Wandi Namaku, awal Februari terasa sangat membahagiakan bagiku, Aku kembali pergi ke tanah rantau. Tempat rantau yang kusinggahi kali ini tetap sama dengan daerah waktu kubelajar dulu, bedanya sekarang diriku bekerja, dulu diriku sekolah dan mendapat berbagai pengalaman dalam suka duka mencari ilmu. Pada tanggal 3 Februari Aku berangkat, Sesampainya di tanah rantau Entah mengapa diriku teringat awal pertama kali berjumpa, dengan sahabat Setiaku yang selalu Menemani dalam suka duka sampai saat ini.
Waktu itu awal tahun 2010, aku bersama teman-temanku sedang pelajaran Bahasa Indonesia bersama, Pak Ridwan. Aku dan teman-teman waktu itu diberi tugas untuk mengarang sebuah cerita, Pak Ridwan bilang ingin menyambut siswa baru bersama guru-guru yang lain.
"Awas kalau tugasnya enggak dikerjakan, kalian nanti tak kasih hukuman." Ancam, Pak Ridwan.
"Saya mau kalau hukumannya disuruh makan yang banyak, Pak saya siap menerimanya. Beneran kok, Pak saya bakal jadi, pemenangnya kalau dapat hukuman makan yang banyak." Cletukku dengan sepontan.
"Kamu itu yang bener aja Kalau makan-makan itu bukan hukuman, tetapi obat lapar bagi semua orang. Hukumannya itu berdiri di Tiang Bendera pas cuaca panas-panas, kalau sampai enggak ada yang mengerjakan tugas siang ini." Tandas, Pak Ridwan sambil berjalan keluar.
Aku dan kawan-kawanku mulai mengarang sebuah cerita, karena tak ingin berjemur di tiang bendera saat panas-panas. Aku dan salah satu kawan, Rahma namanya mengobrol setelah selesai mengerjakan tugas.
"Murid barunya kira-kira laki-laki apa perempuan, ya, Rah?" Tanyaku.
"Ya Aku enggak tahulah itu murid baru laki-laki apa perempuan, aku Emangnya cenayang yang bisa menerawang, kamu itu ada-ada aja. Kamu jangan khawatir pasti kalau murid barunya Sudah datang, Pak Ridwan bakal mengenalkannya pada, kita yang berada di kelas ini, kamu jangan khawatir." Jawab, Rahma.
"Iya si, Kamu benar pasti murid baru itu bakal keliling-keliling melihat sekolahan, kita dan mampir ke kelas ini. Apalagi kalau murid barunya itu perempuan, Aku senang banget bakalnya Tak jadikan pacarku." Cletukku dengan asal.
"Kamu itu suka banget bercanda, iya kalau nurid barunya sudah besar, kalau murid barunya masih kelas 1 SD masa mau dipacari. Kamu si, Iya sudah kelas 4 wajarlah kalau sudah membayangkan ingin punya pacar, tetapi jangan anak yang baru kelas 1 SD jugalah sasarannya." Kata, Rahma.
Aku baru mau membuka mulut untuk menjawab ucapan, Rahma, Pak Ridwan sudah datang terlebih dahulu bersama murid baru dan keluarganya. Murid barunya adalah seorang perempuan, Lina namanya dia adalah anak disabilitas gangguan penglihatan atau tunanetra seperti diriku. Aku dan teman-teman sekelasku diajak perkenalan dan salaman, aku memegang tangannya rasanya lembut dan halus, dia memang masih kecil dan masih kelas 1 SD.
"Lina namaku, kakak namanya siapa?" Tanya, Lina.
"Wandi namaku kalau yang disebelahku ini, Rahma namanya." Jawabku.
Pak ridwan mengajak, lina perkenalan dengan semua siswa yang ada di kelas ini, agar merasa akrap. Setelah itu, pak ridwan kembali ke hadapanku dengan membawa buku, yang diambil di lemari sudut kelas, beliau menyuruhku membaca.
"Wan ayo dibaca yang keras! Lina biar tahu, walaupun orang punya keterbatasan bisa membaca dan menulis, dia biar lebih semangat belajarnya di tempat ini!" Pinta, Pak Ridwan sambil menyerahkan buku braille ke tanganku.
Aku hanya terdiam sambil memegang buku itu, aku malu untuk membacanya, karena bacaanku belum lancar walaupun sudah membaca menulis dengan huruf braille, 4 tahun lamanya.
"Kamu itu gimana si, disuruh membaca kok diam aja!" Omel, Pak Ridwan.
Aku hanya terdiam bingung mau menjawab apa, buku itu masih berada di tanganku. Aku berharap ada yang mengalihkan perhatian, Pak Ridwan sehingga, aku enggak disuruh membaca pada siang itu. Doaku terkabul, salah satu keluarganya, Lina menghampiriku dan mengajak ngobrol, perasaanku benar-benar terasa lega seperti mendapat oase di tengah gurun.
"Masnya ini asalnya dari mana,, kalau boleh tahu? Terus selama sekolah tinggal di sini atau tinggal di asrama?" Tanya salah satu keluarganya, Lina waktu itu.
"Saya tinggal di asrama, soalnya kalau antar jemput jauh rumahnya, bu. Saya yang ada bisa-bisa ketinggalan pelajaran banyak kalau antar jemput, apalagi kalau angkutannya susah dicari atau ditunggu datangnya lama. Kalau tinggal di asrama sudah pasti enggak akan terlambat, tempatnya juga dekat, bu.
"Masnya orang mana emangnya?" Tanyanya lagi.
"Saya orang Batang, bu." Jawabku.
"Kalau gitu satu daerah sama, Lina dong, walaupun mungkin beda kecamatan."
Aku hanya mengangguk mengiyakan sambil tersenyum senyum sendiri, kenangan itu memang sangat berkesan bagiku, walaupun hanya sekilas teringat masa-masa pertama kali berjumpa dengan sahabatku. Kedua kawan bekerjaku tiba-tiba pulang, aku pun terkejut saat keduanya membuka pintu. Aku tersadar dari lamunan lalu bergegas merapikan barang-barang bawaanku ke dalam lemari, agar terlihat rapi dan tak berserakan di mana-mana.
Selesai
Hadir
BalasHapus