Aku sore ini buka pertama di tanah rantau, saat sudah bekerja untuk menghidupi diri sendiri.
Aku belum berkeluarga, tetapi aku harus semangat untuk menjalani kehidupan, yang terkadang menyenangkan yang terkadang menyedihkan di hati.
Waktu sudah sore, aku berjalan ke sana kemari, demi mencari lauk untuk buka seorang diri.
Suara Murottal dari masjid terdekat sudah terdengar, tetapi aku belum menemukan lauk untuk buka sore ini.
Penjual lauk langgananku yang biasa, aku beli setiap hari, kini sedang tutup selama 4 hari.
Aku bingung sekali, hatiku benar-benar Merana, aku tak tahu harus berbuka dengan apa sore ini.
Aku hanya bisa berpikir dalam hati.
Masa si berpuasa di tanah Rantau, mencari lauk aja sesusah ini.
Aku merasa sedih dan bingung, penjual lauk tak ada yang buka, penjual gorengan tak ada yang lewat, Aku tak tahu harus ke mana lagi harus mencari.
Suara Murottal semakin ramai, sesaat lagi suara adzan akan terdengar di mana-mana, aku belum mendapatkan lauk untuk buka sore ini.
Aku pun bercerita pada sahabatku, melalui pesan Whatsapp, siapa tahu bisa mendapatkan solusi.
Ke Mana lagi kuharus mencari, lauk untuk buka sore ini.
Aku pun mendapat solusi, untuk menghubungi rekan-rekan sesama perantauan yang berjualan di kota ini.
Aku langsung membuka HP, menghubungi salah satu rekanku yang berjualan sempolan dan cilor, yang rasanya sangat menggoda untuk dinikmati.
Untungnya saja kawanku itu berjualan, hatiku merasa lega sudah tak Bingung lagi, untuk mencari lauk buka puasa sore ini.
Walaupun warung-warung makan Sedang tutup, aku tak merasa bersedih lagi untuk mencari lauk buka puasa, yang tak kunjung kutemui di sore ini.
Lebih enaknya lagi, rekanku yang berjualan itu bersedia mengantarkan makanannya, ke tempat persinggahanku saat ini.
Walaupun buka puasa dengan lauk seadanya, hatiku lega, tak merasa gelisah lagi.
Komentar
Posting Komentar