MENYEBRANGI SUNGAI

Aku saat memandangi jembatan yang menghubungkan Desaku dan Desa sebelah, membuatku teringat dengan masa kecilku.

Aku dulu ke sekolah, pulang  pergi harus menyebrangi sungai, sepatunya harus dilepas, biar tak basah kuyup.

Setelah itu, masih harus melewati beberapa desa dengan jalan kaki untuk menuju ke sekolah, aku beruntungnya tak pernah terlambat dan tak pernah dimarahi guru.


Sungai besar yang berada di sebelah Desaku sebagai saksi bisu, dalam perjalanan setiap warga yang ingin berjumpa dengan kerabatnya di Desa lain, yang jaraknya jauh.

Sungai besar itu selalu menyaksikan anak-anak lewat padanya, untuk pergi jauh atau untuk menuntut ilmu.

Kini sudah tak ada lagi yang menyebrangi sungai, jembatan yang dibangun di atas sungai, membuat perjalanan semakin mudah dan mempercepat waktu.


Kini sudah tak ada lagi, warga yang jalan kaki untuk berkunjung di Desa sebelah, sekarang kendaraan sudah bertebaran di mana-mana, jembatannya pun dapat dilalui kendaraan setiap waktu.

Anak-anak yang sekolah pun sekarang tak ada yang menyebrangi sungai lagi, aku pun turut serta membayangkannya, sambil menatap sungai yang jernih menurutku.

Sungai di sebelah Desaku itu, sampai sekarang berada di sana, tak berpindah sedikitpun itu.


Para pedagang yang dulu jika ingin berjualan di Desa sebelah, harus menyebrangi sungai walaupun harus melewati batu-batu yang besar nan kokoh.

Kini sekarang sudah tak perlu susah-susah menyebrangi sungai, dengan berjalan kaki melewati jembatan yang mulus, atau menggunakan kendaraan mobil atau motor, bisa cepat sampai di tujuan tanpa kurang suatu apapun itu.

Sungai besar di sebelah Desaku selalu ada sampai sekarang, iya selalu tersenyum menyapa orang-orang yang dulu pernah melewatinya, airnya yang jernih nan sejuk. 

Komentar