Aku menatap hujan di jendela, membayangkan indahnya tetesan air yang berkerlap-kerlip membuat hatiku merasa lega.
Seolah-olah luka yang sekian lama bersandar di hatiku, kini telah pamit dari hidupku, dan melangkah untuk melanjutkan perjalanannya.
Usahaku menyibukkan diri untuk melupakan Segala Luka Yang tertoreh di hatiku kini tak sia-sia, aku kini akan berusaha menata hidup kembali, untuk meneruskan setiap langkah meraih masa depan yang cerah.
Aku menatap hujan di jendela sambil menikmati teh pahit yang menguatkanku, di setiap kesedihan yang datang menyapa.
Aku ingin sekali menghapus bayang-bayangmu, ingin sekali membuang Segala Luka Yang kau ciptakan Sejauh Mungkin, agar tak terasa sesak di dada.
Semua kata-kata manismu kini hanya tinggal cerita, semua rayuan-rayuan mautmu kini hanya tinggal kenangan, Aku ingin melangkah ke depan untuk menata hidup yang baru dan membahagiakan jiwa.
Aku menatap hujan di jendela sambil menikmati novel kesukaanku, hatiku merasa bahagia luka yang, kau ukir kini sudah mengering dengan sempurna.
Aku harap, kau tak pernah merusak dan mengambil kebahagiaanku lagi, yang kujaga dengan susah payah.
Aku harap, kau tak mengusik hidupku lagi, Aku harap kini, kau harus menata hidup baru untuk mendapatkan kebahagiaan yang sebenarnya.
Aku saat menatap hujan di jendela padasiang hari, mataku berbinar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.
Aku merasa senang untuk beraktivitas, aku merasa riang untuk meluapkan hobiku, tanpa takut ada bayangan yang mengganggunya.
Aku berterima kasih padamu, karena telah memberiku pengalaman sehingga, aku tak salah untuk melangkah sehingga, aku tak salah untuk mencari cinta.
Aku menatap hujan di jendela, senyumku merekah mendengar suara alam, yang terlihat sangat tenang.
Aku bersyukur, suara hujan yang menyapa bumi, dapat mengairi kehidupan di Bumi, baik itu manusia maupun tumbuh-tumbuhan.
Aku merasa bersyukur, Tuhan masih memberikan rahmatnya berupa hujan sehingga,, kehidupan di Bumi tak kekurangan air, dan tak merasa kekeringan.
Komentar
Posting Komentar