SALING MEMAAFKAN

Lina namaku, pada tahun 2021, aku mempunyai seorang sahabat yang bernama, Fitri. Awalnya, persahabatan kami berjalan lancar, bagaikan benang yang tak pernah putus. Walaupun kami tinggal di tempat yang berbeda, tetapi kami sering berkomunikasi layaknya saudara.


Namun, gara-gara chattingan kami yang membahas cowok, persahabatan kami malah renggang.


"Lin, kamu sekarang pacarnya siapa?"

"Kamu kok kepo si, Fit enggak ada angin, enggak ada hujan ngomongin soal pacar. Akan tetapi, demi sahabatku yang satu ini, aku kasih tahu deh, kamu biar enggak penasaran terus. Aku pacarnya, Aziz salah satu teman SMA, kita yang dari Lereng Merapi. Emangnya kenapa, Fit?"

"Kamu yakin, Lin? Emangnya kamu pernah jadian sama, Aziz si, Lin?"


Tulis, Fitri di chat whatsapp pada minggu sore yang cerah. Aku pun membalas pesannya dan menceritakan perasaanku yang sebenarnya.


"Ya belum saling mengungkapkan rasa suka si, tetapi aku ada rasa dengan dia, Fit. Aku punya rasa padanya saat pertama kali jumpa di sekolah, pada masa orientasi sekolah saat pertama kali masuk di SMA, Fit."

"Terus dianya ada rasa juga apa enggak, Lin?"

"Ya enggak tahu si, bisa dibilang dia juga punya rasa yang sama, bisa dibilang enggak punya rasa yang sama."


Tulisku di pesan cat sambil tersenyum-senyum sendiri membayangkan perhatian, Aziz padaku.


"Wah, kalau kaya gitu perlu di selidiki, Lin biar kamu tahu yang sebenarnya. Terus biar kamu enggak merasa di PHP tentang cinta, Lin. Emangnya kalau kamu enggak tahu yang sebenarnya, kamu enggak takut kalau di PHP, Lin?"

"Ya takut juga si, Fit aku pasti maunya yang jelas dan enggak di php dong. Akan tetapi, aku bingung gimana cara cari infonya, Fit lagian kosanku sama, Aziz itu tetanggaan."

"Oh gitu, Lin kenapa kamu enggak minta tolong sama teman kamu yang masih sekosan sama, Aziz? Buat menyelidiki bagaimana perasaan, Aziz ke kamu yang sebenarnya?"

"Teman yang masih aku kenal di kosan itu selain, Aziz cuma, Dimas aja si. Sebenarnya aku ingin minta tolong sama, Dimas biar semuanya jelas dan perasaanku enggak menggantung seperti ini. Akan tetapi, aku enggak berani minta tolong buat cari informasinya, Fit."

"Kenapa enggak berani, Lin?"

"Ya enggak enak aja, Fit takut kalau kamu cemburu."


Karena, Dimas memang pacarnya, Fitri yang sudah terjalin 2 Tahun Lamanya.


"Oh gitu, Lin sebenarnya boleh aja si, asal enggak melampaui batas."


Akan tetapi setelah itu, Fitri jarang chattingan sama aku. Bahkan kalau aku chat, jawabnya asal sekenanya. Itu sih kalau pas mau jawab, kalau enggak mau jawab, ya enggak di balas sama sekali.


Aku pernah tanya pada sahabatku itu di taman, pas enggak sengaja bertemu. "Kenapa, Fit kamu sekarang kok acuh dan dingin padaku bagaikan es? Enggak hangat lagi seperti biasanya?"

"Lin, aku lagi enggak kenapa-kenapa kok, aku cuma lagi pingin sendiri aja. Aku nanti kalau sudah enggak ingin sendirian, aku pasti bakal chat-an dan ngobrol denganmu lagi." Jawab, Fitri sambil tersenyum yang dipaksakan.


Namun, sampai sebulan kemudian, Fitri sikapnya masih tetap dingin padaku, ibarat es batu masih belum mencair. Aku mencoba kirim chat, karena ingin ngobrol pun belum ada respon yang menyenangkan, seperti dulu lagi. Pesan itu hanya dibaca, enggak di balas, seperti makanan enak yang enggak dilirik.


Aku enggak menyerah, mencoba kembali mengirim pesan. Aku ingin tahu apa salahku, Fitri menjauh dariku Padahal dulunya adalah sahabat baikku, yang selalu ada untukku. "Apa salahku si, Fit? Kamu abaikan aku seperti ini?"


Masih juga belum di tanggapi, sehingga, aku merasa kesal.  Aku pun berkata dalam hati, aku rasanya benar-benar bingung. "Ih, ini orang kenapa si? Mendiamkan aku yang enggak jelas seperti ini? Kalau aku ada salah, harusnya di jelaskan padaku, bukannya diam seperti ini. Biar aku tahu apa salahku, sudah gitu pesanku enggak di balas. Apa aku tanyakan sama, Dimas aja, ya?"


Setelah itu, aku mulai mengirim pesan kepada, Dimas walaupun belum tentu, pesannya langsung dibalas. "Dim, aku butuh bantuanmu!"

"Bantuan apa, Lin? Kalau aku bisa pasti takbantu kok, kamu jangan khawatir. Kamu tinggal Sebutkan saja, apa yang harus kubantu!" Balas, Dimas.

"Tolong bilangin ke, Fitri untuk membalas pesanku! Soalnya, aku chat, Fitri enggak di balas, aku enggak tahu apa salahnya sama dia. Aku chat cuma ingin sekedar ngobrol aja, enggak ada balasan, enggak ada penjelasan sedang ada kesibukan atau gimana." Jelasku.


