KISAH CINTA, Anisa 27

Nisa langsung mengangkat telepon tersebut, ia enggak ingin mamahnya lama menunggu, ia bertanya dengan hati-hati. "Halo, mah ada apa telpon?"

"Kamu hari ini pulang jam berapa, nak?" Tanya, bu Adam.

"Aku sudah pulang dari tadi kok, ini malah baru selesai mandi, mah." Jawab, Nisa.

"Kamu emangnya enggak ada ekskul, kok sudah pulang itu?" Tanya, bu Adam lagi.

"Aku ekskul-nya besok tentang sastra, kalau hari ini buat teman-teman yang ambil tentang olahraga bola. Jadi, aku sama teman-teman yang enggak ikut olahraga bola, sudah pulang dari tadi. Aku malah sudah dudukan jugaƂ  di depan rumah sama, Lisa sambil menikmati siome yang enak banget, rasanya benar benar bikin ketagihan." Jawab, Nisa lagi.

"Ya sudah kalau gitu, mamah tolong diangkatkan jemuran barangkali sudah kering! Takutnya kalau, mamah belum pulang terus tiba-tiba hujan, sayang jemurannya basah lagi." Kata, bu Adam.

"Aku tadi sebenarnya sudah berniat mau angkat jemuran, tetapi gara-gara dengar hp-ku ada telepon jadi, aku kembali ke kamar. Mamah ternyata yang telepon, aku pikir butuh bantuan apa ternyata soal jemuran, mamah tenang aja deh pakaiannya enggak akan kehujanan." Respons, Nisa.


Bu Adam mengangguk mengiyakan lalu menutup telepon, ia merasa lega jemurannya di rumah sudah ada yang mengatasi. Bu adam dan suaminya masih sibuk jualan, walaupun sudah pukul 17.00 warungnya masih ramai banyak pelanggan yang datang. Ada yang beli sosis bakar dan bakso bakar, ada yang beli chicken, ada yang beli ayam geprek dan tau crispy.


Sementara di rumah, Nisa langsung berlari ke tempat jemuran, ia memilih milih pakaian satu persatu. Ia sengaja enggak membawa hp, ia takut kalau ada telepon tangannya repot memilih jemuran, susah untuk mengangkatnya.


"Biarin aja itu hp tak tinggal di kamar, kalau ada telepon kan bisa alasan sedang sibuk angkat jemuran." Batin, Nisa sembari melanjutkan aktivitasnya.


Nisa merasa senang semua pakaiannya kering, enggak ada yang masih basah, ia langsung membawanya ke rumah, untuk di setrika dan dilipat.


"Aku setrika ajalah biar rapi, biar enggak kusut gitu, terus kalau ada yang perlu dihanger biar terlihat lebih rapi. Aku lagi pula sedang enggak ada pekerjaan, enggak tahu mau ngapain. Kalau baca novel bisa besok lagi, kan masih banyak waktu untuk baca, kalau lipat-lipat pakaian dan menyetrika besok belum tentu ada cucian yang kering lagi." Batin, Nisa sambil mengambil setrikaan di lemari.


Sementara itu, Lisa sampai di rumah langsung disambut oleh ibunya, ia diambilkan air minum dan mendapat senyuman yang menenangkan hati. Lisa mau tak mau menerima minuman itu, walau sebenarnya tadi di tempat sahabatnya sudah minum segelas penuh, iya tak mau mengecewakan perasaan ibunya.


"Habis minum terus mandi, ya, nak! Supaya tubuhnya terasa segar, hawanya enggak panas, dan bisa aktivitas dengan nyaman." Kata, bu Agus.

"Aku pikir disuruh pulang itu, buat bantuin bikin telur asin, ternyata mau disuruh mandi. Malah telurnya sudah dimasukkan ke kardus semua, rasa-rasanya sudah siap untuk diantar ke pembeli, seperti orang yang sudah siap untuk berwisata." Crocos, Lisa.

"Kalau bikin telur asin nunggu dirimu ada di rumah itu tahun depan baru jadi, yang ada pelanggannya bakalan kabur semua, mereka mencari telur asin yang sudah siap untuk dibeli. Kamu memang mau tak suruh mengantar telur asin pada para pembeli setelah mandi, ibu sudah tuliskan alamat-alamatnyaƂ  di kertas. Soalnya ayahmu sedang ke bengkel ganti ban motor sekalian ke pasar, barangkali pulangnya terlalu sore atau mendekati magrib jadi, kamu yang mengantar pesanan-pesanan telurnya, ya." Kata, bu Agus lagi.


