Kancil dan Kodok

Pada siang hari yang hawanya sangat panas, kancil sedang duduk di bawah pohon cabe. Kodok tiba-tiba datang menghampiri wajahnya terlihat sangat lelah, iya habis perjalanan jauh.


"Halo, kancil...."

"Eh, kodok! Kamu habis dari mana? Ada angin apa, bisa sampai kemari?"

"Aku itu lagi Gabut, di pinggir sungai sedang sepi para, kodok yang lain jalan-jalan sendiri-sendiri. Aku tidak menyangka bisa berjalan-jalan sejauh ini, kamu pasti tahulah dari sawah ke hutan ini sangat jauh, cil."

"Ini curhat apa menjawab pertanyaanku si, kodok."

"Terserah apa katamulah, cil mau dibilang menjawab pertanyaan, mau dibilang curhat, mau dibilang cerita silakan saja. Kancil, ngomong-ngomong Sebenarnya kamu sedang apa di sini?"

"Kodok, aku ini sedang menjaga pohon permen."

"Aku Kok baru dengar si, Cil kalau permen ada pohonnya?"

"Ya ini nyatanya, aku bisa duduk di bawah pohonnya."


Jawab, kancil sambil tertawa dalam hati, ia sedang iseng makanya pohon cabe dibilang pohon permen.


"Cil, kalau gitu Aku minta dong! Aku ingin merasakan permen yang ada pohonnya, kira-kira enak atau tidak, ya."

"Kodok, kamu tidak boleh minta!"

"Kancil, Ayolah aku minta, sedikit sajalah!"

"Kodok, kamu pokoknya jangan minta!"

"Kancil, Ayolah aku minta, tidak banyak kok!"

"Kodok, kamu jangan makan permen yang ini! Cari permen yang lain saja sana!"

"Kancil, aku tidak mau cari permen yang lain, aku maunya permen yang ada pohonnya."


Kancil akhirnya mengabulkan permintaan, kodok dengan satu syarat.


"Kodok, Kamu boleh makan permen ini, tetapi ada syaratnya."

"Memang Apa syaratnya, kancil?"

"Mudah kok syaratnya, kamu makan permen ini, Kalau diriku sudah lari jauh banget. Aku sudah melarang, tetapi dirimu masih saja memaksa ingin makan, kalau sudah tahu rasanya permen ini jangan emosi. Terus kalau suatu saat kembali berjumpa denganku lagi jangan menyalahkanku, kodok."


Pada akhirnya, kodok pun menyetujui persyaratan yang diberikan, kancil. Kancil langsung siap-siap untuk pergi dari bawah pohon cabai, Ia berlari sekencang mungkin agar bisa pergi jauh dan tidak bisa ditemui, kodok.


Kodok langsung mendekati pohon tersebut, ia memetik cabai satu persatu lalu dimakan. Makan satu biji belum merasa kepedasan, iya Pun bertanya-tanya dalam hati. "Permen apaan sebenarnya ini, ya? Permen kok rasanya tidak manis sama sekali?"


Kodok kembali mencoba makan cabai, Iya belum merasa kepedasan lagi, sampai pada akhirnya setelah makan lebih dari 10 biji. Kodok baru merasa kepedasan, Ia baru sadar ini adalah salahnya sendiri, tidak mau mendengar larangan, kancil.


"Jadi, ini sebenarnya cabai bukan permen sungguhan pantesan aja, kancil tidak mengizinkanku memakannya. Aku kalau ingin protes dengan, kancil, ya tidak mungkin, aku kan sudah setuju dengan syaratnya."


Batin, kodok dalam hati sambil merasa kepedasan, Ia pun berlari ke sungai untuk mencari air minum. Untuk meredakan rasa pedas yang dirasakannya, untungnya ada sungai tidak jauh dari pohon cabai, kodok pun merasa lega. Sementara itu, kancil di tempat lain sedang asyik makan mentimun sambil membayangkan, kodok yang kepedasan akibat ulahnya yang mengatakan pohon cabe itu adalah pohon permen.


Selesai 

Komentar