Pada hari Minggu siang yang terasa sangat panas, Bagaikan dipanggang dalam api, Safitri mendengar penjual bakso yang lewat. Ia langsung bergegas ke kamar mengambil uang, niatnya ingin beli bakso dan siapa tahu ada es tebu juga, tetapi hp-nya berdering sangat nyaring. Safitri mengangkatnya sambil berjalan keluar berharap penjual baksonya belum pergi jauh. "Halo, aku mau beli bakso dulu, ya! Kamu diam aja di dalam saku!"
Safitri bersyukur penjual baksonya belum pergi, masih melayani pelanggan yang beli, Ia pun menunggu dengan sabar agar bisa menikmati semangkuk bakso. Setelah itu, penjualnya menghampiri dan melayani, Safitri dengan ramah yang tidak dibuat-buat. "Fit, kamu mau beli berapa?"
"Aku beli satu porsi, Pakai mie dan sambal aja. Terus es tebunya satu bungkus, wadahnya yang kap, jangan yang plastik." Jawab, Safitri.
"Berarti tidak pakai bakso, ya cuma mie sama sambal aja?" Kata penjualnya.
"Maksudku bakso, mie, dan sambal aja. Masa tidak pakai bakso, yang benar aja, aku nangis nanti, loh kalau tidak ada baksonya." Jawab, Safitri lagi.
"Tadi tidak lengkap Bilangnya si, aku pikir minta mie dan sambal doang, baksonya tidak mau. Makanya kalau bilang itu yang lengkap, ini pakai kuah apa tidak?" Tanya penjual baksonya sambil membungkus pesanan, Safitri dengan cekatan.
"Aku pakai kuah sedikit aja." Kata, Safitri.
Penjualnya pun mengangguk mengiyakan, terus memberi kuah sesuai permintaan, Safitri menerima es tebu dan baksonya dengan tersenyum lalu membayar dengan uang pas.
Safitri sesampainya di rumah langsung mengambil mangkuk dan menuang bakso dengan hati-hati, agar tidak tumpah dan membasahi lantai. Sementara di Desa kayu jengkol, Budi yang merasa diabaikan, ia mematikan telepon lalu kembali menelpon. Safitri asyik makan bakso, Iya sengaja tidak mengangkat telepon, agar bisa makan dengan nyaman dan leluasa. Safitri selesai makan membuka ponsel, Iya kembali menghubungi, Budi yang berada di desa kayu jengkol.
"Beli bakso aja lama banget si! Sudah gitu masa si di Desa pinggir sungai Bakso ada mie-nya, tempatku bakso tidak ada mie-nya." Protes, Budi.
"Ya wajar kalau lama, soalnya ngantre banyak yang beli. Aku rasa tidak mungkin kalau beli bakso tidak ada mie-nya kecuali, kita request sama penjualnya. Hanya ingin pakai bakso dan kuah aja, apa hanya ingin pakai bakso dan sambal aja, tidak pakai mie baru itu tidak ada." Respons, Safitri.
"Di tempatku itu tidak perlu bilang bakso tanpa mie, sudah otomatis hanya bakso tidak ada mie-nya." Sanggah, budi.
Safitri pada akhirnya mengalah karena tidak ingin debat dengan, budi yang pasti tidak pernah ada selesainya. Ia berjanji dalam hati akan berusaha mencari tahu atau kalau tidak, pasti akan mendengar ucapan yang sebenarnya dari, budi sendiri suatu saat. Seminggu telah berlalu debat tentang bakso ada mie-nya atau tidak, Budi pada siang itu membeli bakso yang ada di Desanya.
"Aku mau beli bakso, kamu diam dulu, ya!" Kata, Budi.
"Ya sudah kalau gitu, aku juga mau ke kamar mandi sebentar. Hp-nya tidak tak bawa, tak taruh di meja." Balas, Safitri.
Namun, Safitri saat ingin berjalan menuju kamar mandi, ia tidak sengaja mendengar ucapan, Budi dari sebrang telepon. "Pak, aku bakso satu porsi, tidak pakai mie."
"Dibungkus atau dimakan di sini, mas?"
"Dibungkus aja, pak."
Safitri perasaannya sangat kecewa, ia ternyata dibodohi sama kekasihnya sendiri.
"Ya Allah, aku ternyata tertipu lagi, dia bilangnya ingin berubah, tetapi tidak ada nyatanya. Aku harus bisa mengumpulkan bukti-bukti semua kebohongannya, agar bisa lepas dari jerat cintanya selama ini." Tekad, Safitri dalam hati.
Setelah dari kamar mandi, Safitri mematikan ponsel, ia bilang baterainya lowbat dan harus segera dicas. Budi yang rasa ingin teleponannya masih membara, mengiyakan dengan tidak ikhlas.
Selesai
Komentar
Posting Komentar