Lisa mengangguk mengiyakan lalu mengambil handuk bergegas ke kamar mandi, ia mandi dengan sepuas-puasnya dan keramas. Lisa selesai mandi dan shalat asyar waktu menunjukkan pukul 17.00, ia menghampiri ibunya dan berkata. "Jadi, mengantarkan pesanan telur asin ke pelanggan kan, bu?"

"Ya jadi, dong orang sudah di pesan dari tadi siang, yang pertama diantar orang-orang yang,  satu Desa,  sama, kita saja dulu. Biar nanti kalau dengan azan maghrib, pulangnya enggak tergesa-gesa, untuk pembeli yang dari luar desa diantarnya nanti saja." Jelas, bu Agus.

"Kalau gitu, aku berangkat dulu, ya, bu!" Pamit, Lisa.

"Hati-hati, ya, nak!" Kata, bu Agus.


Lisa mengangguk mengiyakan sambil mengambil sandal kesayangan, ia mengantarkan pesanan satu persatu ke rumah pelanggan, dengan hati riang.


"Permisi, bu izin mengantarkan pesanan telur asin dua kardus, Maaf baru sampai telurnya, karena dari tadi belum ada yang mengantarkan. Apakah benar ini dengan ibu Mai Munah?" Kata, Lisa.

"Iya betul, nak ini dengan diriku sendiri, Terima kasih sudah diantarkan pesananku Oh iya, bayarnya Sudah tadi, ya sama ibumu." Jawabnya.

"Iya terima kasih kembali." Balas, Lisa.


Setelah itu, Lisa pamit untuk melanjutkan mengantar ke pelanggan yang lainnya 10 menit sebelum maghrib, ia sudah selesai mengantar pesanan dan pulang ke rumah. Pak Agus juga sudah ada di rumah, sedang menikmati secangkir kopi dan pisang goreng yang masih hangat di ruang keluarga, bersama sang istri.


"Ayah tadi beli apa di pasar si? Kok tumben banget pergi ke pasar? Ibu biasanya kan yang ke pasar?" Tanya, Lisa.

"Ayah tadi beli kardus buat tempat telur asin para pembeli, ibu kan sedang repot tadi di rumah, makanya enggak ke pasar." Jawab, pak Agus.

"Ayah enggak beli makanan sekalian tadi?" Tanya, Lisa lagi.

"Ayah tadi belinya makanan mentah, kalau ingin makan jajan, itu ada pisang goreng di meja. Kamu si tadi enggak nitip jajanan, Ayah, ya enggak Beli apa-apa, orang niatnya cuma ingin belanja." Jawab, pak Agus lagi.


Lisa hanya mengangguk lalu pergi ke kamar, menunggu waktu maghrib Yang sebentar lagi tiba. Ia sudah membayangkan nanti malam saat belajar, ingin membeli martabak atau roti bakar, untuk teman belajar.


Sementara itu, Adnan yang bingung enggak ada teman mengobrol, memutuskan untuk memancing.


"Aku mau cari ikan sajalah dari pada bingung mau ngapain, Toni dichat dari tadi juga belum respons. Itu anak kira-kira ke mana, ya? Apa jangan-jangan lagi pacaran, terus enggak mau diganggu gitu." Batin, Adnan.


Ia bergegas mengambil alat pancing kesayangannya, ternyata sudah rusak dan sudah waktunya ganti yang baru. Adnan pun langsung pergi ke warung, ia berharap bisa dapat alat pancing yang awet. Sesampainya di warung, pas kebetulan sepi jadi, enggak ngantre langsung dilayani penjualnya.


"Mau beli apa, mas?"

"Aku mau beli alat untuk memancing, bu." Jawab, Adnan.

"Mas alat pancingnya sedang kosong, mas coba beli di warung sebelah! Di sana barangkali ada alat pancing yang, Mas inginkan dan bisa memilih ukurannya besar atau kecil!" Kata pemilik warung.


Adnan mengiyakan dan setuju untuk membeli di warung sebelah, Ia pun berjalan perlahan menuju ke tempatnya, dan berharap warungnya, ,  buka. 

Komentar