Azizah adalah gadis cantik. Ia tinggal di pedesaan yang masih asri. Belum terkena banyak polusi.
Hobinya membaca dan menulis. Bacaan yang disukai baik itu novel maupun buku pengetahuan untuk tulisan yang dibuat, yaitu cerpen dan puisi.
Pada hari minggu siang. Azizah bosan di rumah. Langkah kakinya membawanya ke cave.
Azizah di sana asyik menulis. Sambil menikmati kue bronies dan kopi susu. Tiba-tiba ada pria yang duduk di hadapannya. Dia membawa laptop.
"Permisi, kak. Saya apakah boleh duduk di sini? Soalnya semua tempat sedang penuh. Yang tersisa hanya di sini."
Azizah hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu, Azizah melanjutkan aktivitasnya.
Pada malam harinya, entah mengapa dirinya terbayang-bayang terus. Dengan wajah tampan, pria yang semeja dengannya tadi siang.
Azizah pun berdoa dalam hati.
"Ya Allah semoga bisa bertemu dengan pria itu lagi. Siapa tahu, aku bisa berkenalan dengannya."
Di tempat yang berbeda. Tepatnya di pinggiran kota. Umar sedang merenung. Memikirkan kejadian yang dialami di cave.
"Itu cewek sebenarnya cantik si. Sayangnya, dia cuek banget. Aku ajak bicara saja, ngangguk doang."
Ibunya yang memperhatikan, Umar yang sedang melamun. Mendekati, Umar dengan hati-hati. Mempertanyakan apa yang sedang dipikirkan, Umar.
Ia bersandar di pelukan sang, ibu. Menceritakan keluh kesahnya tanpa ragu.
Ibunya mendengarkan dengan sabar. Dan, sesekali mengelus rambutnya. Ibu memberi nasehat.
"Kalau jodohmu, pasti esok akan berjumpa lagi, tetapi kalau tidak bertemu lagi. Dia berarti belum menjadi jodohmu. Yang penting terus berdoa, minta yang terbaik sama Allah."
Umar mencoba memahami nasehat, ibu. Dengan sebaik-baiknya.
Seminggu telah berlalu. Umar menggarap pekerjaannya, pasti di cave. Dirinya setiap ke cave tidak pernah bertemu, Azizah.
"Aku dari pagi sampai siang ke tempat ini. Namun, gadis itu tidak pernah terlihat lagi. Mungkin belum waktunya untuk mengenal." Batinnya.
Azizah setiap sore berkunjung ke cave. Barangkali bisa bertemu, dengan sosok yang selalu menghantuinya. Nyatanya, sosok yang dicari, tidak muncul.
Pada hari sabtu sore, Umar dipanggil ayahnya, Pak Anuwar namanya.
"Nak, ayah ingin bicara."
"Bicara apa, yah?"
"Ayah ingin menjodohkanmu dengan seseorang. Dia anaknya sahabat, ayah."
"Apa, yah? Perjodohan? Tidak, aku tidak mau."
"Coba dulu bertemu sekali, nak. Kalau tidak cocok, kamu boleh mencari calon istri, yang sesuai keinginanmu."
Ujarnya, sangat lembut.
"Benar kata, ayahmu, nak." Imbuh, ibu.
Umar pun setuju. Bersedia menemui gadis tersebut.
Di Desa hawanya sangat sejuk sore itu. Akan tetapi, Azizah hatinya sedang gelisah. Gara-gara akan dijodohkan.
"Kenapa harus dijodoh-jodohkan segala si, yah? Aku kan ingin cari jodoh sendiri."
Ucapnya, dengan ekspresi datar. Bagaikan masakan yang hambar.
"Ayah pernah berjanji pada sahabat zaman SMA. Kalau punya anak, akan dijodohkan, kalau anaknya laki-laki semua atau perempuan semua, akan dijadikan saudara. Kalau, kamu tidak suka setidaknya kenalan dulu."
Ungkapnya, dengan tegas. Isyarat, keinginannya tidak mau dibantah..
Keesokan paginya, sehabis jalan santai. Azizah dan Umar kembali bertemu.
"Halo, perkenalkan namaku, Umar anak dari pinggiran Kota. Kamu cewek yang waktu itu semeja denganku di cave kan?"
"Hai, Azizah namaku, anak dari Desa Pinggir Sawah. Salam kenal, ya, kita semoga bisa menjadi kawan yang saling menyemangati. Iya benar, kita pernah semeja di cave, kita waktu itu hanya diam tidak saling menyapa."
Mereka asyik mengobrol sampai siang, walaupun sang mentari telah hadir di bumi, dengan senyum manisnya. Mereka tidak merasa kepanasan, karena tempat yang dipilih, di bawah pohon mangga yang rindang. Apalagi, mereka memiliki hobi yang sama. Jadi, semakin betah ngobrolnya.
Mereka juga bertukar nomor hp. Agar keduanya tetap bisa berkomonikasi.
Pada pukul 13.00, Azizah disuruh siap-siap yang cantik. Dengan pakaian yang anggun. Pak Rahman ingin tampilan anaknya secantik mungkin agar tidak mengecewakan sahabatnya sekaligus calon besannya.
Sementara itu, Umar di ajak orang tuanya ke Desa. Untuk menemui calon istri yang dipilihkan ayahnya. Walau dengan berat hati, Umar menemuinya.
Ketika sampai di Desa, mereka disambut dengan ramah. Ketika bertemu, mereka saling terkejut.
"Umar!"
"Azizah!"
"Kalian sudah saling kenal? Kenapa tidak cerita sama, ayah?"
Ujar, Pak Rahman dengan wajah yang terlihat bahagia.
"Kalau, Azizah yang dijodohkan denganku. Aku tidak akan menolaknya. Karena saat pertama kali jumpa di cave, aku sudah jatuh hati padanya."
Azizah pun menyambungi ucapan, Umar.
"Aku si juga bersedia, kalau dijodohkan dengan, Umar, aku tidak menyangka bersatu dengan orang yang sudah mencuri hatiku. Sebab, aku saat pertama kali jumpa dengan, Umar ia sudah menarik hatiku untuk penasaran padanya, seperti magnet."
Ungkapnya dengan malu-malu. Wajahnya pun memerah, bagaikan udang rebus, saking malunya.
Pak Anuwar dan Pak Rahman hatinya amat bahagia, perjanjian untuk menjodohkan anaknya, pada masa SMA, kini berjalan lancar, tanpa penolakan dari anak-anaknya. Pak Anwar dan Pak Rahman pun langsung membahas tanggal pernikahan, Azizah dan Umar pada hari itu juga, setelah semua setuju dengan tanggal yang dipilih. Surat-suratnya pun diurus Ke balai desa dan keduanya dinikahkan di KUA, agar resmi menjadi pasangan suami istri.
Selesai
Februari 2025
Komentar
Posting Komentar