Wandi namaku, pada pagi yang cerah aku pergi ke sekolah, di sana aku bertemu dengan salah satu teman sekelasku, Rahma namanya. Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas, karena ada temanku satu lagi yang belum berangkat atau belum ada di kelas, Maya namanya.
"Kamu mencari apa si, Wan? Kok dari tadi clingak-clinguk, kaya kucing sedang mencari ikan?" Tanya, Rahma.
"Maya ke mana si, kok dari tadi belum kelihatan batang hidungnya? Padahal, ini sudah siang banget sebentar lagi jam pelajaran dimulai, dia apa enggak takut kalau terlambat dan dapat hukuman dari guru?" Balasku.
"Maya si tadi masih berbaring di kamar kos, saat diriku mau berangkat. Aku tadinya ingin mengajak berangkat bareng, tetapi tak tinggal pakai sepatu orangnya belum keluar juga. Aku akhirnya berangkat sendiri, dia siapa tahu menyusul, tetapi sampai sekarang ternyata belum datang." Jelas, Rahma.
"Akan tetapi, dia keadaannya baik-baik saja kan?" Tanyaku.
"Sepertinya si baik-baik saja, orang tadi malam juga teleponan sampai larut." Jawab, Rahma.
"Itu anak belum berubah, masih saja suka teleponan sampai larut malam padahal, kita sudah kelas 3 SMP. Sudah waktunya sering belajar, untuk mempersiapkan diri karena sebentar lagi, kita akan menghadapi ujian. Ya sudah kalau gitu, aku nanti akan telepon buat mempertanyakan kenapa enggak masuk, pas waktu jam istirahat tentunya." Crocosku.
"Kamu emangnya punya nomor cowoknya, kok mau menghubungi, Maya?" Tanya, Rahma.
"Aku kan mau menghubungi, Maya buat bertanya tentang keadaannya, terus mengapa kok hari ini enggak berangkat ke sekolah. Lalu apa hubungannya dengan nomor telepon cowoknya?" Sambungku.
"Maya itu dari kemarin lagi tukeran ponsel sama cowoknya, ya biasalah kamu tahu sendiri kalau di kosan, kita itu sudah hal yang lumrah. Kalau ada yang tukaran ponsel, terus kalau ada yang menghubungi nomornya diangkat begitu saja, digunakan untuk menghubungi temannya sendiri walaupun itu ponsel milik kekasihnya. Jadi, kamu harus menghubungi nomor cowoknya itu kalau ingin tahu tentang, Maya atau telepon ke nomornya langsung bilang sama cowoknya ingin bicara penting." Jelas, rahma.
Aku mendengar penjelasan, Rahma itu malah berpikir kemana-mana, aku memang sering dengar kalau di kosan ada yang pacaran itu sering tukaran ponsel. Walaupun belum pernah menyaksikannya secara langsung kali ini baru dengar dari, Rahma aku merasa ngeri sendiri.
"Kenapa kok malah melamun si, Wan? Apa jangan-jangan, kamu juga pengen tukaran ponsel?" Ledek, Rahma.
"Ya jangan sampailah, diriku pacaran sama teman sekos terus sering tukaran ponsel. Aku itu tadi lagi membayangkan, kalau tukaran ponsel kayak gitu, terus kalau keluarganya menghubungi gimana, ya?" Kataku.
"Ya kamu tanyakan langsung aja sama yang sudah pernah melaksanakan, aku sendiri soalnya belum pernah, makanya enggak tahu." Imbuh, Rahma.
Setelah itu, pak Ridwan datang sudah terdengar dari suara sepatunya, aku padahal masih ingin menyambungi ucapan teman sekelasku itu. Aku akhirnya terdiam, batal mengucapkan kata-kata, pintu dibuka dengan lumayan keras, pak Ridwan pun duduk di kursi.
Sebelum pelajaran dimulai, pak Ridwan bertanya mengapa, Maya enggak masuk sekolah. Aku dan Rahma hanya menggeleng enggak bisa menjawab apa-apa, karena kenyataanya memang enggak tahu. Pelajaran pada pagi itu membahas pantun, aku dan teman-teman sekelas disuruh membuat 10 pantun dengan tema bebas.
Waktu menunjukkan pukul 09.00, jam istirahat pun berbunyi, pak Ridwan bergegas meninggalkan kelas. Rahma dan kawan-kawan pergi ke kantin atau kedepan sekolah untuk membeli berbagai jajanan, aku masih bertapa di dalam kelas, walaupun sebenarnya ditawari untuk keluar bersama-sama. "Wan keluar yuk, beli jajan bareng!"
"Enggaklah, aku nitip aja." Jawabku sambil menyerahkan uang pada, Rahma.
"Kamu mau nitip apa emangnya?" Tanya, Rahma.
"Aku titik bakso kuah sama sempolan kalau ada, kalau enggak ada, ya nitip cilok atau siome." Jawabku lagi.
Rahma mengangguk mengiyakan lalu meninggalkanku di kelas seorang diri, aku pun mengambil ponsel dalam saku untuk menghubungi Maya. Akan tetapi, telepon itu enggak diangkat sampai, Rahma datang menyerahkan pesanan makananku tetap saja enggak ada respons. Aku menikmati bakso kuah dan sempolan di depan kelas bersama teman-teman yang lain, aku pun beranggapan mungkin yang dibilang teman sekelasku itu benar bahwa, Maya sedang tukaran ponsel dengan kekasihnya.
Selesai
Komentar
Posting Komentar