PAYUNG KESAYANGAN

Musim hujan di setiap sore dan pagi, membuatku pergi ke mana-mana membawa payung.

Agar tubuhku tetap aman, tak kebasahan karena terkena air hujan.

Akan tetapi, sore itu saat pergi ke masjid payung kesayanganku tertukar, aku merasa bingung.


Aku pergi ke sana kemari demi mendeteksi di mana payung milikku yang sebenarnya, tetapi nihil hasilnya.

Aku pulang dengan perasaan gundah, payung Kesayangan yang kurawat dengan penuh cinta, kini tertukar dengan payung entah milik siapa.

Warnanya berbeda dengan milikku, gambarnya pun tak sama, payung ini bergambar boneka, sedangkan payung kesayanganku bergambar bunga.


Aku terheran, Mengapa bisa payung kesayanganku tertukar, padahal sudah ada namaku.

Namanya juga kutulis besar-besar menggunakan spidol, agar orang tahu bahwa, payung Itu milikku.

Aku bertanya dengan para warga yang biasa bersamaku, Siapa pemilik payung itu sebenarnya, tetapi jawabannya tak ada yang tahu.


Aku tak tahu harus bertanya kepada siapa lagi, payung itu tak ada nama pemiliknya.

Tak berselang lama, pemilik payung yang sebenarnya datang menghampiriku, Iya ternyata adalah warga pinggir desa.

Walaupun payung itu belum diserahkan padaku, Hatiku sudah merasa lega, aku sudah tahu di mana keberadaannya.

Aku tersenyum cerah karena payung kesayangan kini sudah jelas berada di tangan tetangga.

Aku berniat saat membeli makanan ingin singgah untuk mengembalikan payungnya, tetapi aku sudah ke duluan, pemilik payungnya yang ada di tanganku, sudah datang untuk menukarkan payungnya.

Aku pun memperingatkannya agar payungnya diberi nama, agar tak tertukar, agar tak salah mengambil payung milik orang lain, Ia pun mengangguk untuk menyanggupinya. 

Komentar