KUKIRA TEROR

Saat sang mentari menyapa bumi di siang hari, aku mendapat nomor baru yang mengirim pesan padaku.

Aku rasanya panik setengah mati, kupikir itu teror dari orang yang berniat jahat padaku.

Akan tetapi, di sisi lain aku berpikir barangkali itu nomor penting yang ingin ada perlu denganku.


Aku merasa kalut saat ada nomor baru menghubungiku lewat telepon seluler, aku hanya mengabaikannya saja dan berharap nomor itu tak menggangguku.

Di lain waktu nomor itu kembali menghubungiku, perasaanku terbelah menjadi dua antara ingin memblokir dan takut barangkali itu nomor penting yang menghubungiku.

Kupikir itu teror dari orang yang tak dikenal, entah keberadaannya dimana entah orang itu siapa menurutku.


Aku rasa orang itu tak pernah menyerah, walaupun teleponnya selalu diabaikan olehku.

Orang tersebut tetap gigih mengirim pesan, walaupun sering diabaikan olehku.

Aku setiap membuka ponsel bingung sendiri, kupikir mengapa teror itu tak mau berhenti menggangguku.


Aku sampai memasang nomor itu di status whatsapp, siapa tahu ada yang mengenal dan memberitahunya padaku.

Sampai status itu terhapus dengan sendirinya, hasilnya tetap nihil, tak ada yang memberi tahu padaku.

Aku sudah bertekad jika nomor itu mengganggu lagi, aku akan memblokirnya saja, agar tak pernah menggangguku.


Akan tetapi, aku belum berhasil memblokirnya, sahabatku yang jauh di kota, tiba-tiba menghubungiku.

Ia menjelaskan bahwa punya nomor baru lagi, nomor yang selama ini kukira teror yang mengganggu tak tahu malu.

Aku yang malu sendiri, sahabatnya yang sudah sekian lama menemaniku dalam setiap langkahku, tetapi kukira teror yang mengganggu dan ingin berbuat tak baik padaku. 

Komentar