Sore itu, Ahmad lewat pinggir kamar kosku, iya menyapaku lewat jendela. "Nis, kamu kok sendirian aja si? Putri memangnya sedang pergi ke mana?"
"Putri ada kok, dia sedang mandi, tumben banget mencari, Putri? Kira-kira mau ada perlu apa, nanti biar kusampaikan?" Balasku.
"Enggak ada perlu apa-apa kok, Nis aku cuma tanya aja. Soalnya, kalian biasanya bareng terus, kamu kok tumben lagi sendirian, Putri ternyata ada di kosan juga." Kata, Ahmad.
Aku pun mengiyakan perkataan, Ahmad lalu bertanya balik padanya. "Ngomong-ngomong, kamu sebenarnya ingin kemana tumben banget lewat sini?"
"Aku ingin beli keperluan untuk mandi sama beli makanan, kamu mau nitip apa enggak?" Jawab, Ahmad.
"Aku nitipnya lain kali aja deh, soalnya makanan masih punya beli tadi siang, keperluan mandi juga masih ada. Oh iya, Ahmad nanti malam kalau enggak hujan kata, mas Rizki mau ngajak, kita wi-fi-nan di depan kantornya. Kamu mau ikut apa enggak?" Ucapku.
"Ya sudah enggak apa-apa kalau enggak mau nitip, Putri mau nitip apa enggak kira-kira? Aku mau banget ikut, nanti kalau sudah waktunya berangkat aku ditelepon aja, daripada kelamaan menungguku." Kata, Ahmad di sore itu.
Aku ingin membuka mulut untuk membalas perkataan, Ahmad ternyata, Putri tiba-tiba sudah datang terlebih dahulu dan berkata. "Aku juga enggak nitip, aku sudah beli makanan tadi siang dan belum dinikmati, keperluanku juga masih banyak. Iya nanti kalau enggak batal wi-fi-nannya, ya pasti kamu tak telepon, jangan khawatirlah."
"Ya sudah kalau gitu, aku pergi dulu dan sampai jumpa nanti malam!" Kata, Ahmad sambil berlalu dengan tongkat kesayangannya.
Aku dan Putri mengiyakan lalu mengobrol sambil menunggu waktu maghrib, serta minum teh pahit.
Tanpa terasa sore berganti malam, langit mendung bergulung-gulung, lima menit kemudian hujan sangat deras. Gaweku berdering tanda ada pesan masuk, aku pun memencet keypadnya untuk membuka sms, mas Rizki ternyata pengirimnya.
"Nis, kita wi-fi-nannya lain kali saja, ya soalnya hujan deras banget. Kalau dipaksakan wi-fi-nan sambil hujan-hujanan, takutnya tiba-tiba ada petir yang besar, atau besok sakit gara-gara hujan-hujanan." Tulis, mas Rizki.
"Ya sudah enggak apa-apa, berarti ini bukan rezekinya untuk wi-fi-nan, semoga besok enggak hujan." Balasku.
Mas Rizki mengiyakan ucapanku melalui sms, dia pun memberi semangat padaku untuk belajar di tengah hujan. Aku pun menceritakan pada, Putri sambil menunjukan bukti pesannya, dia langsung paham dengan penjelasanku. Putri langsung mengambil ponsel dan mengetik pesan dikirim ke, Ahmad agar enggak menunggu terlalu lama. Kita pada akhirnya belajar di kamar masing-masing, sambil mencari-cari bahan referensi walaupun menggunakan paket data milik sendiri, bukan pakai wi-fi.
Komentar
Posting Komentar