"Ok, Lin nanti tak sampaikan," tanggapnya.


Sehari, dua hari, bahkan seminggu, aku sudah menunggu sampai lumutan. Belum ada pesan satu pun dari, Fitri pas jam pelajaran sekolah di kelas, juga dia enggak  menyapa. "Kok, Fitri masih belum jawab pesanku si, apa jangan-jangan, Dimas belum menyampaikannya, ya?" Batinku.


Saking penasarannya, aku kembali menghubungi, Dimas lewat chat. "Hai, Dim...."

"Iya, Lin ada apa?" Tanya, Dimas.

"Maaf ganggu waktunya, aku cuma ingin tanya denganmu." Kataku.


"Iya, Lin enggak apa-apa kok, aku enggak merasa terganggu. Kamu menghubungiku ada apa, ya, Lin? Apa kamu ingin tahu tentang, Aziz lagi?" Balas, Dimas.

"Enggak, Dim aku Cuma mau tanya, apa pesanku belum di sampaikan ke, Fitri?" Tulisku.


"Sudah dari kemarin kok, Lin pas aku lagi telponan, sudah aku sampaikan. Ingin tahu tentang, Aziz juga enggak apa-apa si, Lin. Lagian Aziz selalu ingin tahu tentangmu juga, loh,  Lin." imbuhnya.


"Benar apa enggak itu? Jangan-jangan kamu hanya mengada-ada saja?" sambungku.


"Benar kok, Lin aku enggak bohong," lanjutnya.


"Ya sudah kalau gitu bilang sama, Aziz kalau ingin tahu tentangku disuruh tanya langsung padaku!" perintahku.

"Ok siap, Lin." Balasnya.


Dua bulan telah berlalu, tetapi belum ada kabar dari, Fitri juga. Batinku sambil menikmati coklat panas di sore hari yang mendung. "Apa dia bermaksud melupakanku, ya? Akan tetapi rasanya enggak mungkinlah, daripada aku penasaran, apa aku datangi rumahnya aja, ya?"


Tanpa pikir panjang, aku meluncur ke rumahnya, Fitri di Desa sebelah. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya sampai juga. Aku memencet bel rumahnya, Fitri sambil berharap ada orangnya di dalam.


"Ting-tong! Ting-tong!"


Yang membukakan pintu ibunya, Fitri aku aku bertanya tanpa basa-basi. "Permisi, bu maaf apakah, Fitri ada di rumah?"

"Ada, nak dia sedang mandi, mungkin sebentar lagi selesai." Jelasnya.


"Oh gitu, bu." Ucapku.

"Iya, nak sama-sama, silakan duduk dulu,!" Sambutnya, ramah.


Sekitar setengah jam aku menunggunya, kue brownies dan coklat panas yang disuguhkan juga sudah kunikmati sampai selesai. Namun, dia belum juga keluar untuk menghampiriku, sampai dipanggilkan sama ibunya.


"Fitri, sini keluar! Ini ada temanmu yang datang!"

"Teman? Emangnya siapa, mah?" ucapnya, dengan heran.


"Sebentar, ya, nak tak tanya namanya dulu!" Balas ibunya.


Setelah itu, ibunya menghampiriku, berucap dengan lembut. "Maaf, nak kalau boleh tahu, siapa namu?"

"Maaf, tante bilang saja sahabat dekatnya, Fitri," Sahutku.


"Baik, nak akan, ibu sampaikan."


Ibunya kembali menghampiri,  Fitri di kamar.


"Dia adalah sahabat baikmu, ayolah ditemui dulu! Dia sudah lama menunggumu, kasihan sudah mau menyempatkan waktunya untuk berkunjung kemari." Bujuk ibunya.


Bujukan itupun berhasil, dia keluar dari sarangnya.


"Lina! Kapan kamu datang? Ada apa kamu menghampiriku?" tanyanya bertubi-tubi.


"Apa kamu enggak sadar, Fit? Kamu mengabaikan aku begitu saja, tanpa sebab yang jelas. Aku butuh penjelasan, Fit!"

"Oh gitu, Lin maafkan aku, ya yang sudah bersikap dingin padamu. Sebenarnya aku menghilang darimu, gara-gara aku cemburu kamu dekat dengan, Dimas. Sekarang aku sadar, Lin mendiamkan teman atau sahabat itu enggak baik. Maafkan aku, ya, Lin!"

"Iya Fit, aku sudah memaafkanmu, yang pasti sekarang aku sudah lega, karena aku sudah tahu apa salahku. Maafkan aku juga, karena sudah mendekati, Dimas tanpa seizin kamu gegara ingin tahu segala tentang, Aziz. Maafkan aku, Fit Aku enggak ingin persahabatan, kita berantakan atau berakhir,"

"Iya, Lin enggak apa-apa lagian, Dimas kan juga temanmu. Kita sama-sama salah, kita sebaiknya saling memaafkan."


Aku dan Fitri pun akhirnya kembali berdamai Dan saling memaafkan, kita pun kembali bersahabat seperti dulu. Fitri pun memelukku untuk membuktikan bahwa dirinya sungguh-sungguh mau berrteman denganku lagy. Pada saat liburh di hari minggu, kita berempat wisata bareng di pantai. Kita memang saling melengkapi satu sama lain, di kala susah dan senang, atau dalam suka dan duka.

Selesai


Agustus 2021

Komentar