MATI LAMPU

Pada hari Rabu sore, aku mengecas ponsel, aku tak tahu mengapa tiba-tiba kepala chargernya dingin.

Aku tak mengecek baterai sama sekali, aku langsung menggunakannya untuk Berselancar Di sosial media, Tetapi entah mengapa tak ada jaringan.

Aku tak berpikir bahwa sore itu mulai mati lampu, tetapi aku berpikir mungkin tak ada jaringan karena sedang hujan.

Aku merasa terheran, Mengapa pengajian sebelum buka puasa di masjid, suaranya tak senyaring biasanya, hanya terdengar pelan.


Aku saat menyalakan lampu dan berniat ke dapur untuk berbuka puasa dengan keluarga, baru menyadari jika sedang mati lampu, netraku merasakan suasana gelap, aku untungnya tak takut pada kegelapan.

Sore itu banyak sekali orang yang berbuka puasa sambil menyalakan lilin, orang berbuka puasa sambil menyalakan ponsel untuk penerangan, ada juga yang menggunakan baterai senter dan Damar yang diberi minyak tanah untuk penerangan.

Bahkan sampai larut malam lampu belum nyala, hawanya masih saja gelap, walaupun di luar rumah sedang padang wulan atau terang bulan.

Air air mulai berkurang semakin banyak, PAM ikut mati karena mati lampu, ponsel-ponsel yang lowbat bingung ingin dicas di mana, sementara semakin lama baterainya semakin berkurang.


Banyak orang yang bilang, jika mati lampu gegara ada angin yang sangat kencang yang disertai hujan.

Bahkan ada warga yang meyakini, angin yang datang pada kamis sore itu, angin puting beliung.

Aku tak tahu pasti itu angin beliung, angin topan, atau angin puyuh yang datang.

Yang pasti saking kencangnya angin, bukan hanya berhasil merontokan dedaunan, tetapi membuat pohon yang rindang tumbang, terkena tiang listrik dan terjadi mati lampu sehari semalam.


Saat mendengar suara adzan di Masjid, aku berpikir kok bisa nyala sendiri di masjid, padahal di mana-mana sedang mati lampu orang-orang pun merasa kebingungan.

Aku pun bertanya pada orang-orang di sekitarku, Mengapa masjid bisa ada lampunya, ternyata masjid bisa nyala karena ada genset atau diesel atau dipasang mesin untuk menunjang lampu, agar tetap menyala bagaikan hati yang rapuh diberi kekuatan.

Pada akhirnya para warga pun berbondong-bondong untuk menumpang mengecas HP di masjid, menggunakan fasilitas yang ada Dan berharap lampu segera Menyala kembali, untuk menunjang kehidupan.

Pagi-paginya pun tak kalah ramai di sungai, orang-orang pada melaksanakan aktivitas dan mengambil air, untuk dibawa ke rumah masing-masing.


Efek mati lampu sejak Rabu sore, membuat orang orang berbondong-bondong menuju sungai, di sana Antre satu sama lain.

Ada yang sengaja mandi di sungai, ada yang mencuci pakaian di sungai, ada yang buang hajat di sungai, ada juga yang sengaja ambil air untuk dibawa pulang.

Sungguh dari pagi sampai sore di  sekitar sungai ramai sekali,  penuh orang benar-benar tak kunjung sepi suasananya,, demi antre mengambil air, ada yang menggunakan motor, ada juga yang jalan kaki.

Baik itu dari desaku sendiri maupun dari desa sebelah, mereka benar-benar memanfaatkan air sungai yang melimpah, yang warnanya masih jernih, untuk kebutuhan sehari-hari.


Hari Kamis sore hujan deras menyapa bumi, aku merasa gembira.

Bisa mendapatkan air untuk mandi walaupun dari hujan, daripada harus ke sungai, menunggu antrean dari para warga.

Aku usai mandi, Entah mengapa hatiku penasaran, ingin mengecek lampu siapa tahu sudah menyala.

Hatiku merasa lega, ternyata dugaanku benar, hari kamis sore yang penuh hujan, lampu sudah menyala.


05-03-2026

Tertanda Linatun 

Komentar