat Ternyata buka. Kalau berasnya diproses besok pagi juga enggak masalah, aku kan bisanya ambil sore setelah pulang sekolah." Batin, Toni sambil menurunkan padi dari gerobak.


Pemilik mesin penggilingan beras yang melihat kedatangan, Toni langsung menghampiri dan bertanya dengan ramah. "Ada yang bisa tak bantu, mas?"

"Maaf, pak ingin menggiling padi apa bisa?" Ucap, Toni.

"Bisa banget, mas taruh saja padinya di pojok! Jangan lupa dikasih nama, biar enggak tertukar!" Tegasnya.


Toni mengangguk mengiyakan sambil memberi tanda, agar barangnya enggak tertukar.


"Oh iya, tetapi besok sore berasnya baru jadi, soalnya di sini lagi penuh." Imbuh pemiliknya.


Toni mengangguk mengiyakan, setelah itu pulang dengan mendorong gerobak kosong.


Sementara itu, Nisa usai mandi dan shalat asyar berniat mengangkat jemuran di belakang rumah, ia baru keluar kamar hp-nya malah berdering.


"Siapa si yang telpon? Enggak tahu kalau, aku masih punya pekerjaan rumah apa si?" Gerutu, Nisa sambil kembali ke kamar.


Nisa mengambil hp, lalu mengecek siapa penelponnya, ternyata ibunya yang menghubungi.


"Tumben banget jam segini, mamah telpon? Apa jangan-jangan, mamah sedang membutuhkan bantuanku?" Tanya, Nisa dalam, , ,  hati. 

Komentar